Demi Kelestarian Alam, Rekomendasikan Penanganan ke BKSDA

Kegigihan Mapena Naik Turun Gunung Hitung Sampah

Permasalahan sampah bukan hanya ada di tengah kota. Di area pegunungan, sampah juga menjadi momok tersendiri yang sulit diberantas. Secara khusus, Mahasiswa Pencinta Alam Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Jember (Mapena FEB Unej) melakukan identifikasi agar alam tetap lestari.

PEDULI: Anggota Mapena memungut sampah di sekitar Gunung Argopuro.

RADAR JEMBER.ID – Rasa lelah usai mendaki gunung Argopuro belum sepenuhnya hilang. Itu dirasakan Muhammad Taufiq, Anugerah Mardiansyah, dan Agil Febrian saat ditemui di sekretariat Mapena FEB Unej, Lingkungan Tegalboto, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari. Mereka naik turun Argopuro dengan membawa misi tertentu, yakni menghitung sampah.

Meski kondisi tubuh ketiganya terlihat letih, mereka tetap bersemangat untuk menyelesaikan tugasnya. Membuat rekomendasi hasil identifikasi sampah di pegunungan. “Kemarin baru datang, sekarang masih menyusun hasilnya,” kata Taufik, mahasiswa semester akhir di FEB Unej tersebut.

Mendaki gunung, menurutnya, bisa dilakukan oleh banyak orang. Akan tetapi, tidak semua orang menguasai teknik pendakian. Tidak semua orang pula bisa sadar akan pentingnya kebersihan gunung. Untuk itulah, pendakiannya yang dilakukan selama lima hari di Gunung Argopuro diselipkan misi mengidentifikasi sampah.

Taufik menjelaskan, urusan sampah ternyata bukan hanya terjadi di tengah kota saja. Akan tetapi, di gunung juga demikian. Menurutnya, banyaknya sampah yang ada di gunung karena para pengunjung tidak sadar akan kebersihan dan masih membuang sampah seenaknya.

“Kebiasaan membuang sampah juga banyak dilakukan oleh orang yang mendaki gunung. Nah, kesadaran warga itu yang kami anggap penting untuk ditingkatkan,” ucapnya.

Dalam identifikasi yang dilakukan, Taufik menyebut, dia melakukan pendakian bersama sepuluh mahasiswa lain. Identifikasi sampah dilakukan sejak menaiki area pegunungan Argopuro. “Naik turun gunung, sampah-sampah yang kami temukan dipungut dan dikumpulkan,” paparnya.

Sampah terbanyak yang ditemukan berupa plastik. Ada plastik mi instan, roti, serta bungkus makanan yang terbuat dari plastik lainnya. “Sampah-sampah yang sifatnya bisa hancur tidak kami ambil,” paparnya.

Selama naik ke gunung Argopuro, dirinya mengaku, setidaknya ada empat sak sampah yang dikumpulkan. Sementara itu, dalam perjalanan turun dari gunung, ada dua sak sampah yang dikumpulkan. “Jadi, semua sampah ada sekitar enam sak. Itu hanya plastik saja,” jelasnya.

Berkaitan dengan titik-titik pembuangan sampah, Taufik menyebut, paling banyak di tempat peristirahatan. Selama berada di Argopuro, diketahui ada lebih dari 20 lokasi yang sampahnya menumpuk.

Sementara itu, menurut Anugerah, hasil identifikasi sampah itu akan direkomendasikan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). “Akan ada beberapa rekomendasi agar masyarakat tidak seenaknya membuang sampah di pegunungan,” jelasnya.

Begitu disinggung apa saja di antara rekomendasi itu, Anugerah menjelaskan, bisa berupa rekomendasi agar ada papan larangan pembuangan sampah, imbauan agar masyarakat yang naik gunung tidak banyak membawa bahan makanan yang dibungkus plastik, serta rekomendasi lain. (*)

IKLAN

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Istimewa

Editor : Mahrus Sholih