Tentukan Waktu Salat Pakai Alat Manual

Benda Bersejarah Peninggalan Masjid Jamik Lama

PENINGGALAN SEJARAH: Siswa SD AL Amin melihat tanda waktu salat yang berada di Masjid Jamik lama. Tanda waktu salat itulah yang diyakini jadi satu-satunya sisa bangunan pertama Masjid Jamik yang dibangun 1894 sebelum direnovasi tahun 1936.

RADARJEMBER.ID – Menentukan kapan waktu salat ataupun azan sudah pasti melihat jam. Tapi coba bayangkan, sebelum ditemukan alat penanda waktu tersebut. Bagaimana cara orang zaman dulu menentukan waktu salat. Padahal, Islam sudah ada sebelum umat manusia menemukan jam.

Jika ingin tahu, tengoklah Masjid Jamik Al Baitul Amien lama. Di sudut halaman masjid yang kini dijadikan sekolah Al Amin itu ada bangunan seperti fondasi tiang cor berwarna hijau, tapi tingginya hanya satu meter. Letaknya berada di dekat parkiran motor, di halaman dalam Masjid.

Di atas bangunan mirip tiang fondasi tersebut, ada logam yang ditanamkan ke batu marmer. Batu marmer tersebut tidak mulus, juga tidak licin. Seperti ada goresan-goresan melingkar. Ternyata, inilah alat untuk menentukan waktu salat sebelum ada jam. Benda bersejarah tersebut kondisinya cukup baik. Tapi untuk goresan di batu marmer mulai sedikit pudar.

Bendahara Masjid Al Baitul Amin Saifullah Nuri mengatakan, Masjid Jamik lama yang lokasinya tepat di seberang jalan Masjid Jamik baru adalah bangunan tua. Pada saat penjajahan Belanda, penjajah menempatkan pengadilan, penjara, kantor pemerintah, termasuk Masjid tepat di jantung kota, yaitu di sekitaran alun-alun.

Menurutnya, Masjid Jamik lama ini awal kali dibangun pada 1894 dan berbahan kayu tidak seperti sekarang. “Raden Panji Kusumo Negoro pada waktu itu menjabat Patih Jember,” imbuhnya.

Pada saat Bupati Jember dijabat Notohadinegoro, sekitar tahun 1932 ada maksud untuk merovasi Masjid Jamik lama. Lantaran jumlah jamaah selalu meluber, arah kiblat melenceng 24 derajat, dan kayu yang digunakan juga sudah lapuk. Namun, rencana renovasi Masjid Jamik itu baru terealisasi pada Tahun 1936.

Dia mengaku, setelah direnovasi tidak ada secuil peninggalan bangunan apapun dari Masjid Jamik yang dibangun 1894. Namun, kata dia, ada keyakinan hanya satu yang tertinggal. “Mungkin yang tertinggal hanya satu, yaitu penanda waktu salat,” ujarnya.

Sebab, kata dia, pada renovasi masjid tahun 1936, teknologi jam sudah ada dan banyak orang yang memiliki jam. Bisa jadi, dia menduga, benda itu merupakan peninggalan Masjid Jamik saat pertama kali dibangun. Dia menuturkan, cara kerja alat penanda salat tersebut hanya bisa dipakai untuk penentuan waktu zuhur dan asar saja. “Kalau logam yang menancap itu tidak ada bayangan sekali berarti tidak boleh azan. Azan zuhur dilakukan setelah ada banyangan sedikit setelah tidak ada banyangan,” katanya.

Sedangkan untuk penentuan asar, panjang bayangan itu jatuh pada lingkaran di sekitar logam yang menancap tersebut. Sedangkan, menentukan waktu subuh tak menggunakan alat itu, tapi melihat langit. “Sementara magrib, seingat saya melihat kelelawar. Kalau kelelawar keluar berarti magrib,” tuturnya.

IKLAN

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih