Kerja Susah, Gaji Murah, Pengangguran Melimpah

Soal Ketenagakerjaan Tak Pernah Selesai

Lapangan kerja yang sempit membuat pengangguran di Jember cukup tinggi, yakni mencapai 52 ribu orang. Sementara itu, sarjana yang mencari pekerjaan terus bertambah. Bahkan, beberapa pekerja digaji dengan bayaran murah.

RADAR JEMBER.ID – Sejak Januari hingga Juni 2019, ada sekitar 3.979 mahasiswa yang lulus dari perguruan tinggi di Jember. Jumlah lebih sedikit, karena tak semua perguruan tinggi dihitung. Mereka hanya lulusan dari kampus Universitas Jember, IAIN Jember, Polije, Unmuh Jember, dan STIE Mandala.

Belum termasuk kampus kebidanan, stikes, Staiqod, IKIP PGRI, dan lainnya. Ke mana para lulusan sarjana tersebut. Kalau mengharap lapangan pekerjaan menampung mereka semua, peluang kerja begitu terbatas.

Badan Pusat Statistik (BPS) Jember mencatat, jumlah pengangguran Jember mencapai 52 ribu jiwa. Hal itu disampaikan oleh Kepala BPS Jember Arif Joko Sutejo. Dia menjelaskan keadaan ketenagakerjaan Jember tahun 2018 lalu. Jumlah angkatan kerja mencapai 1,276 juta.

Jumlah tersebut bertambah 4570 orang dibanding keadaan tahun 2017. Indikator utama ketenagakerjaan yang sering digunakan untuk melihat keberhasilan mengatasi pengangguran adalah tingkat pengangguran terbuka (TPT). “Tingkat pengangguran terbuka merupakan perbandingan antara jumlah penganggur terhadap jumlah angkatan kerja,” jelasnya.

Sementara itu, warga yang bekerja ada sekitar 1,22 juta jiwa. Jumlah 52 ribu itu sudah lebih sedikit dibandingkan dengan 2017 yang sebesar 66 ribu orang dan tahun 2016 sebanyak 56 ribu orang. TPT di Kabupaten Jember 2018 sebesar 4,09 persen atau turun sebesar 1,07 poin dibandingkan keadaan tahun 2017 dengan TPT sebesar 5,16 persen.

Salah satu keberhasilan menurunkan TPT, kata dia, Pemkab Jember mengeluarkan Perda Nomor 2 Tahun 2018 tentang Pemberdayaan dan Perlindungan Tenaga Kerja Lokal untuk memberikan kesempatan bagi penduduk setempat agar diutamakan dalam penerimaan tenaga kerja.

Sayangnya, kata dia, kebijakan memakai tenaga lokal tidak seratus persen dilakukan ke perusahaan yang baru didirikan di Jember. “Seperti tenaga manajer dan setingkatnya, tidak orang Jember,” ujarnya.

Dia menyebutkan, turunnya tingkat pengangguran tersebut juga tidak bisa ditinjau dari pertumbuhan ekonomi di Jember yang dilihat dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Sebab, penyumbang pertumbuhan ekonomi justru milik orang luar Jember. Artinya, kata dia, investor di Jember itu dari luar Jember.

Arif mengatakan, turunnya pengangguran di Jember juga dipengaruhi oleh faktor perkembangan jual beli daring (online). Sebab, kata dia, ada 798,18 ribu orang atau 64,41 persen orang yang bekerja di sektor informal.

Sementara itu, penduduk yang bekerja dengan pendidikan SD sebesar 62,09 persen dari jumlah total penduduk yang bekerja sebanyak 1,22 juta. Sementara itu, sumbangsih penduduk dari perguruan tinggi masih rendah. “Diploma 1,40 persen, dan lulusan universitas atau sarjana 6,04 persen,” tuturnya.

Pengangguran lulusan perguruan tinggi diploma menyumbang 2,96 persen dari 52 ribu orang  pengangguran tahun 2018. Sedangkan lulusan universitas 3,80 persen. Bisa diartikan, pengangguran lulusan kampus, baik diploma maupun sarjana, sebesar 6,75 persen atau 770 orang lulusan kampus jadi pengangguran di tahun 2018. Sementara yang paling besar penyumbang pengangguran adalah lulusan SD, yakni sebanyak 191 ribu orang atau 27,21 persen.

Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jember Bambang Edi Santoso menjelaskan, salah satu upaya mengurangi angka pengangguran adalah mendorong perusahaan baru yang masuk ke Jember menggunakan tenaga kerja lokal.

“Kecuali di Jember tidak ada tenaga tertentu, boleh ambil tenaga dari luar. Semisal mau ada ngebor minyak, di Jember tidak punya ahli pengeboran minyak, ya cari dari luar,” jelasnya. Selain itu, pihaknya juga menggelar job fair setahun sekali.

Dia menambahkan, semisal ada kampus menggelar job fair, Disnakertrans juga berupaya mencari informasi lowongan yang tersedia di perusahaan. “Semua Disnaker di daerah itu kompak. Jadi, kalau ada acara job fair, kontak Disnaker lainnya, apakah ada perusahaan yang formasinya kosong,” imbuhnya.

Itu semua agar pengangguran bisa turun tidak hanya dengan mengandalkan kerja di perusahaan. Tapi juga memaksimalkan peran BLK Jatim yang ada di Jember. Yakni Agar melatih orang-orang Jember dengan keahlian yang dibutuhkan masyarakat saat ini. (*)

IKLAN

Reporter : Bagus Supriadi

Fotografer : Bagus Supriadi

Editor : Bagus Supriadi