Bioteknologi Solusi Pertanian Sehat

Fariz Kustiawan Alfarisy, SP.

SUSTAINABLE Development Goals (SDGs) 2030 atau pembangunan berkelanjutan merupakan upaya yang dicetuskan untuk memenuhi kebutuhan dan tantangan di masa mendatang. Indonesia turut andil dalam program tersebut. World Health Organization (WHO) telah melakukan pemetaan di seluruh dunia bahwa Indonesia di tahun 2025 diprediksi akan memasuki krisis dan kompetisi pangan. Oleh sebab itu mengantisipasi hal tersebut terjadi, Indonesia menjadi negara yang berpatisipasi dalam mengimplementasikan program SDGs 2030 dengan 17 pilar penting.

Salah satu dari 17 pilar yang tertuang dalam SDGs 2030 yaitu pilar ke-12 tentang produksi dan konsumsi berkelanjutan, pangan menjadi isu hangat yang sedang diperbincangkan dunia. Tidak hanya bisa memproduksi pangan dengan kuantitas yang besar namun tantangan dalam masa kini adalah bagaimana menghasilkan pangan berkualitas, sehat, dan ramah lingkungan. Sampai saat ini di beberapa wilayah di Indonesia tanah kian semakin tidak subur, pasalnya terus mengalami proses penurunan kesuburan tanah yang secara ilmiah dikatakan sebagai degradasi lahan. Apabila terus menerus mengalami degradasi akan menjadi lahan kritis. Menurut Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian terjadinya degradasi lahan di Indonesia disebabkan oleh pupuk dan pestisida secara besar-besaran.

Pertanian intensif identik dengan kegiatan pemupukan dan aplikasi pestisida sintetis yang menyebabkan pencemaran tidak hanya pada tanah melainkan pada air dan mahluk hidup. Ironisnya mayoritas petani di Indonesia tidak pernah bersedia mengikuti anjuran pemakaian. Parahnya digunakan tanpa memperhitungkan dosis dan konsentrasinya dengan harapan menghasilkan panen yang menguntungkan. Sungguh menyedihkan petani di Indonesia tidak tahu akibat adanya pemupukan dan penggunaan pestisida sintetis yang diaplikasikan secara besar-besaran dapat menyebabkan masalah tidak hanya pada mahluk hidup namun tidak seimbanganya agroekosistem.

Contoh kasus nyata yang amat sangat memilukan di daerah Kabupaten Jember bahwa permasalahan pencemaran lingkungan terjadi di bagian tengah Daerah Aliran Sungai (DAS) Bedadung. Mengutip hasil penelitian dari Munandar bahwa komponen biotik dan abiotik di perairan Bedadung telah tercemar zat kimia berbahaya. Uji sampel ikan sapu-sapu dan air di perairan Sungai Bedadung tercemar residu pestisida dan logam berat seperti Pb dan Cd. Apabila logam berat Cd dan Pb terlarut dalam air maka akan membahayakan kesehatan tubuh. Hasil identifikasi residu dan logam berat tersebut merupakan akibat dari penggunaan pupuk dan pestisida sintetis secara besar-besaran yang terbawa oleh air dari daerah hulu ke hilir DAS Bedadung.

Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan rutin melakukan pemantauan kualitas air di beberapa titik sungai, sayangnya dalam hal ini tidak dapat mengembalikan kualitas air pada kondisi semula. Karenanya diperlukan perubahan perilaku pada tingkat petani di daerah hulu agar tidak mencemari lingkungan yang dapat menyebabkan malapetaka dengan mengubah kebiasaan menggunakan pupuk dan pestisida sintetis secara berlebihan.

Membahas mengenai pertanian berkelanjutan (sehat), sejauh ini pupuk dan pestisida sintetis masih menjadi favorit petani dalam upaya meningkatkan hasil panen. Fakta di lapangan menunjukkan petani lebih cenderung menggunakan pupuk dan pestisida sintetis secara besar-besaran. Realitanya penggunaan secara intensif membawa banyak segudang masalah. Menindaklanjuti kasus pencemaran DAS Bedadung pada biota dan kualitas air, maka aktivitas pertanianlah yang menjadi fokus isu dalam studi kasus tersebut. Perilaku petani menjadi penting untuk dikendalikan terhadap penggunaan pupuk dan pestisida sintetis. Diperlukan sebuah inovasi dan teknologi bagaimana pertanian tetap berjalan sehat sebagaimana mestinya.

Bukti nyata telah dilakukan bagaimana menghasilkan pertanian sehat tanpa menimbulkan masalah lingkungan yaitu produk bioteknologi yang dapat mengganti pupuk dan pestisida sintetis dengan pupuk dan pestisida organik yang lebih ramah lingkungan. Upaya tersebut nyata dilakukan dan dipelopori oleh peneliti dari Universitas Jember yaitu Dr. Idah Andriyani, S,TP., MT. dengan mahasiswa S1 maupun S2 untuk melakukan penelitian bercocok tanam secara sehat dengan menggunakan pupuk dan pestisida organik. Pendekatan yang dilakukan oleh tim dari Universitas Jember merupakan langkah kongkret dalam sebuah studi penelitian dilokasi hulu berkolaborasi dengan petani melalui percobaan demonstrasi plot. Petani dikenalkan produk bioteknologi pupuk dan pestisida organik yang sebenarnya petani bisa membuatnya secara mandiri.

Banyak keuntungan yang diperoleh ketika petani mau belajar membuat pupuk dan pestisida organik. Penggunaan pupuk dan pestisida organik dari hasil bioteknologi memiliki kelebihan yaitu lebih ramah lingkungan, ekonomis karena berbahan dasar hasil sumber daya alam, tidak menimbulkan resistensi hama, kemudian dapat meningkatkan kualitas tanah dan air. Di daerah hulu banyak produk sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan untuk membuat pupuk mulai dari daun daun yang mengandung senyawa insektisida dan limbah jerami yang kaya akan unsur hara untuk perbaikan kualitas tanah dan air.

Penggunaan pupuk dan pestisida organik dari hasil bioteknologi merupakan jawaban dari tantangan masa kini untuk menghadapi krisis pangan dimasa mendatang. Siapkah kita menghadapi tantangan pangan di masa mendatang? Ir. Soekarno berteriak “Pangan adalah harga mati di Indonesia”. Oleh sebab itu mari kita berjuang mengubah perilaku petani tidak hanya di daerah hulu saja, namun tengah maupun hilir.

Peran pemerintah terutama Dinas Pertanian dapat mengoptimalkan peran petugas penyuluh pertanian untuk mengedukasi dan memberikan wawasan melalui sebuah FGD (focus group discussion) untuk memecahkan permasalah di lapang. Inovasi teknologi sehebat apapun jika tidak menggandeng masyarakat akan kesulitan untuk diterapkan. Menjaring kerja sama dengan balai penelitian besar serta institusi pendidikan tinggi terkait inovasi dan teknologi yang dapat membantu petani. Peran pemangku kebijakan (stakeholder) sangat penting terhadap kemajuan sumberdaya manusia (petani) untuk merubah perilaku petani. Harapannya petani mampu memproduksi pupuk dan pestisida organik secara mandiri. Krisis pangan di tahun 2025 akan hanya menjadi angin lalu karena petani Indonesia telah mampu beralih ke pertanian sehat dengan memanfaatkan bioteknologi dari hasil sumberdaya alam sebagai pupuk dan pestisida organik yang ramah lingkungan, ekonomis, dan kesejahteraan petani meningkat.

*) Penulis adalah mahasiswa Pengelolaan Sumberdaya Air Pertanian, Pascasarjana Universitas Jember.

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :