Haji Mabrur

Oleh : Dr. H. Sutrisno RS, M.HI

Tidak terasa musim haji 1440 H telah tiba. Alangkah berbahagianya saudara-saudara kita yang memenuhi panggilan-Nya. Karenanya, bagi mereka yang dapat memenuhi panggilan-Nya dianjurkan mengumandangkan talbiyah sesaat setelah niat ihram haji maupun iharam untuk umroh, yaitu ungkapan : labbaika Allahumma labbaika, labbaika laa syarika laka labbaika, innal hamda wan ni‘mata laka wal mulk, laa syarika laka (Ya Allah, aku sambut panggilan-Mu, aku sambut panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji dan nikmat dipanjatkan untuk-Mu, begitu pula kerajaan, tiada sekutu bagi Mu ya Allah).

Setibanya di tanah suci Makkah sebagian besar calon jamaah haji Indonesia melaksanakan umrah wajib terlebih dahulu (haji tamattu’) sebagai bagian tak terpisahkan dari rangkaian ibadah haji. Sebagaimana firman-Nya : “Dan sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah”. QS. Al Baqarah: 196. Selanjutnya selama menunggu saat keberangkatan ke padang Arafah calon jamaah haji memperbanyak ibadah seperti umrah sunnah, thawaf sunnah, shalat berjamaah di Masjidil Haram yang fadlilahnya lebih baik daripada 100.000 (seratus ribu) kali sholat dibanding masjid lainnya. Dan melaksanakan ibadah-ibadah lainnya.

Pada tanggal 8 Dzulhijjah Calon jamaah haji secara taraddudi akan diberangkatkan ke Padang Arafah yang jaraknya 25 KM dari Makkah untuk melaksanakan wukuf sebagai puncak dari ibadah haji.

Wukuf adalah berdiam diri walau sejenak di Arafah pada waktu tergelincirnya matahari tanggal 9 Dzulhijjah sampai tenggelamnya matahari. Kegiatan wukuf diawali dengan mendengarkan khutbah, sholat dhuhur dan ashar di jamak takdim qashar secara berjamaah, memperbanyak dzikir berdoa dan membaca Al-Qur’an. Saat wukuf di padang Arafah inilah, Allah SWT sesungguhnya ingin mendidik kita bahwa memang pakaian dan kedudukan kita berbeda sesuai dengan kedudukan tiap manusia dan masyarakatnya. Namun dalam menunaikan ibadah haji Allah SWT tidak ingin melihat ada perbedaan warna dan potongan pakaian yang dipakai. Apakah ia seorang raja atau bahkan seorang penyapu jalanan sekalipun. Ia harus menyadari bahwa dirinya adalah sama-sama makhluk Allah yang kelak di Padang Mahsyar pun akan dihadapkan di pengadilan-Nya secara bersama-sama pula sebagaimana mereka dikumpulkan saat di Padang Arafah tersebut.

Setelah melaksanakan wukuf di Arafah selepas sholat berjamaah maghrib dan isya’ dijama’ taqdim calon jamaah haji diberangkatkan menuju Muzdalifah untuk mabit (bermalam) sambil mencari batu-batu krikil untuk persiapan melontar jumrah. Dari Muzdalifah calon jamaah haji bergerak menuju Mina untuk melaksanakan mabit dan melontar jumrah pada tanggal 10 dan hari tasyrik (11, 12  dan 13 Dzulhijjah. Selanjutnya calon jamaah haji kembali ke Makkah pada tanggal 12 Dzulhijjah (bagi nafar awal) atau tanggal 13 Dzulhijjah (bagi nafar tsani) untuk melaksanakan thawaf ifadah sebagai bagian dari rukun haji yang apabila ditinggalkan tidak sah hajinya. Kegiatan terakhir jamaah haji adalah melaksanakan thawaf wada’ yakni thawaf pamitan yang wajib dilakukan ketika akan meninggalkan kota Makkah. Untuk selanjutnya bagi jamaah haji gelombang pertama akan kembali ke tanah air, sedangkan jamaah haji yang termasuk gelombang kedua akan menuju ke Madinah untuk melaksanakan sholat arba’in di masjid Nabawiy dan ziarah di tempat-tempat bersejarah di kota Madinah dan sekitarnya.

Dengan selesainya seluruh rangkaian manasik haji tersebut maka calon jamaah haji berhak menyandang gelar haji. Predikat haji merupakan manivestasi bahwa segala sesuatu yang dikerjakan oleh seorang haji sekaligus menjadi ukuran perilaku yang baik dan buruknya. Diharapkan dengan predikat haji dapat menjadi filter dan alat kontrol terhadap perilaku kesehariannya di tengah-tengah masyarakat. Tentu seluruh calon jamaah haji berharap agar seluruh kegiatan ibadah hajinya diterima oleh Allah dan menjadi haji mabrur. Haji mabrur merupakan dambaan setiap orang yang melaksanakan ibadah haji karena balasan haji mabrur adalah surga sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Alhajj almabrur laisa lahu jazaa’un illal jannah” (haji mabrur itu tiada balasan baginya kecuali surga)

Kemabruran haji seseorang dapat dilihat dari perubahan sikap, perilaku dan amalan ibadahnya lebih meningkat kualitas dan kuantitas ketaatannya kepada Allah SWT dibanding sebelum melaksanakan ibadah haji (‘amaluhu ba’da al-hajj khairun min qablihi). Diantara indikator kemabruran haji itu adalah: 1) Ith’amu tha’am, memberi makan atau peduli pada pengentasan kemiskinan dan masalah sosial kemasyarakatan; 2) ifsya’us salam, menebarkan salam dan kedamaian serta menghindarkan segala bentuk permusuhan;  dan 3) Thoyyibul kalam, yaitu bijak dalam bicara, santun dalam berbuat dan baik dalam bersikap. Walllahu a’lamu bi ash shawab.

*) Dr. H. Sutrisno RS, M.HI, dosen Pascasarjana IAIN Jember, Tim Pemandu Haji Indonesia (TPHI)  tahun 2006, TPHI tahun 2011,  dan TPHI tahun 2015.

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :