Ulimiyatul Jannah, Juara Tahfidz Quran Tingkat Mahasiswa Nasional

Tak Kepikiran Menang, Hanya Fokus Ingin Berprestasi

INSPIRATIF: Ulimiyatul Jannah, salah satu Kontingen IAIN Jember yang menyabet medali emas dalam Ajang Pionir 2019 di UIN Malang, Kamis (18/7) lalu.

RADARJEMBER.ID – Menjadi kebanggan di usia muda dan mampu menginspirasi orang lain menjadi dambaan setiap orang. Dua hal inilah yang dimiliki Ulimiyatul Jannah, mahasiswa IAIN Jember yang menyabet medali emas di ajang Pionir 2019. Pada acara yang digelar di UIN Maulana malik Ibrahim ini, dia keluar sebagai juara satu dari kategori lomba Musabaqah Hifdzil Quran (MHQ) 30 Juz.

Usia muda bukanlah alasan untuk tidak berprestasi. Hal itu yang menjadi salah satu keyakinan mahasiswi asal Dusun Krajan, Desa Sumber Jeruk, Kecamatan Kalisat. Putri desa yang berhasil menundukkan kompetisi nasional dengan kemampuan menghafal Alquran sebanayak 30 juz.

Mahasiswi 24 tahun itu memang terbilang cukup inspiratif. Melalui kiprahnya di panggung nasional, dia menundukkan sebanyak 22 peserta putri yang berasal dari kampus Perguruan Tinggi Agam Islam Negeri (PTKIN) se Indonesia.

Mahasiswi yang mengaku sempat nyantri di Pesantren Tahfidz MTA Al-Amien Prenduan, Madura, itu mengaku sempat tak terfikirkan sebagi juara satu. “Menang atau kalah mungkin itu sudah ditakdirkan. Yang jelas dengan mengikuti lomba ini, saya bisa menjadi lebih lancer. Itu hikmah terbesarnya,” ujarnya.

Dia juga mengaku, menang atau kalah itu bukanlah tujuan utama. Meskipun dia berangkat mengusung misi besar lembaganya, IAIN Jember. Sehingga memiliki amanah yang harus diperjuangkan. “Kalau menang alhamdulillah ini karunia dariNya. Jika kalah juga Alhamdulillah, ini jadi pelajaran agar tambah rajin ngaji. Dan yang salah-salah bisa diperbaiki hafalannya,” imbuh mahasiswi semester sembilan itu.

Dia menceritakan, awalnya tak memiliki motivasi untuk mempelajari Alquran. Tanpa ada sebab apapun, dia tiba-tiba dimasukkan di pondok pesantren oleh orangtuanya.  “Saat di pondok suruh hafalan terus. Awalnya jadi beban cukup berat, lambat laun saya mulai membiasakan diri,” akunya.

Setelah lama berada di pondok itu, lanjutnya, dia mulai menemukan motivasi untuk mendalami kitab suci umat Islam teresebut. “Saya teringat ucapan guru, kalau seorang anak mempelajari Alquran, hal itu yang akan menolong orang tua mereka kelak,” yakinnya.

Perempuan yang akrab disapa Ulum itu menambahkan, jika prestasi yang diraihnya saat ini tidak terlepas dari peran orang tua yang selalu mendorongnya untuk mendalami Alquran. Bahkan, saat purna belajar di pesantren, dia sempat berpindah ke Pondok Pesantren Riyadlul Qur’an Ngajum, Malang, selama enam bulan. Di pesantren keduanya ini, dia hanya belajar untuk melancarkan hafalannya.

Kini, kecintaannya mempelajari Alquran telah membawanya mengharumkan almater, guru dan kedua orangtuanya. Dia berharap bisa terus belajar agar kiprahnya selama ini bisa menginspirasi teman dan adik-adik tingkatnya di kampus.

IKLAN

Reporter : Maulana

Fotografer : Istimewa

Editor : Mahrus Sholih