Jember Ekonomi Kreatif (Jeka), Berkarib Sambil Berbisnis

GUYUB SAK DULURAN : Komunitas Jember Ekonomi Kreatif (Jeka) tetap komitmen membangun mitra kerjanya yang anggotanya para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Komunitas Jember Ekonomi Kreatif (Jeka) tak sekadar membentuk komunitas seduluran. Namun juga berbagi informasi dan saling mendukung satu sama lain.

Memiliki mitra kerja yang tergabung dalam organisasi atau komunitas memang menjadi kebutuhan pada era saat ini. Kuatnya persaingan industri era 4.0 membuat mereka yang tak mampu bertahan dalam persaingan pasar bisa tergerus habis.

Hal itulah yang coba digagas oleh Komunitas Jeka. Komunitas yang cukup lama hidup di Jember itu memiliki misi social yang cukup merakyat. Yaitu membangun mitra kerja bersama para pelaku UMKM agar produk-produk mereka bisa bersaing di pasaran.

Komunitas yang diketuai oleh Heri Purnomo itu memang terbilang unik. Menurut Heri, komunitas yang baru memiliki badan hukum pada 2017 itu memiliki misi utamanya yaitu mengawal produk-produk yang dibuat oleh para anggotanya, agar memiliki sertifikat resmi dari Dinas Kesehatan atau mendapat legalitas dari pemerintah terakait.

“Sebenarnya perijinan itu gratis di Jember ini. Hanya saja orang kebanyakan malas mengurusnya. Karena ribet lama, dan dianggap membutuhkan biaya banyak,” jelasnya.

Pengurusan perijinan seperti SKU, IUP  dan lain-lain itu bisa diyakininya bisa dengan mudah didapatkan dengan mudah. Asalkan dilakukan dengan bersama-sama dan dukungan sejumlah pihak.

Dari sekitar 98 anggotanya, lanjut Heri, sebagian dari produk-produk mereka sudah mendapatkan legalitas hampir 70 persen. Meskipun hanya separuh yang aktif, dia tetap berkeyakinan bahwa potensi UMKM Jember itu begitu besar dan harus dikembangkan.

“Walaupun usahanya masih tergolong kecil, 50 persen lebih dari mereka itu lolos dalam uji kompetensi dan menjadi trainner,” jelasnya.

Selain kuliner, dari pengakuannya, para anggota komunitas tersebut juga banyak memiliki produk handcraft, sovenir, dan lain-lain. “Produk-produk mereka itu jika hanya dijual biasa, murah di pasaran. Tapi kalau ada polesan sedikit, dan kemasan, strategi marketing, pasti akan naik brandingnya,” jelasnya.

Dia menjelaskan, sebenarnya dalam mengembangkan bisnis perlu dijalankan melalui beberapa dukungan. Karena potensi untuk bisa lebih mengetashui karakter pasar, akan lebih mudah didapatkan saat seseorang bergabung di sebuah komunitas.

Hal itu pula turut diyakini oleh Mami Irawati, salah seorang anggota Jeka asal Kelurahan Kebonsari. Dia mengatakan, sejak bergabung ke komunitas ini, bisnis kulinernya perlahan mulai menemukan pasar dan para pelanggan yang pasti.

Perempuan yang merambah bisbis kuliner susu jagung itu juga mulai mengembangkan bisnisnya dengan menjual Seblak basah dan kering. “Banyak manfaat yang saya dapatkan. Masalah pengemasan produk, cara pemasaran, banyak mendapat masukan dari teman-teman anggota,” tukasnya.

IKLAN

Reporter : Maulana

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Hadi Sumarsono