Siapa Bakal Nakhodai Kaum Sarungan

Jelang Konferensi (Konfercab) PCNU Jember

Pelaksanaan Konfercab PCNU Jember akan digelar pada 28 Juli 2019 mendatang. Muncul beberapa tokoh yang akan maju dalam pemilihan ini. Siapa yang bakal menjadi pimpinan di tengah tantangan yang terus berkembang?

RADAR JEMBER.ID – Organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) memiliki peran yang cukup menjadi perhatian publik. Mulai dari peran keagamaan, politik kebangsaan, kemasyarakatan, buruh, lingkungan, kesehatan, dan lainnya. Dalam setiap momentum, NU selalu memainkan perannya.

Selama dua periode, PCNU Jember dipimpin oleh DR KH Abdullah Syamsul Arifin atau akrab disapa Gus Aab. Kepemimpinan ketua tanfidz PCNU Jember tidak dibatasi waktu periode. Siapa pun bisa maju menjadi pimpinan dalam konfercab.

Konfercab PCNU Jember bakal dimulai pada 28 Juli mendatang. Beberapa nama sudah muncul untuk maju dalam konferensi ini. Seperti KH M Firjoun Barlaman Ahmad, Prof Dr M Noor Harisuddin, Prof Dr Babun Suharto, DR KH Abdullah Syamsul Arifin, M Muslim, Drs KH A Muqit Arief, KH Madini Farouq, dan sejumlah kader lainnya. Ada sekitar 360 ranting dan 26 MWC yang bakal menentukan pilihan.

Seiring dengan perkembangan zaman, tantangan baru selalu muncul agar dinamika organisasi terus berkembang. Era industri 4.0 tak terelakkan, masalah kesehatan, radikalisme, dan politik pragmatis memerlukan solusi. Setiap momentum politik, NU memberikan warna tersendiri. Beberapa kadernya juga aktif dalam kegiatan politik.

Ketua Tanfidziyah PC NU Jember KH Abdullah Samsul Arifin mengatakan, pelaksanaan konfercab sudah rutin digelar lima tahunan sekali sesuai dengan amanat AD-ART NU. “Konfercab ini tidak ada kaitannya dengan pemilihan bupati tahun 2020 nanti,” terangnya.

Menurutnya, konfercab dilakukan dengan target melakukan evaluasi terhadap sejumlah program yang telah dilaksanakan beberapa tahun terakhir. Itu juga sebagai wadah untuk merencanakan program kerja untuk tahun-tahun berikutnya.

“Salah satu dari program itu adalah memilih rais syuriah dan ketua Tanfidz NU. Saya kira karena ini program rutin lima tahunan, secara subtansi tidak ada kaitannya. Tetapi, kalau memang mau dikait-kaitkan, ya akan ketemu juga,” ujar pria yang akrab disapa Gus Aab tersebut.

Disinggung banyaknya orang NU yang ikut dalam percaturan politik di Jember, Gus Aab menilai hal itu sudah biasa dan NU tidak bisa membatasinya. Apalagi, politik merupakan pilihan setiap orang yang tidak mungkin akan dipaksakan kepada orang lain. “Berpolitik itu adalah hak setiap warga negara. Saya kira NU tidak boleh membatasi itu,” tegasnya.

Namun demikian, sekalipun orang-orang yang ada di tubuh NU, baik anggota atau pengurus, bebas menjatuhkan pilihan poiltiknya. Dengan catatan, tidak boleh melibatkan nama lembaga dalam kancah politik. “Yang tidak diperkenankan itu adalah keterlibatan institusi atau kelembagaan. Tetapi, secara pribadi mereka punya hak untuk memilih dan dipilih,” ungkapnya.

Banyaknya orang NU yang berpolitik, menurutnya tidak memberi dampak signifikan pada organisasi NU. “Pengaruh secara kelembagaan saya kira normatif saja. NU itu bukan partai politik, bukan organisasi politik, tetapi perlu perlindungan politik di dalam melaksanakan program-program kerjanya. Tentu komunikasi yang baik dengan semua lini, khususnya dengan pihak pemangku kepentingan memiliki multilevel efek dalam pelaksanaan program-program jamiah. Secara pribadi, itu menjadi komunikasi dan relasi yang biasa. Sama dengan kelompok-kelompok keumatan yang lain,” ulasnya.

Gus Aab menyebut, NU secara tertulis dalam AD/ART merupakan jamiah atau organisasi sosial keagamaan yang mengawal misi Islam rahmatan lilalamin. Untuk itu, NU ke depan harus tetap menjadi benteng negara. Termasuk menghalau gerakan-gerakan radikal yang bisa muncul tanpa diduga-duga sebelumnya. NU bisa membentengi warga dari aliran keras.

“Dengan demikian, peran NU dalam hal ini sangat sentral. Saya kira untuk mengantisipasi menyikapi kemungkinan munculnya hal-hal yang bertentangan dengan misi utama dalam NU,” pungkasnya.

Sementara itu, Penasihat Ranting NU Patimura, Jemberkidul, Kaliwates, Madini Farouq, juga menyatakan, Konfercab NU yang akan dihelat nanti tidak ada kaitan langsung dengan perpolitikan lokal yang terjadi di Jember. Cicit dari pendiri NU, KH Wahab Hasbullah, ini menyebut, Konfercab NU memiliki kepentingan besar demi menjaga dan melindungi warga NU.

Kader NU sekaligus Ketua DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Jember ini menyebut, NU merupakan organisasi keagamaan yang sudah matang dan berpengalaman. Kelembagaan NU juga tidak bisa ditarik ke ranah politik praktis. “Digelarnya konfercab, kaitan secara langsung dengan politik lokal tidak ada. Karena di tubuh NU yang ada bukan politik praktis, tetapi kemaslahatan. Secara kelembagaan tidak boleh, tetapi secara personal, orangnya boleh berpolitik,” jelas pria yang akrab disapa Gus Mamak tersebut.

Dengan digelarnya Konfercab NU Jember, Gus Mamak mengharapkan agar NU ke depan dinakhodai oleh pemimpin yang bisa menjaga keutuhan NU. “Harus mampu menyelaraskan program-programnya untuk kepentingan masyarakat,” pungkasnya. (*)

IKLAN

Reporter : Nur Hariri

Fotografer :

Editor : Bagus Supriadi