Segel Gerbang SMPN 3 Tanggul Dibuka

SUDAH DIBUKA: Pagar seng yang sempat menutupi pintu sisi barat SMPN 3 Tanggul sudah dibuka dan KBM berjalan normal.

RADAR JEMBER.ID – Siswa dan guru di SMPN 3 Tanggul bisa bernapas lega. Mereka kembali belajar di ruang kelas setelah sempat lesehan di aula eks UPTD Pendidikan Tanggul di masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS), awal pekan ini. Sejak kemarin (19/7), segel gerbang sekolah dibuka, sehingga siswa dan guru dapat menempati bangunan tersebut untuk kegiatan belajar mengajar.

Dibukanya segel tersebut setelah pihak sekolah dan Dinas Pendidikan Kabupaten Jember melakukan mediasi dengan ahli waris Alm. Harsono. Sebelumnya, keluarga ahli waris sempat menyegel semua pintu, baik di sisi barat maupun timur. Akses masuk itu ditutup menggunakan seng karena gugatan ahli waris dimenangkan di pengadilan tingkat pertama.

Bahkan, di pagar seng tersebut juga dipasang banner merah dengan tulisan putih “Mohon maaf kepada bapak/ibu wali murid, kami ahli waris Alm. Harsono dengan ini menutup/menyegel gerbang SMPN 3 Tanggul berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri Kelas 1 A Jember No 118/Pdt.G/2018/PN Jember Tgl 29 Mei 2019”.

“Setelah dilakukan mediasi berkali-kali, pihak ahli waris sudah menyadari. Akhirnya, pintu pagar dari seng di sebelah barat sudah dibuka,” ujar Edy Budi Susilo, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jember.

Menurut Edy Budi, dibukanya segel itu membuat proses kegiatan belajar mengajar aktif kembali dan berjalan normal seperti biasanya. Hanya saja, kata dia, perkara hukum terkait sengketa lahan gedung sekolah itu tetap berjalan. Kedua belah pihak, Pemkab Jember dan ahli waris, sepakat melanjutkan di tingkat banding. “Kami juga sepakat akan menghormati keputusan akhirnya nanti seperti apa,” ujarnya.

Lebih lanjut, Edy Budi mengaku bersyukur, karena proses belajar mengajar kelas VII, VIII, dan IX sudah menempati ruangannya masing-masing. Sebelumnya, selama tiga hari siswa baru kelas VII sempat menempati aula eks UPTD Pendidikan Tanggul. “Segel dibuka sendiri oleh keluarga ahli waris,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala SMPN 3 Tanggul Harnik Purwati saat dihubungi lewat sambungan ponsel enggan berkomentar. Sejak awal, dia memang tak mau memberi keterangan terkait konflik lahan di lembaga yang dia pimpin. Menurutnya, hal itu menjadi domain dinas pendidikan. “Sungguh, saya minta maaf. Saya tidak berani komentar. Sudah lengkap semua di dinas,” jawabnya.

Diberitakan sebelumnya, di hari pertama masuk sekolah, sebanyak 191 siswa baru SMPN 3 Tanggul tak bisa mengikuti MPLS di sekolah. Itu karena pintu sekolah disegel dan ditutup dengan seng. Oleh karenanya, mereka terpaksa mengikuti MPLS lesehan di aula eks UPTD Pendidikan Tanggul. (*)

IKLAN

Reporter : Jumai

Fotografer : Jumai

Editor : Mahrus Sholih