Politik Kiai vs Kiai Politik; Mengurai High Politics Sang Kiai

Politik kiai mengedepankan politik etis, politik bermoral, politik berakhlaq dan bermartabat. Berbanding terbalik dengan kiai politik yang menghalalkan segala cara, menjadikan kiai sebagai intrumen politik untuk meraih kemenangan dengan cara-cara curang dan tipu muslihat.

Waman ahsana qaulan mimman da’aa ila Allah wa ‘amala shaalihan? Sekalipun dengan nada pertanyaan, ayat ini memberi gambaran bagi kita semua untuk merumuskan sosok kiai sebagai manusia yang paling baik perkataannya dari orang yang mengajak berbuat baik ke jalan Allah, dan beramal shalih. Sosok kiai mampu menyatukan perkataan dan perbuatan didasari oleh ilmu dan akhlaq yang dimilikinya. Oleh karena itu, sosok kiai menjadi waratsatu al-anbiya dapat memberi manfaat kepada lainnya untuk menjadi manusia yang baik. Pada taraf inilah kiai dapat disebut sebagai “pemberi” barokah. Kiai seperti cahaya yang mampu menerangi setiap gelapnya jalan kehidupan manusia, termasuk dalam dunia politik.

Diorama politik sepanjang sejarah tidak bisa lepas dari peran kiai, dan bahkan kiai seakan-akan menjadi gadis cantik yang selalu dipinang oleh para politisi untuk turut serta mensukseskan kepentingannya. Hampir semua politisi dengan bahasa “sowan” kepada kiai mencari dukungan pada kepentingannya. Hal ini dilakukan secara sadar oleh politisi, karena kiai memiliki pengaruh yang sangat besar dikalangan sosial-masyarakat. Ilmu dan akhlaq Kiai “seperti ini” selalu dijadikan sebagai intrumen politik yang “rakus” kekuasaan. Ironisnya, banyak kiai-kiai yang “lupa” akan ilmu dan akhlaqnya sehingga istilah kiai dijadikan sebagai alat saja untuk meraih kepentingan politiknya kiai. Pada taraf inilah, kita sebut sebagai kiai politik. Disisi lain, kiai yang “melek” politik terjun dalam politik praktis dengan kesadaran keilmuan dan akhlaqnya. Mereka menancapkan politik etis, bermoral, berakhlaq dan bermartabat karena politik dianggap sebagai media dakwah untuk mentransformasikan kebaikan. Transformasi kebaikan dalam dunia politik merupakan elemen penting untuk mengukuhkan nilai-nilai kemanusiaan dalam berbagai lini kehidupan manusia. Pada taraf inilah kita sebut dengan politik kiai.

Selama ini politik selalu identik dengan kekuasaan, menang dan kalah dalam politik praktis. Berbeda dengan politik kiai yang mengedepankan kesantunan politik untuk terus dipertontonkan oleh kiai. Politik kiai bukan persoalan kalah dan menang, tetapi memberi pelajaran kesantunan politik kepada masyarakat luas lebih penting dari sekedar menang kalah. Kalau toh, kemenang yang dapat diraihnya bukalah kemenangan yang didapat dari praktik curang dan culas, tetapi kemenangannya diperoleh melalui proses jujur, adil dan beradab.

Dengan demikian, politik kiai meraih kekuasaan dengan proses kebaikan dan keadaban yang berada di jalur nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan dan perundang-undangan yang berlaku. Harus diakui bahwa menegakkan proses kebaika dan keadaban memang tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin. Masih banyak para kiai-kiai yang terjun ke politik membawa misi ketulusan dan kemanusiaan. Praktek politik kiai laksana cahaya yang menerangi kegelapan politik manusia, karena selama ini politik selalu diidentikkan dengan praktek kotor dan penuh tipu-daya.

Tipologi kiai politik dan politik kiai ini senada dengan yang dikatakan Joseph S Nye dalam buku yang berjudul Soft Power; the Means to Success in World Politics bahwa power bisa diraih dengan dua cara yaitu soft dan hard. Soft power merupakan usaha membuat pihak lain agar melakukan sesuatu tanpa harus diminta. Pada taraf inilah politik kiai berjalan dengan berbagai charisma yang dimiliki kiai sehingga masyarakat mengikuti kiai bukan karena pilihan politik praktisnya tetapi lebih kepada keilmuan dan keadaban yang ditunjukkan kiai. Berbeda dengan hard power yang kerapkali dilakukan dengan cara-cara pemaksaan terhadap orang lain untuk mengikuti pilihan politiknya. Kiai dengan pengaruhnya yang besar menjadikan kekuatan untuk menekan masyaakat untuk ikut pada pilihan politik praktisnya.

Dengan ilmu dan akhlaknya, kiai adalah penunjuka jalan politik antara yang salah dan benar, hitam dan putih bukan persoalan menag dan kalah dalam merebut kekuasaan. Karena kekuasaan yang diperoleh hanyalah dampak dari perilaku kiai yang santun dan mengayomi kepada masyarakat. Bekelindan dengan itu, juga sebagai penentu antara yang salah dan benar bukan kemenangan yag diperjuangkan dengan segala cara. Pada taraf ini, kiai harus mampu merekonstruksi politik menjadi kebenaran dan kesantunan berpolitik.

Tanpa politik kiai, bidak politik selalu dimaknai sebagai bidak kotor yang tidak layak untuk ditempati kiai yang berhati bersih. Oleh karena itu, politik kiai sangat diperlukan bagi bangsa Indonesia ini  untuk menyiapkan dan melahirkan generasi yang dapat membersihkan noda-noda politik sehingga tercipta kehidupan politik yang sehat. Hal ini didasari pengakuan masyarakat bahwa charisma kiai menjadi sebab munculnya pengaruh sangat kuat di kalangan masyarakat. Adanya pengaruh yang besar dalam diri kiai tidak luput dari incaran para politisi memanfaatkannya untuk mendulang suara di setiap momentum politik. Berkelindan dengan kesadaran kiai politik yang memanfaatkan pengaruhnya untuk pilihan politik praktisnya.

Politik kiai dan kiai politik sama-sama memiliki kesadaran bahwa roda politik cepat berubah sehingga keduanya dituntut untuk terus berdaptasi dalam perkembangan perubahan yang sangat cepat. Namun politik kiai berpegang teguh pada primsip kebenaran yang selalu diajarkan dalam islam, khususnya dalam pesantren. Berbeda dengan kiai politik yang terus menerus beradaptasi dengan perkembangan politik Indonesia sekalipun harus menembus batas nilai-nilai luhur keislaman. Pragmatisme politik tumbuh subur di Indonesia, sehingga pesantren hanya dijadikan intrumen kampanye untuk mendulang suara melalui janji-janji “surga” partai politik yang dimotori oleh kiai politik. Oleh karena itulah, kesejahteraan yang menjadi cita-cita masyarakat Indonesia tersandera oleh pragmatism politik sehingga nilai-nilai kebenaran tergerus dan tereduksi atas nama kebebasan berpolitik.

Implikasi pragmatisme politik adalah carut marutnya politik kekuasaan yang terlepas dari nilai-nilai kebenaran politik dan rasa menghargai martabat kemanusiaan. Realitas ini menjadi bukti bahwa nilai kebenaran dan kemanusiaan hanya sebatas jargon verbal saja yang dilakukan kiai politik, belum menginternalisasi dalam bentuk perilaku. Kiai politik hanya memanfaatkan rakyat dan pesantren sebagai tangga meraih kekuasaan secara personal maupun golongan.

Berbeda dengan politik kiai yang menjadikan masyarakat sebagai tujuan untuk selalu disejahterakan, lebih jauh untuk mengangkat martabat kemanusiaan masyarakat agar tidak terbelenggu oleh kemiskinan dan kebodohan. Dengan begitu politik kiai selalu mengarah kepada terciptanya peradaban manusia berkeadaban. Power politik kiai mampu mecerahkan masyarakat luas dengan nasehat-nasehat santu yang menjadi solusi begi problematika umat. Pada taraf ini kita hanya berharap bahwa politik kiai selalu berada di berbagai lini bangsa ini untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran dan kemanusiaan. Melalui moral force politik kiai ini diharapkan bahwa kerusakan politik bangsa ini dapat dicegah sebagai implementasi high politics sang kiai.

*) Dr. Ali Hasan Siswanto, M.Fil.I, Dosen Pascasarjana IAIN Jember

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :