Menabung dari Gaji Rp 1.500, Bawa Sangu Rp 2 Juta

Mengenal Jumaati, PRT yang Berangkat Naik Haji

Panggilan ke baitullah untuk melaksanakan ibadah haji tak memandang profesi. Pembantu rumah tangga (PRT) dengan gaji terbatas pun bisa berangkat. Seperti apa kisahnya?

PANGGILAN HAJI: Jumaati saat berada di rumahnya. PRT itu akan berangkat haji tanggal 19 Juli 2019.

RADAR JEMBER.ID – Rumahnya tampak sepi. Tak ada orang di dalamnya, kecuali Jumaati. Maklum, dia tinggal berdua bersama saudaranya di rumah, di jalan  Jalan Dr Soebandi 14, Kelurahan Jember Lor, Kecamatan Patrang.

Sore itu, Jumaati pulang lebih awal dari rumah majikannya karena sudah janji untuk diwawancarai Radarjember.id. Memasuki gang sempit, tanpa ada halaman rumah.

“Assalamualaikum,” ucap kami di depan rumahnya. “Waalaikum salam,” jawabnya dari dalam rumah.

Lalu, perempuan berkerudung itu keluar dan membuka pintu. Ruang tamunya cukup gelap, meski lampu dihidupkan. Tak ada kursi, kami duduk di lesehan.

Di dalam rumahnya yang sederhana, Jumaati sedang mempersiapkan diri untuk berangkat ke Tanah Suci. Baju-bajunya dipersiapkan untuk dimasukkan ke dalam koper. Wajahnya tampak ceria, sebab mimpi kecilnya untuk beribadah haji tercapai.

Banyak yang tak menyangka pembantu rumah tangga (PRT) itu bisa berangkat haji. Sebab, gajinya hanya berawal dari Rp 1500. Namun, setiap tahun berkembang. Sampai sekarang, gaji yang diterimanya setiap bulan hanya Rp 1.150 ribu.

“Saya berangkat tanggal 19 Juli nanti, ikut kloter 46,” katanya. Sejak kecil, Jumaati memang sudah berprofesi sebagai pembantu. Hal itu diawali dengan bekerja pada tetangganya di Jalan Cokroaminoto, Kaliwates. “Di sana saya jadi pembantu dua rumah, awal gajinya Rp 1500,” akunya.

Dia kemudian pindah menjadi pembantu pada keluarga yang lain, yakni di Jalan Gebang. Di sana, dia mendapatkan gaji Rp 10 ribu dan menjalaninya selama 12 tahun. “Tahun berapa pindahnya lupa, tapi memang pindah-pindah,” ucapnya.

Selesai dari sana, dia pindah lagi menjadi pembantu rumah tangga di Jalan Nanas, Patrang. Selama 18 tahun dia menjadi PRT di rumah milik Ghozali. “Gaji waktu itu dari Rp 25 ribu sampai Rp 500 ribu,” tutur perempuan kelahiran 12 Juli 1969 tersebut.

Dia sempat pindah menjadi pembantu di Surabaya. Saat itu, gajinya sebanyak Rp 1 juta per bulan. Namun, perempuan 50 tahun itu hanya menjalaninya selama tujuh bulan karena sakit. Akhirnya, dia balik lagi ke Jember.

Sekarang, dia menjadi pembantu rumah tangga pada dua rumah. Yakni pada keluarga PNS di Jalan Nanas dan Jalan Srikoyo. Dari sana, penghasilannya selama sebulan sebanyak Rp 1.150 ribu. “Setiap Senin Sabtu di rumah majikan yang Jalan Srikoyo, Minggu di rumah majikan Jalan Nanas,” terangnya.

Pekerjaannya menjadi PRT beragam, mulai dari mencuci, menyetrika baju, mengepel, memasak, hingga mengasuh anak. Mulai dari pukul 08.00 hingga jam 16.00. “Kadang tidak tentu juga waktunya, bisa kurang dari itu,” tambahnya.

Keinginan Jumaati untuk naik haji sudah ada sejak kecil. Waktu itu dia melihat orang naik bus untuk berangkat ke Makkah. Saat itulah, dirinya memiliki impian untuk berangkat haji. Gaji dari menjadi PRT dibelikan perhiasan emas. “Karena kalau berbentuk uang, khawatir habis,” tuturnya.

Pada 5 Januari 2011 lalu, dia mulai mendaftar haji. Keinginan itu karena mendapat dorongan dari teman-temannya. Saat itu, dia hanya memiliki uang Rp 10 juta.

Sementara itu, untuk mendaftar, dia harus menyediakan dana Rp 25 juta. Akhirnya, dia mulai mengumpulkan uang sedikit demi sedikit. Kekurangan uang Rp 15 juta itu bisa dilunasi selama tiga tahun. Emas yang dibelinya dia jual kembali.

“Uang juga saya masukkan di arisan,” akunya. Dari sanalah, Jumaati mengumpulkan uang hingga bisa berangkat haji. Majikannya juga tidak menyangka bila dia bisa berangkat haji. Sebab, majikannya yang kebanyakan PNS saja belum daftar haji.

Kendati demikian, Jumaati mendapat dukungan dari para majikannya. Sangu yang akan dibawa ke Tanah Suci sebanyak Rp 2 juta. “Ini sudah panggilan Allah, saya juga tak menyangka bisa berangkat,” tuturnya. (*)

IKLAN

Reporter : Bagus Supriadi

Fotografer : Bagus Supriadi

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti