Revolusi Pertanian 4.0 dan Penuaan Petani di Jawa Timur

REVOLUSI Pertanian 4.0 yang dicanangkan oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian membawa konsep pengembangan pertanian cerdas (smart farming) yang merujuk pada penerapan teknologi informasi pada bidang pertanian. Tentu, penerapan konsep ini bertujuan mengoptimalisasi peningkatan hasil dan efesiensi penggunaan sumber daya yang tersedia. Revolusi ini tidak akan berjalan mulus, jika petani muda di Indonesia kian tergerus. Sektor pertanian di Jawa Timur sebagai penyedia pangan kian berat beban yang dipikul, seiring terjadinya penuaan usia petani. Peningkatan permintaan pangan akibat pertambahan jumlah penduduk juga kian menambah beban rentanya sektor pertanian di Jawa Timur.

Regenerasi di sektor pertanian merupakan syarat mutlak kesuksesan pencanangan Pertanian 4.0. Betapa tidak, generasi milenial yang menggeluti pekerjaan di bidang pertanian terus mengalami penurunan. Potret yang disajikan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur dari hasil Survei Pertanian Antar Sensus (SUTAS) 2018, memperlihatkan bahwa terjadi penurunan jumlah petani muda (dibawah 45 tahun) yang cukup signifikan sebesar 3,11 persen dibandingkan dengan hasil Sensus Pertanian 2013 (ST2013) atau lebih dari 44 ribu orang petani muda telah beralih pekerjaan ke sektor lain.

Walaupun sampai saat ini, sektor pertanian yang mencakup subsektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan ini masih menyumbang 11,90 persen dari total Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Jawa Timur tahun 2018, ketiga tertinggi setelah sektor perdagangan dan industri pengolahan, namun sektor ini mengalami pergeseran dengan tren yang terus menurun dalam struktur perekonomian Jawa Timur. Penyerapan tenaga kerja dalam sektor ini pun juga masih besar, bahkan tertinggi dibandingkan dengan sektor yang lain, yakni sebesar 32,15 persen. Tidak jauh berbeda dengan kondisi share pertanian terhadap PDRB yang terus menurun, berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), selama kurun waktu 5 tahun ini, Jawa Timur telah kehilangan 660 ribu orang yang bekerja di sektor pertanian atau terjadi penurunan sebesar 9,89 persen.

Berbeda dengan jumlah petani muda yang terus terkurangi, petani tua (usia 45 tahun ketas) justru mengalami peningkatan yang cukup drastis. Kondisi ini terlihat dari hasil SUTAS dan ST2013 yang membeberkan fakta bahwa terjadi kenaikan sebesar 29,22 persen selama periode 2013-2018. Bahkan yang lebih memprihatinkan, mereka yang berusia diatas 65 tahun dan masih menggantungkan hidupnya di sektor ini, mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Dalam periode yang sama, terkonfirmasi adanya peningkatan sebesar 52,06 persen atau dari setiap 100 petani di Jawa Timur, saat ini terdapat 17 orang di antaranya telah berumur 65 tahun ke atas dengan lima tahun sebelumnya hanya terdeteksi sebanyak 13 orang. Dari data tersebut, kembali meneguhkan bahwa di Jawa Timur masih belum ada regenerasi petani yang menjadi kunci utama keberhasilan Revolusi Pertanian 4.0.

Bertambahnya petani tua yang biasanya masih mempertahankan pola pertanian tradisional dan terkesan antipati terhadap perubahan teknologi, kian diperparah dengan menurunnya minat generasi muda, yang haus akan teknologi terkini, untuk menggeluti profesi petani yang terpatri dalam benak mereka sebagai profesi yang jadul dan tidak kekinian. Rendahnya tingkat penguasaan petani kita terhadap teknologi informasi, terkonfirmasi dari hasil SUTAS 2018 yang menunjukkan persentase petani yang pernah menggunakan internet hanya sebesar 13,71 persen dari seluruh petani di Jawa Timur. Hal ini harus menjadi catatan tersendiri bagi pengambil kebijakan untuk mencari solusi akan permasalahan yang dihadapi jika Jawa Timur bersiap menerapkan Revolusi Pertanian 4.0 dalam waktu dekat.

Walau tidak mudah, merubah paradigma kawula muda terhadap pertanian bahwa sektor ini hanya digeluti oleh mereka yang berpenghasilan rendah menjadi profesi yang menggiurkan dari sisi ekonomi harus mulai digalakkan. Digitalisasi berbagai alat dan metode pertanian nantinya akan bisa lebih mengefisienkan waktu dan biaya. Ujung-ujungnya, produktivitas bisa meningkat dan keuntungan yang diterima pelaku usaha pertanian bisa melonjak secara signifikan. Stigma lain yang perlu dihancurkan dalam benak kalangan milenial adalah profesi petani bukanlah pekerjaan yang kekinian, juga menjadi pekerjaan rumah Pemerintah Daerah untuk terus gencar mensosialisasikan perubahan pola dan cara kerja petani milenial seperti yang diusung oleh revolusi sektor ini yang nantinya menghadirkan sistem otomatisasi dan penggunaan internet di dalam proses produksinya.

Dalam jangka panjang, penerapan kurikulum pertanian 4.0 harus mulai diperkenalkan sedini mungkin. Saat ini, hanya Sekolah Menengah Kejuruan dan segelintir fakultas di perguruan tinggi yang fokus mengembangkan bidang pertanian, kedepan seharusnya kurikulum revolusi sektor ini bisa dimasukkkan mulai dari level sekolah menengah pertama. Kampanye tentang Revolusi Pertanian 4.0 ini pun, tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, namun masyarakat harus berperan aktif dan mengambil peran untuk turut menyebarluaskan kepada khalayak, minimal kepada anggota keluarga, akan pentingnya sektor ini demi keberlangsungan umat manusia dimasa yang akan datang.

Revolusi Pertanian 4.0 hanya akan menjadi sebuah program tak terurus, jika anak-anak muda di Jawa Timur tidak dibuat tergiur dan haus akan sektor ini. Sehingga, regenerasi petani perlu dilakukan secara serius, jika stakeholders tidak menginginkan sektor pertanian ini kian tergerus.

*) Penulis adalah peneliti / Statistisi Ahli Pertama di Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jember.

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :