Khusus bagi Siswa Difabel

Masa Pengenalan Bisa Satu Semester

HARI PERTAMA: Aktivitas beberapa siswa saat memasuki tahun ajaran baru di Sekolah Luar Biasa (SLB) YPAC Kaliwates

RADAR JEMBER.ID – Setiap sekolah memiliki waktu beragam menyelenggarakan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS). Biasanya antara 3-4 hari melalui acara seremoni. Namun, pola dan rentang waktu masa orientasi siswa itu tak berlaku di lembaga pendidikan yang khusus bagi anak-anak difabel. Di sekolah ini, waktu yang diperlukan bisa mencapai satu semester.

Seperti yang terapkan Sekolah Luar Biasa (SLB) YPAC Kaliwates. Lembaga ini memiliki cara tersendiri dalam mengenalkan siswa barunya terhadap lingkungan sekolah. “Masa pengenalan siswa terhadap lingkungan sekolah bisa dilakukan beberapa tahap. Hal itu menyesuaikan dengan jenis ketunaan setiap siswa,” terang Suparwoto, Kepala SD-LB YPAC Kaliwates.

Menurutnya, proses adaptasi siswa berkebutuhan khusus itu sangat variatif dan tidak ada kurun waktu tercepat. Sebab, ketunaan setiap siswa berbeda-beda. “Namanya anak berkebutuhan khusus, jadi butuh pendampingan secara khusus juga,” ujarnya.

Suparwoto menambahkan, pengenalan budaya sekolah bisa berlangsung hingga satu semester. Mereka dikenalkan dengan lingkungan sekolah, beberapa nama guru, dan diajari cara bersosialisasi dengan sesama temannya. “Kadang diajari nama guru A kepada salah satu anak, besoknya dia sudah lupa. Jadi, butuh pendampingan ekstra untuk ngajari mereka secara berkelanjutan,” tambahnya.

Dalam sekolah tersebut, Suparwoto menjelaskan, ada beberapa jenis ketunaan. Mulai dari tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunakdaksa, maupun tunalaras. Selama masa pendaftaran siswa di tahun ajaran ini, pihaknya banyak menerima siswa dari tunagrahita. “Karena kelasnya juga dibagi berdasarkan jenis ketunaan. Jadi, butuh beberapa tahap dalam mengenalkan siswa baru itu kepada lingkungan sekolah,” imbuh pria kelahiran Jombang ini.

Bahkan, pihak sekolah juga tidak membatasi masa pendaftaran siswa baru. Meskipun ada siswa baru masuk di pertengahan semester, pihak sekolah akan tetap menerimanya. “Idealnya kalau sekolah SLB itu satu murid satu guru. Di sini, kadang satu guru menangani lima siswa itu sudah kewalahan,” tukasnya.

Dari 13 guru yang mengajar di sekolah tersebut, lanjutnya, mereka harus mengampu sebanyak 48 siswa dari jumlah total siswa yang ada. Sejumlah 10 siswa di antaranya tercatat sebagai siswa baru. “Ada beberapa jenis ketunaan yang gurunya hanya mengajarkan cara bersosialisasi dan mengenalkan lingkungan saja. Karena kalau diajari pelajaran, mereka tidak mampu,” jelasnya. (*)

IKLAN

Reporter : mg2

Fotografer : mg2

Editor : Mahrus Sholih