Komunitas Hobi: Zona Aman Fishing Club Jember

Tak Sekadar Hobi, juga Atur Ritme Lomba Pemancingan

SEDULURAN SELAWASE: Perwakilan komunitas Zona Aman Fishing Club Jember (dari kiri) Reza, Bedor, Agus Eko, Rendi, dan Fajar saat berkunjung ke Kantor Radar Jember.

RADARJEMBER.ID – Jember tidak hanya terkenal dengan potensi tembakau ataupun JFC-nya. Tapi juga dikenal sebagai maniak mancing. Ya jumlah pemancing sangat banyak termasuk juga jumlah kolamnya. Semakin banyaknya kolam pemancingan itulah, membuat para pemancing membentuk komonitas bernama Zona Aman Fishing Club Jember.

“Bukan sedarah tapi kami adalah saudara. Teman sejati adalah dia yang rela mengulurkan tangannya di saat teman yang lain sedang kesusahan.”

Inilah kata-kata ‘penyemangat’ yang menempel di kaos lima orang dewasa itu. Lima orang tersebut bernama Reza, Bedor, Agus Eko, Rendi, dan Fajar. Ya mereka adalah para pecinta mancing dari Jember yang membentuk sebuah komunitas bernama Zona Aman Fishing Club Jember.

Nama zona aman menjadi nama klub mancing sedikit nyeleneh. Bahkan, tidak sedikit orang bertanya mengapa memakai zona aman. Padahal masih banyak istilah memancing yang lebih keren dan bisa diterima oleh penghobi mancing.

“Pakai nama Zona Aman ini ya ada ceritanya. Pada intinya komunitas ini terbentuk karena keprihatinan para pemancing dengan kondisi pengelola kolam pemancingan di Jember,” kata Fajar Maulana Ketua Zona Aman Fishing Club Jember.

Pria 34 tahun yang bertempat tinggal di daerah Jalan Gajah Mada menjelaskan, dulu para pemancing khususnya yang pemancing kolam itu adem ayem, tidak satu tahun belakangan ini yang binggung terlalu banyak perlombaan.

Ya kondisi permancingan Jember permasalahan beberapa tahun ini adalah semakin meningkatnya jumlah pengelolah kolam ikan. “Pengelola kolam ikan yang besar di Jember hanya dua tempat saja. Sekarang untuk kolam lele saja bisa 40 kolam lebih,” tuturnya.

Semakin banyaknya kolam, kata dia, secara matematis menguntungkan bagi para konsumen yaitu penghobi mancing. Justru hal itu menjadi bumerang pagi pemancing, yang membuat mereka tak nyaman lagi dengan hobi memancingnya tersebut.

Sebab, kata Fajar, semakin banyaknya kolam ikan, semakin tinggi pula tingkat persaingan antar pemilik kolam. Menurut Fajar, persaingannya mulai tidak sehat lagi. Jadwal lomba antar kolam pun bersamaan. “Hampir tiap malam itu ada lomba. Hari minggu saja itu bisa empat sampai loma kolam menggelar lomba,” katanya.

Tak sekadar bersaing di lomba ataupun hadiah. Melainkan juga mulai memprovokasi para pemancing dan sabotase pemancing untuk pindah tempat kolam ikan. Kondisi seperti inilah membuat para pemancing tidak nyaman. “Dari tidak nyaman ini kita ingin aman. Makanya namanya jadi Zona Aman,” tuturnya.

Sehingga, Fajar, Agus Eko, dan teman sesama pemancing ada inisiatif membentuk komunitas memancing yang juga bertujuan untuk mengharmoniskan para pengelolah kolam ikan. Setiap ada kolam ikan yang menggelar lomba secara bersamaan. Komunitas yang satu ini mencoba komunikasi, agar tidak di waktu yang sama.

Secara bertahap tapi pasti, para pemilik kolam ikan mulai harmonis. Mereka bisa mengatur jadwal lomba. Bukan itu saja, edukasi memakai ikan lele dari petani sebagai ikan yang dilombakan dilakukan komunitas Zona Aman Fishing Club Jember. “Lele itu ikan yang banyak dibudidaya oleh petani. Sehingga, petani merasa ada manfaatnya lewat keberadaan kolam ikan,” imbuhnya.

Dia juga memberikan penjelasan agar pemilik ikan mengelar lomba itu harus mengedepankan pelayanan. Contoh paling sederhana adalah memakai ikan yang fit. “Jangan sampai ada pendapat ikan yang dilombakan itu sudah keyang atau sakit, jadi nggak doyan makan. Kalau sudah seperti ini reputasi kolam itu akan hancur dan bisa tutup. Padahal keberadaan kolam ikan ini fasilitas bagi penghobi mancing,” pungkasnya.

IKLAN

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Hadi Sumarsono