Ahmad Nurhakim, Mahasiswa yang Menyambi Bekerja Mandiri

Jadikan Hobi sebagai Ladang Rezeki

WIRAUSAHAWAN: Ahmad Nurhakim saat merawat sejumlah hewan ternak yang menjadi ladang bisnisnya selama ini.

Bagi sebagian orang, berkawan dengan hewan menjadi aktivitas yang menyenangkan. Bahkan, mereka rela menyisihkan waktu dan uang untuk menyalurkan hobinya tersebut. Nah, di antara para pecinta fauna itu ada juga yang menjadikannya sebagai ladang bisnis.

Memiliki ketertarikan yang mendalam terhadap dunia binatang seolah sudah menjadi bawaan Ahmad Nurhakim. Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Jember (Unej) itu dikenal memiliki hobi merawat hewat. Tak sekedar merawat, dia juga menjual-belikan piaraannya.

Pemuda yang berasal dari Kelurahan Tegal Besar, Kaliwates ini bisa dibilang cukup menginsipirasi. Terutama bagi para mahasiswa. Karena di usianya yang masih muda, dia mampu mengimbangi aktivitas kuliah sambil bekerja secara mandiri. Binatang yang menjadi lahan bisnisnya pun tergolong unik dan langka, yaitu Sugar Glider (Pertaurus Breviceps).

Sejak awal, Hakim mengaku tak terfikirkan untuk ternak dan menjual hewan yang memiliki nama pasar SG tersebut. Justru dia malah berkeinginan yang lain. “Saya dulu sebenarnya ingin ternak ayam. Karena saya melihat ayam itu bisa berproduksi setiap hari. Saya pikir itu sangat prospek,” katanya.

Rupanya, idenya itu tak berjalan mulus. Sebabnya, dia kurang mendapat restu dari sang ibu. Mengingat, lingkungan tempat tinggalnya yang berada di daerah perumahan, bisa menimbulkan dampak yang kurang baik terhadap lingkungan. Meskipun tak mendapat dukungan, impian untuk memiliki kandang ayam masih tetap melekat di benaknya.

Namun keinginannya itu, seketika buyar saat dia melihat sebuah pertunjukkan pencarian bakat di salah satu stasiun televisi. Dari sana, rasa ketertarikannya mulai tumbuh terhadap hewan marsupial itu. “Pada 2011 itu saya mulai pelajari hewan SG ini. Tanya-tanya ke teman, mencari ke internet, dan lain-lain saya pelajari,” tambahnya.

Hampir berjalan empat tahunan, tepatnya awal 2015, dia mulai memutuskan untuk memiliki hewan nocturnal tersebut dan mulai mencoba-coba memasarkannya. Menurutnya, berbisnis memang sudah menjadi passion bawaannya. Setelah melalui pertimbangan yang matang, dia memberanikan diri mengambil hewan kecil menggemaskan itu dari beberapa wilayah untuk diternak kembali.

“Waktu itu modal saya masih Rp 1,5 juta. Dana segitu saya ambil empat ekor dari jenis-jenis yang standar untuk dikembangbiakkan,” imbuh mahasiswa semester 11 tersebut.

Dengan modal tersebut, dia mulai menjalankan bisnisnya. Tak hanya mengembangbiakkan, tapi juga jual beli SG ke sejumlah wilayah. Bahkan, sudah beberapa kali mengirim SG ke luar kota. Seperti Jakarta, Banyuwangi, Sragen, Bali dan sejumlah daerah lainnya.

Harganya yang terbilang cukup fantastis, membuat hewan SG miliknya cukup diminati di pasaran. Meski pesanan lebih didominasi dari luar Jember. “Untuk jenis yang saya punya saat ini, berkisar dari Rp 600 ribu hingga Rp 1 juta-an per ekor. Dalam seminggu atau dua minggu sekali pasti ada yang order,” tambahnya.

Kini, mimpinya yang sempat ingin memiliki ternak ayam sudah benar-benar lenyap dari benaknya. Karena pemuda 24 tahun itu telah memiliki omzet dari bisnis SG itu hingga belasan juta rupiah per bulan. “Alhamdulillah, penghasilan selama ini bisa untuk dibuat modal dan pemenuhan kebutuhan pendidikan saya,” tandasnya.

IKLAN

Reporter : Maulana

Fotografer : Maulana

Editor : Mahrus Sholih