Manfaatkan Pos Kamling sebagai Tempat Belajar Anak Kampung

Inisiatif Gombez, Komunitas Pemuda di Desa Wonosari, Puger

Belajar bisa di mana saja. Tak harus di rumah atau ruang kelas. Prinsip inilah yang diterapkan oleh para penggagas Rumah Belajar Gombez di Dusun Lengkong, Desa Wonosari, Puger. Mereka memanfaatkan pos kamling yang biasanya dipakai ronda sebagai tempat belajar anak-anak di desa mereka. Seperti apa?

BELAJAR DI POS KAMLING: Meski hanya belajar di pos kamling, anak-anak tetap semangat bersama para pemuda di desa setempat. 

RADAR JEMBER.ID – Secara fisik, tak ada yang istimewa dari pos kamling yang didominasi warna merah itu. Seperti pada umumnya, terbuat dari susunan kayu dan bambu. Hanya saja, bangunan yang berdiri dua lantai tersebut tak cuma dilengkapi dengan kentongan dan pentungan, tapi juga papan tulis dan puluhan meja kecil. Beberapa potongan bambu yang berfungsi sebagai tempat spidol juga terpasang di tiang.

Tempat ronda inilah yang dimanfaatkan sekumpulan anak muda desa untuk menggagas rumah belajar. “Sejak awal Ramadan kemarin masih libur. Dan akan mulai lagi pada Senin (hari ini, Red) bersamaan dengan awal masuk sekolah,” kata Ahmad Mujari, penggagas dan pendiri Rumah Belajar Gombez.

Menurut Mujari, pendirian rumah belajar itu merupakan perjalanan panjang pergumulan ide dari sekumpulan anak muda di kampungnya. Semula, mereka hanya nongkrong-nongkrong saja di pos kamling itu. Namun, aktivitas itu dianggapnya tak memiliki banyak manfaat. Hingga kemudian muncul gagasan untuk membantu orang-orang fakir di dusunnya melalui kegiatan sosial yang dimulai sekitar 2012 lalu. Dari sinilah awal mula berdirinya Golongan Manusia Berjiwa Sosial atau Gombez.

Awalnya, para pemuda hanya menggalang donasi dari masyarakat setempat guna membantu warga kurang mampu. Mulai dari sekadar membagikan sembako sampai merehabilitasi rumah tak layak huni, dan mendirikan kelompok pengajian.

Beberapa tahun kemudian, munculnya penyalahgunaan obat, minuman keras, dan kecanduan game di anak-anak desa membuat penggawa Gombez resah. Mereka lantas mendirikan rumah belajar yang diperuntukkan khusus bagi anak-anak di kampungnya.

Tujuannya tak hanya memberi ruang belajar bareng bagi anak, tapi juga mencegah merebaknya penyalahgunaan obat dan mengurangi kecanduan game pada anak. “Kemudian kami sepakat untuk menggunakan pos kamling ini sebagai tempat belajar,” kata Mujari, yang rumahnya persis di belakang pos ronda tersebut.

Rupanya, gagasan itu disambut baik oleh masyarakat. Banyak orang tua yang mengikutkan anak-anak mereka di rumah belajar itu. Jumlahnya lebih dari 30 anak yang berasal dari dua dusun, Lengkong dan Penitik. Banyaknya anak yang ikut belajar bersama itu membuat pemuda 27 tahun tersebut mengajak sejumlah relawan. Tak hanya pemuda di kampungnya saja, tapi juga dari luar desa. “Dulu saat awal berdiri tiga tahun lalu, ada enam orang relawan. Ada yang dari Balung dan Desa Kasiyan juga,” ujarnya.

Di awal-awal berdirinya rumah belajar ini, anak-anak hanya diajak studi tentang pelajaran mereka di sekolah dan mengerjakan PR. Namun dalam perkembangannya, mereka juga dikenalkan dengan berbagai problem dan hak-hak anak. Semisal tentang dampak negatif gawai, bahaya penyalahgunaan obat, lem, atau rebusan pembalut, hingga hak anak dalam pembangunan di desa. “Dalam sepekan ada tiga kali pertemuan, yaitu Minggu, Selasa, dan Jumat. Waktunya selepas Magrib,” jelasnya.

Eksistensi Rumah Belajar Gombez ternyata didengar oleh salah satu lembaga swadaya masyarakat di Jember. Mereka kemudian dilibatkan dalam respondensi tentang pekerja anak di perkebunan tembakau. Akhirnya, salah satu anak di komunitas Gombez dipercaya mewakili Jember di Forum Anak Desa tingkat Jawa Timur di Surabaya, beberapa waktu lalu. “Ke depan, kami ingin ada regenerasi relawan, serta ingin menjadi rumah belajar dan bermain dengan menghidupkan kembali permainan tradisional anak yang saat ini mulai ditinggalkan,” tutur Mujari.

Salah satu anak yang bergabung di Rumah Belajar Gombez adalah Ayuke Berlianing Tiyas. Remaja yang kini duduk di kelas 3 SMP itu telah dua kali mewakili Jember di forum anak desa tingkat provinsi. Pertama bersama Ketua Forum Anak Jember yang saat itu dijabat Muhammad Syaiful Reza, dan yang kedua dia berangkat sendiri bersama dua orang pendamping, Rizki Nurhaini dari Yayasan Prakarsa Swadaya Masyarakat (YPSM) dan perwakilan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jember.

Ayu mengaku, dirinya adalah peserta yang paling muda. Di forum itu setiap perwakilan diminta menyampaikan isu yang ada di daerah masing-masing. Kala itu, Ayu membawa isu tentang ancaman narkoba terhadap anak desa. Salah satunya soal rebusan pembalut. “Saya khawatir hal itu akan merambah sampai ke desa,” kata Ayu, sapaan gadis 14 tahun tersebut.

Tiga tahun aktif di Rumah Belajar Gombez, kini Ayu tercatat sebagai salah satu relawan. Jadi, dirinya tak hanya belajar, tapi juga ikut menularkan ilmu dan pengalamannya kepada adik-adik di komunitas itu. Menurut Ayu, belajar bersama di pos kamling membuat dirinya lebih semangat. “Karena kalau belajar sendiri di rumah cenderung malas membuka buku,” akunya.

Kendati komunitas belajar ini cukup eksis, bukan berarti masalah anak di desa tuntas. Kata Ayu, kini ada problem baru yang dihadapi anak dan orang tua di kampungnya. Menurut dia, sebagian anak di dusunnya mulai bermasalah dengan gawai. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar ponsel ketimbang bermain dengan anak sebaya. “Makanya, kami ingin menyemarakkan kembali permainan tradisional. Seperti jumpritan (petak umpet, Red) atau permainan tradisional yang lain,” tandas remaja yang bercita-cita menjadi dosen tersebut. (*)

IKLAN

Reporter : Mahrus Sholih

Fotografer : Istimewa

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti