FKIP Unej Adakan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia

PERTAMA DI JEMBER: FKIP Unej bekerjasama dengan Balai Bahasa Jawa Timur mengadakan UKBI. Tes kemampuan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar ini disebut baru pertama diselenggarakan di Jember.

TEGALBOTO – Tak hanya tes toefl Bahasa Inggris saja yang diperlukan sekarang ini. Baik untuk mahasiswa maupun akademisi. Namun, Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) pun juga penting. Apalagi, diperuntukkan bagi para guru mata pelajaran Bahasa Indonesia (BI) dan mahasiswa sastra Indonesia.

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember, bekerjasama dengan Balai Bahasa Jawa Timur, mengadakan UKBI, di kampus FKIP Unej, kemarin (13/7). Uji kemahiran itu diikuti puluhan peserta. Ada 60 mahasiswa dan sembilan guru yang mengikuti pengujian berbahasa Indonesia tersebut.

Wakil Dekan 1 FKIP Unej, Suratno menuturkan, UKBI itu sangatlah penting. Kata dia, untuk mengetahui sampai sejauh mana keterampilan berbahasa Indonesia yang baik dan benar di civitas Unej. “Dalam hal ini bagi mahasiswa yang mau lulus agar mereka punya standarisasi kemahiran berbahasa,” bebernya.

Selain itu, UKBI ini dinilainya juga penting bagi para guru guna mengetahui sampai dimana level kemahiran mereka. Karena Bahasa Indonesia adalah milik kita semua. Bahasa juga menunjukkan budaya. “Dengan budaya pula seharusnya kita mencintai bahasa Indonesia,” paparnya.

Sementara itu, Ketua Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Furoidatul Husniah mengatakan, kegiatan UKBI tersebut sudah masuk dalam program tahunan. Sebelumnya, UKBI ini bakal digelar bulan Maret lalu. Namun, tertunda.

“Karena ada respon positif dari pihak universitas di bawah LP3M, kegiatan ini kemudian diakomodasi dalam sebuah kerjasama. Jadi UKBI ini dikemas kerjasama antar lembaga,” kata dia.

UKBI tersebut sudah digelar dua kali, namun baru kali ini yang pertama dilaksanakan di Jember. Furoidatul Husniah berharap, tahun depan kegiatan serupa bisa terlaksana kembali. “Tujuan kami dengan skala prioritas pertama yakni ketika toefl diwajibkan di Unej. Maka prodi kami berinisiatif untuk UKBI juga. Karena disini memang pesertanya banyak,” imbuhnya.

Dari tim Balai Bahasa Jawa Timur sendiri, ada tiga orang yang hadir. Salah satunya Wenni Rusbiantoro, Peneliti Muda Balai Bahasa Jatim. Menurut dia, pengujian kali ini dilaksanakan dalam tiga sesi dari lima sesi yang ada. Yakni sesi dengaran, sesi merespon kaidah, dan sesi membaca, sesi menulis, dan sesi berbicara. “Namun pada umumnya, dengan hanya tiga sesi saja sudah bisa mewakili kemahiran peserta,” jelas Wenni.

Dia juga mengaku miris, dengan Bahasa Indonesia yang dikesampingkan dengan tuntutan wajib lulus toefl. Padahal, penguasaan bahasa sendiri belum baik dan benar. Terutama guru dan mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. “Paling tidak mereka harus menguasai dan melihat tingkat kemahirannya,” pungkas dia. (*)

IKLAN

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Muchammad Ainul Budi

Editor : Mahrus Sholih