Sakit Parah Empat Bulan, Hanya Periksa Dua Kali

Kuli Bangunan Meninggal di Malaysia

SAKIT: Jenazah Matjuri, TKI Malaysia hendak dipulangkan ke Indonesia. Korban akhirnya tiba di rumah duka Desa Jamintoro, Sumberbaru

RADAR JEMBER.ID – Kasus meninggalnya Matjuri, 35, tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia, patut menjadi perhatian bersama. Sebab, pria asal Dusun Krajan, RT 2 RW 1, Desa Jamintoro, Kecamatan Sumberbaru tersebut, meninggal dunia setelah mengalami sakit selama empat bulan. Selama empat bulan, pekerja migran tersebut tak dirawat di rumah sakit. Korban hanya sempat diperiksakan dua kali ke sebuah klinik yang ada di negeri jiran tersebut.

Sebelum korban meninggal pada 9 Juli 2019, kabar sakit yang diderita Matjuri sempat tersebar di media sosial. Rekan kerjanya yang juga berada di Malaysia hanya bisa membantu menyediakan tempat singgah bagi pekerja konstruksi tersebut di sebuah kongsi perkebunan sayur, di Malaysia. Dia dirawat oleh teman-temannya.

Pada saat di rawat teman-temannya itulah, kondisi fisik korban terus melemah. Badannya kurus dan tidak mendapat perawatan medis secara berkesinambungan pada penyakit kanker usus yang diderita Matjuri. “Berdasarkan keterangan teman korban, selama sakit korban sempat dibawa ke klinik dua kali,” kata Bambang Teguh Karyanto, Koordinator Migrant CARE Jember.

Kabar sakitnya korban yang beredar di media sosial akhirnya direspons oleh Pemkab Jember dan mengoordinasikannya ke Migrant CARE Kuala Lumpur (MCKL). “MCKL kemudian mengunjungi Matjuri di kongsi pada 4 Juli 2019,” imbuh Bambang.

IKLAN

Melihat kondisi fisik Matjuri yang sangat lemah, MCKL memutuskan membawanya ke klinik untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh. MCKL menerima hasil pemeriksaan kesehatan dari Klinik pada 9 Juli 2019 dan dokter menyatakan bahwa Matjuri menderita kanker usus.

Matjuri selanjutnya dibawa kembali ke kongsi sayuran hingga akhirnya meninggal dunia dalam perjalanan. “Selesai administrasi pada 11 Juli 2019. Kemudian jenazah korban dipulangkan dengan proses penjemputan dibiayai pemerintah,” jelas Bambang.

Dengan kasus yang dialami Matjuri, Bambang berharap seluruh TKI atau keluarganya menginformasikan apabila ada hal-hal penting. Seperti TKI sakit parah atau terkena musibah. Keluarga disarankan langsung menyampaikannya. “Harapan kami ke depan, harus ada sinergi dari semua pihak. Agar pengawasan dan perlindungan terhadap TKI semakin baik,” pungkasnya Bambang.

Sekadar informasi, Matjuri bekerja di Malaysia sebagai seorang kuli atau tukang pada proyek konstruksi sebuah perusahaan. Dia berangkat ke sana sejak Maret 2015 lalu. Setelah meninggal dunia, korban dipulangkan ke rumah duka. Siang kemarin (12/7), jenazah almarhum tiba di Sumberbaru.

Peristiwa ini juga menjadi perhatian Pemkab Jember. Bahkan, Wakil Bupati Abdul Muqit Arief mendatangi rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa. Di sisi lain, pemerintah daerah juga telah menghubungi perwakilan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Jawa Timur.

Ternyata, tak ada anggaran yang disiapkan pemerintah untuk pemulangan jenazah buruh migran dari luar negeri ke Indonesia. Anggaran hanya tersedia untuk pemulangan jenazah dari provinsi ke daerah asal. “Kami juga telah menghubungi Pak Himawan, Kadisnaker Jatim, rupanya juga tidak ada anggaran pemulangan,” kata Faida, Bupati Jember.

Oleh karenanya, pemerintah daerah bakal menanggung seluruh biaya pemulangan jenazah tersebut. Menurutnya, sesuai perhitungan KBRI Kuala Lumpur yang telah menunjuk casket yang akan memulangkan jenazah Matjuri, biaya yang dibutuhkan sebesar RM 3.600 atau sekitar Rp 12.600.000. “Sudah kami selesaikan pembayarannya, sehingga dapat diproses pemulangan jenazahnya,” jelasnya. (*)

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Nur Hariri

Editor : Mahrus Sholih