Jalan Sunyi Unifah Rosyidi (Catatan Seputar Kongres XXII PGRI)

KONGRES XXII Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang diselenggarakan di Gedung Britama Arena Mahaka Square Jakarta mulai tanggal 4-7 Juli 2019 cukup lancar dan sukses. Tidak seperti kongres-kongres PGRI sebelumnya yang biasa outdoor dan melibatkan para penggembira yang demikian meluap, kali ini diselenggarakan indoor di Gedung Britama Arena dengan kapasitas yang sangat terbatas.

Inilah langkah cerdas PGRI mencermati setuasi dan kondisi nasional saat ini, khususnya pascapilpres. Residu politik dari perhelatan panjang pileg dan pilpres yang berlangsung cukup melelahkan dan memakan energi bangsa, diantisipasi cukup bijak oleh PGRI. Ia tidak akan menjadi bagian dari kegaduhan baru dalam penyelenggaraan pesta demokrasi internal organisasi.

Justru inilah Kongres yang relatif tenang dan steril dari pengaruh-pengaruh eksternal yang akan merusak PGRI. Betapa tidak, setiap peserta dan peninjau yang akan masuk ruangan saja harus menunjukkan name tag dan ID Card dengan barcode yang teregistrasi secara online. Dengan cara ini PGRI mampu menihilkan kongres dari upaya-upaya infiltrasi, teror, dan kehadiran orang-orang tak bertanggung jawab yang memanfaatkan keadaan. Tentu hal ini melalui by design cantik yang tidak ujuk-ujuk. Tenaga-tenaga IT handal yang dibantu mahasiswa UNJ, menjadikan pelaksanaan kongres ini lebih profesional dan top markotop. Dengan persiapan yang cukup matang kegiatan kongres berhasil keluar dari jebakan stagnasi dan kejumudan. Inilah keberhasilan panitia kongres yang patut diacungi jempol.

Gambaran diatas merupakan contoh kecil dari keberhasilan PGRI dibawah kepemimpinan Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd dalam mengantarkan PGRI sebagai organisasi yang lebih profesional. Dari contoh kecil ini menjadi pintu masuk baginya untuk dapat melanjutkan kepemimpinannya menjadi Ketua Umum PB PGRI Masa Bakti 2019-2024. Sebab resiko sebagai petahana, akan terus diintip kekurangannya dan menjadi tema panas di ruang kampanye.

Kemenangan Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd dalam pemilihan langsung Ketua Umum PB PGRI pada Kongres XXII, sudah diprediksi jauh-jauh hari oleh banyak orang. Berbekal kerja kerasnya sebagai Ketua Umum selama ini, ia berupaya merangkul semua kekuatan di dalam PGRI. Radius pergaulannya terus mengglobal. Keterpilihan sebagai Ketua Educational International (EI) wilayah Asia Pasific menjadi bukti nyata bahwa ia telah diterima di dunia internasional. Hal ini menjadi credit point baginya untuk memimpin organisasi sebesar PGRI. Bisa saja hal ini menjadi salah satu indikator sebagai calon pemimpin negeri ini. Ditambah lagi pengukuhan sebagai Guru Besar di Universitas Negeri Jakarta beberapa waktu lalu yang dihadiri para pejabat negara, semakin mengukuhkan akseptabilitas dan kapasitas kecendikiawanannya sudah menembus sekat-sekat kenegaraan. Terlalu prematur jika kita menyimpulkan sosok Unifah Rosyidi sudah layak diberi beban lebih besar lagi di luar PGRI.

Pada saat bersamaan dengan terpilihnya Unifah Rosyidi, PGRI memberikan isyarat tentang tuntasnya persoalan gender di Indonesia. Unifah Rosyidi akan berjejer dengan perempuan-perempuan penting negeri ini seperti Sri Mulyani, Megawati Soekarno Puteri, Khofifah Indar Parawansa, dan Susi Pujiastuti. Barangkali inilah yang menjadi magnet kuat mengapa ia mampu merebut hati para peserta kongres yang luluh dan memberikan mandat untuk kembali memimpin PGRI lima tahun ke depan.

Sebagai Ketua Umum PB PGRI yang menggantikan Dr. Sulistyo yang meninggal setelah setahun pasca kongres PGRI XXI, Unifah Rosyidi lebih menunjukkan karakter keibuannya. Ia menjadi antitesis dari model perjuangan sebelumnya. Jika sebelumnya perjuangan PGRI identik dengan pendekatan jalanan dan unjuk rasa, sebaliknya Unifah Rosyidi lebih menempuh jalan sunyi, jalan yang tak disukai banyak orang. Betapa persoalan pendidikan mulai dari nasib guru honorer, kekurangan guru, Tunjangan Profesi Guru, beratnya administrasi guru, dan segala tetek bengek persoalan ditempuhnya melalui dialog, diskusi, berkunjung ke kementerian, bahkan menyampaikan secara langsung di hadapan Presiden RI, Joko Widodo. Ia memilih keluar dari arus utama gerakan dan siap tidak populis.

Pilihan ini tentu tidak mudah, karena akan berhadapan dengan sebuah mindset lama, bahwa persoalan indentik dengan aksi dan demonstrasi. Di sinilah tantangan bagi Unifah Rosyidi untuk meyakinkan banyak orang agar bersedia mengikuti garis kebijakannya. Sebagai sebuah langkah dan gaya kepemimpinan dalam organisasi, ia benar-benar bekerja keras menunjukkan pilihan model perjuangannya sebagai pilihan organisasi bukan lagi pilihan pribadi. Kendati banyak orang mencibirnya karena dianggap terlalu soft, Unifah terus melangkah menyelesaikan tugas-tugas organisasi hingga kongrespun tiba.

Dengan semangat kerja tanpa kenal lelah ia turun ke Cabang-Cabang untuk mendengar langsung jeritan dan realita nasib guru Indonesia. Dan ending-nya, banyak orang menaruh simpati terhadap pilihan dan strategi perjuangan yang dipilihnya. Kehadiran Presiden RI Joko Widodo yang membuka langsung Kongres XXII PGRI, menjadi penanda bahwa pemerintah memberikan perhatian serius terhadap PGRI. Simpati Wapres Yusuf Kalla jauh-jauh hari ditunjukkannya dengan menggelontorkan sejumlah dana untuk renovasi Gedung Guru Indonesia yang kian representatif. Maka wajar jika ia terpilih secara meyakinkan setelah bertarung merebut simpati peserta kongres melawan Agus Suradika (Ketua PGRI DKI Jakarta) dan Qudrat Nugraha (Sekjen PB PGRI).

Kedekatan Unifah dengan Presiden RI Joko Widodo, Wapres Yusuf Kalla, Mendikbud Muhajir Efendi, dan para pejabat lain menjadi jalan layang baginya dalam mengantarkan PGRI agar dapat diterima di semua lini. Beban psikhologis masa lalu PGRI akibat melakukan improvisasi yang terkesan nakal dan berdampak masif terhadap kelangsungan PGRI, lambat laun mulai hilang.

Sebagai seorang ibu, Unifah Rasyidi benar-benar memahami bagaimana harus berkomunikasi, membangun harmoni, menyampaikan aspirasi dengan diksi yang tepat dihadapan pemerintah. Ia ingin mengetuk hati para pemimpin negeri tentang nasib guru dan realita pendidikan Indonesia, ketimbang menggedor pintu senayan, dan mengepung istana. Dan, dengan pendekatan persuasif seperti itu, PGRI justru menjadi magnet dengan mendapat undangan langsung ke Istana Presiden guna mendiskusikan persoalan pendidikan.

Ke depan, di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Unifah Rosyidi PGRI sebagai kekuatan ketiga setelah Muhammadiyah dan NU, diharapkan mampu memainkan peran lebih besar lagi selain sebagai organisasi profesi. Banyak kader potensial yang memiliki skill, dan leadership yang bagu siap mendarmabaktikan segenap kemampuannya. Sebagaimana Muhammadiyah dan NU yang lebih awal berada di barisan pemerintahan, tentu bukan hal yang tabu apabila PGRI diajak bersama-sama mengelola negeri ini. Sebab efektivitas perjuangan selama ini seringkali terkendala karena adanya jarak yang cukup jauh antara PGRI dan para pengambil kebijakan. Sementara ide-ide mengalir begitu cepat dan dahsyat melampaui kemampuan untuk mengimplementasikannya. Maka tugas kita bersama, bagaimana mempersempit jarak itu atau menghilangkannya sama sekali.

*Penulis adalah Kepala SDN Prajekan Lor 1 Bondowoso serta Sekretaris PGRI Kabupaten Bondowoso.

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :