Jago Mereparasi, Tangguh di Kejuaraan Downhill

Hendrik Wahyudi, Atlet Merangkap ‘Dokter’ Sepeda

Bagi pencinta gowes di Jember, nama Hendrik Wahyudi alias Andik sudah banyak yang kenal. Keahliannya mereparasi sepeda membuatnya dipercaya memperbaiki beragam jenis sepeda. Mulai harga ratusan ribu hingga puluhan juta. Namun, siapa sangka, pria yang dulunya atlet BMX ini ternyata juga jago downhill. Bahkan, pada Kejurnas akhir Juni kemarin, dia meraih juara empat.

MONTIR SEPEDA: Andik sedang membetulkan sepeda gunung di bengkelnya di daerah Tegal Besar. Selain ahli dalam memperbaiki sepeda, dia juga seorang mantan atlet sepeda Kontingen Jember di Porprov II 2009.

RADAR JEMBER.ID – Di sebuah gang kecil yang tak bisa dilewati mobil di daerah Tegal Besar, Kaliwates, terlihat sesosok pria berambut cepak sedang sibuk mendandani sepeda. Tangan berototnya tampak cekatan memasang setiap baut di komponen sepeda. Sesekali dia juga menyeka peluh. Di tengah kesibukannya itu, Andik tak pelit menceritakan tentang bagaimana cara memperbaiki alat transportasi tanpa mesin tersebut.

Walau di gang sempit, tapi antrean orang memperbaiki sepeda cukup panjang. Beragam jenis sepeda juga ditangani. Ada sepeda gunung (MTB), balap, dirt jump, hingga downhill. Pelanggannya juga beragam profesi. Mulai dari pegawai bank, jurnalis, pejabat daerah, hingga bupati pernah datang ke bengkelnya.

Andik pernah menjadi mekanik khusus rombongan sepeda Bupati Jember yang kala itu dijabat MZA Djalal. Kala itu, Andik ikut rombongan orang nomor satu di Jember tersebut beserta para pejabat dinas yang mengikuti tour sepeda. “Kalau sekarang suaminya Bupati Faida yang jadi pelanggan,” katanya.

Keahlian Andik tak lepas dari rasa sayangnya terhadap transportasi menyehatkan dan bebas emisi gas tersebut. Apalagi, ketika muda Andik adalah atlet sepeda BMX Jember. Dia pernah turun untuk Kontingen Jember di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim II 2009 di Malang. Walau finis di urutan kelima dan tidak membawa pulang medali, namun kecintaan Andik terhadap sepeda tidak luntur.

Kejuaraan demi kejuaraan terus diikutinya. Rasa cintanya terhadap sepeda inilah yang membuatnya tertarik mendalami seluk-beluk sepeda. “Awal belajar itu di toko sepeda di daerah Mangli. Setiap hari di sana, mulai mencoba membantu, hingga akhirnya bisa memperbaiki sendiri,” ujarnya.

Rasa ingin bisa memperbaiki sepeda bagi Andik tidak didasari dengan nilai upah yang didapat. Lebih dari itu, karena ia ingin tahu masalah apa yang terjadi di sepeda saat turun di kejuaraan. “Saat turun di kejuaraan selalu ada problem, sehingga tahu cara memperbaiki sepeda banyak untungnya. Seluk-beluk kekurangan sepeda bisa diatasi,” katanya.

Semakin mahir memperbaiki sepeda, Andik memutuskan membuka bengkel sendiri. Sekitar empat tahun menjalankan profesi sebagai mekanik sepeda membuatnya tak punya waktu untuk menjadi atlet lagi. Latihan demi latihan tak pernah dilakukan. Kejuaraan demi kejuaraan pun terlewatkan.

Meski empat tahun sempat gantung sepeda, namun akhirnya Andik kembali mencoba ikut kejuaraan. Tak tanggung, dia ikut Kejurnas Downhil seri pertama di Wonogiri, Jawa Tengah, 29-30 Juni kemarin. Rupanya kemahiran Andik tidak hilang. Dia ikut naik podium di urutan ke empat. “Awalnya nggak mau ikut, hanya untuk mendampingi teman-teman yang ingin ikut kejuaraan downhill,” akunya.

Sebagai mantan atlet sepeda BMX dan kini mengikuti downhill, Andik berpesan bagi para atlet pemula yang baru turun di kejuaraan downhill untuk tidak menyepelekan pemanasan. “Karena downhill itu jalannya turun terus, biasanya banyak yang lupa pemanasan. Padahal, untuk semua olahraga, pemanasan itu sangat penting,” jelasnya.

Terlebih lagi, downhill adalah olahraga sepeda yang memiliki risiko paling besar. Kesalahan atau ragu-ragu mengambil jalan bisa berakibat fatal. Dia mengaku, tidak sedikit rekan-rekannya cedera parah sampai masuk kamar operasi. “Downhill itu tidak hanya teknik yang diperlukan, tapi juga nyali. Jika terjatuh, maka ada tekniknya untuk mengurangi cedera,” ujarnya.

Dia menjelaskan, saat terjadi kecelakaan, tangan sering refleks menyangga tubuh. Akibatnya, tangan tersebut bisa patah. “Coba lihat di televisi pembalap motor jatuh, tangannya lurus ikuti badan. Saat terjatuh juga pasrah saja sampai bergulung-gulung. Teknik itu juga sama diterapkan di sepeda,” pungkasnya. (*)

IKLAN

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih