Menjawab Keraguan Terhadap Biopestisida

SEMESTER pertama 2019 telah terlalui dengan berbagai laporan serangan hama dan penyakit tanaman di berbagai daerah. Pada Bulan Maret petani kopi di Kecamatan Pantan Cuaca, Gayo Lues, Aceh diserang Organisme Penganggu Tanaman (OPT). Berdasarkan penuturan petani, gejala yang muncul diawali dengan matinya tanaman pelindung dan diikuti oleh tanaman kopi yang mengering dan mati dengan cepat. Lain halnya dengan kejadian di Kabupaten Malaka dan Kabupaten Kupang di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada Bulan Maret petani padi harus menelan pil pahit karena tidak maksimalnya hasil panen. Sebanyak 23 hektar lahan padi di Kabupaten Malaka dan 15 hektar lahan padi di Kabupaten Kupang terserang penyakit blas. Blas adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur dari family Pyricularia yang dapat menyerang padi pada semua fase pertumbuhannya.

Serangan OPT juga terjadi di Pulau Jawa. Contoh, pada bulan Maret dilaporkan beberapa petani di 7 kecamatan yaitu Jombang, Diwek, Gudo, Tembelang, Peterongan, Bareng, dan Jogorot mengalami kesedihan yang sama dengan petani padi di NTT. Beberapa petani padi di 7 kecamatan di atas terpaksa harus rela berbagi dengan jamur Pyricularia. Meskipun tidak menimbulkan gagal panen, namun petani harus rela memperoleh hasil panen yang tidak maksimal. Selanjutnya laporan terbaru pada Bulan Juni menyebutkan adanya serangan ulat grayak di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi.

Sebetulnya ledakan serangan OPT sudah terjadi sejak lama. Dikutip dari Klinik Tanaman Institut Pertanian Bogor, tahun 1974, 1975, 1986, 1998, 2010, 2017, dan 2018 Indonesia menghadapi ledakan serangan wereng cokelat di sekitar 500.000 hektar lahan padi. Parahnya, serangan ini banyak terjadi di derah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang merupakan lumbung padi nasional. Fenomena ledakan serangan OPT erat kaitannya dengan teknik budidaya yang diterapkan oleh petani. Penanaman satu jenis komoditas secara terus menerus pada lahan yang sama serta penggunaan pestisida kimia sintetik dapat dikatakan dua hal yang paling besar menyumbang terjadinya ledakan serangan OPT.

Upaya-upaya konvensional seperti penggunaan pestisida telah banyak dilakukan. Sayang, ledakan serangan OPT masih sering jadi momok bagi petani. Sebenarnya pemerintah telah mengatur pengendalian OPT melalui Undang-Undang No 12 Tahun 1992 Pasal 20. Menurut pasal tersebut pengendalian OPT dilakukan dengan sistem pengendalian hama terpadu (PHT). Konsep PHT tidak melarang penggunaan pestisida kimia sintetik, namun diutamakan melakukan pencegahan atau pengendalian dengan teknik yang lebih aman dan ramah lingkungan.

Bicara mengenai pengendalian OPT yang aman dan ramah lingkungan biasanya masyarakat akan mengaitkan dengan biopestisida. Padahal pengendalian seharusnya diawali dengan memilih benih atau bibit yang sehat dan kuat, memilih tanaman yang berbeda famili dari yang ditanam sebelumnya, dan  melakukan perawatan seperti pemupukan dengan tepat. Ikhtiar tersebut kemudian dapat dilanjutkan dengan aplikasi biopestisida untuk mengurangi dampak serangan OPT.

Biopestisida adalah pestisida yang diramu atau bersumber dari mikroorganisme seperti bakteri, jamur, atau nematoda yang digunakan untuk mengendalikan OPT. Sayang, di kalangan petani penggunaan biopestisida masih kalah populer dibandingkan dengan pestisida kimia sintetik. Muncul ketidakpercayaan terhadap efektivitas biopestisida di kalangan petani. Tidak sedikit petani yang meyakini opini bahwa biopestisida hanya efektif di skala laboratorium.

Tidak dapat dimungkiri, aplikasi biopestisida memerlukan lebih banyak energi dan kesabaran dibandingkan dengan aplikasi pestisida kimia sintetik. Menurunnya efektivitas biopestisida dapat terjadi karena kesalahan dalam menyimpan biopestisida, kesalahan dalam aplikasi, atau kualitas lingkungan yang belum mendukung. Sebagai produk yang berbasis makhluk hidup, biopestisida perlu disimpan pada tempat yang bersih untuk menghindari kontaminasi. Produk biopestisida juga sebaiknya disimpan di tempat yang sejuk untuk menghindari matinya mikroorganisme yang menjadi tombak utama biopestisida.

Selanjutnya, biopestisida disarankan digunakan seawal mungkin. Beberapa produk biopestisida bahkan dapat digunakan untuk meningkatkan kekuatan tanaman hanya dengan merendam benih pada cairan biopestisida sebelum ditanam. Jika biopestisida diaplikasikan pada saat tanaman sudah terserang cukup parah maka efektivitasnya akan kurang nyata karena mikroorganisme yang terkandung di dalam biopestisida memerlukan waktu untuk “menyerang” OPT. Hasil akan terlihat baik apabila biopestisida diaplikasikan lebih awal, kontinyu, dan dengan dosis yang tepat. Lebih lanjut, beberapa biopestisida bahkan memiliki peran ganda sebagai penguat tanaman, pengendali OPT, sekaligus penyubur tanaman.

Mikroorganisme yang terkandung di dalam biopestisida akan mati atau tidak berfungsi optimal jika kondisi lingkungannya tidak mendukung. Contoh, jamur yang terkandung di dalam biopestisida dapat mati atau tidak berfungsi optimal bila diaplikasikan pada lahan yang punya riwayat penyemprotan fungisida kimia sintetik dalam dosis tinggi dan waktu yang lama. Residu pestisida fungisida kimia sintetik yang terdapat di lingkungan dapat membuat jamur dari biopestisida stres ketika diaplikasikan ke lingkungan tersebut. Fenomena tersebut perlu disikapi dengan bijak. Apabila aplikasi pestisida pada periode awal belum menunjukkan hasil yang maksimal, petani disarankan tidak meninggalkan biopestisida. Petani disarankan untuk terus menggunakan biopestisida agar di masa depan lahannya menjadi lebih sehat dan mendukung untuk penggunaan biopestisida.

Penggunaan penggunaan biopestisida akan menguntungkan petani. Aplikasi biopestisida tidak menimbulkan resistensi OPT, sehingga tidak memicu munculnya ras OPT baru yang lebih ganas dan kuat. Selanjutnya, banyak OPT yang tidak efektif dikendalikan menggunakan pestisida kimia sintetik namun dapat dikendalikan menggunakan biopestisida. Sebagai contoh, penyakit tanaman yang disebabkan oleh infeksi virus dan nematoda akan lebih efektif bila dikendalikan menggunakan biopestisida. Ditinjau dari sisi keamanan hayati, aplikasi biopestisida juga lebih sehat untuk lingkungan dan konsumen produk pertanian.

Biaya produksi biopestisida lebih murah sehingga ongkos produksi juga dapat ditekan dan keuntungan petani meningkat. Kebutuhan akan biopestisida di masa yang akan datang adalah tantangan bagi akademisi, peneliti, praktisi, dan sektor bisnis untuk memproduksi biopestisida yang ampuh dan tidak mudah berubah sifat. Keberlanjutan pertanian Indonesia adalah tanggung jawab bersama.

*) Penulis adalah dosen Program Studi Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jember.

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :