Jangan Bandingkan Film dengan Novelnya

JUDUL ini adalah kalimat senjata yang harus ditanam dan disemai dalam hati para pecinta Tetralogi Pulau Buru (TPB) atau penggemar Pramoedya Ananta Toer (Pram) saat mendengar bahwa film Bumi Manusia (BM) ‘jadi’ tayang di bioskop mulai 15 Agustus 2019 mendatang. Ya, suka tak suka, film yang official trailer-nya diluncurkan ke publik pada 4 Juli 2019 lalu ini memang harus tayang. Dan, pecinta TPB tentu tidak akan tahan untuk tidak menontonnya meski dikuasai rasa pesimis. Menanam dan menyemai dalam hati kalimat judul ini setidaknya akan menjadi tameng yang menghalau kekecewaan akibat visualisasi yang nantinya tidak sesuai dengan harapan mereka.

Kalimat senjata itu sendiri telah tumbuh dan tersemai dengan baik dalam benak saya sejak pertama kali mendengar bahwa BM akan diadaptasi ke layar lebar, disutradarai oleh Hanung Bramantyo, dan ditunjuk Iqbaal Ramadhan sebagai pemeran karakter Minke. Bukan bermaksud berlebihan, jika merujuk pada kata Najwa Shihab sebagai Duta Baca Indonesia: “Cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca,” maka bagi saya satu buku itu adalah BM. Memang demikian, sama seperti banyak pembaca BM lainnya, saya mulai membacai banyak buku lain setelah membaca karya ini. Ditambah lagi, pada 2014 lalu, saya berkesempatan lebih intens mendalami novel tersebut karena harus memerankan karakter Tuan Besar Mellema dalam naskah Nyai Ontosoroh pada pementasan drama di gedung PKM Universitas Jember. Tentu intensitas itu membuat saya lebih dekat dengan Bumi Manusia. Selain itu, saya juga gemar menonton film sehingga saya punya penilaian subjektif pada film-film adaptasi garapan Hanung, saya pun punya penilaian subjektif pada keaktoran Iqbaal yang di punggungnya masih tertempel karakter Dilan itu. Tentu saya tidak ingin penilaian itu mengganggu saya sendiri nantinya.

Kekecewaan pada film adaptasi novel bukan hal baru di Indonesia. Kita dapat mengingat kembali kejayaan film Ayat-Ayat Cinta (AAC) pada 2008 lalu. Film yang memecahkan rekor Muri sebagai film dengan penonton terbanyak pada 2008 itu bukan hanya dirasa mengecewakan pembaca novelnya, tetapi juga menyedihkan hati mereka. Penghilangan adegan-adegan penting saja mungkin dapat mereka maklumi, tetapi di dalam film yang juga disutradarai oleh Hanung itu didapati banyak perbedaan signifikan dari novelnya. Mardiana (2011) dalam artikelnya bahkan mencatat ada 24 perbedaan signifikan antara isi cerita dalam film AAC dengan novelnya. Jadilah, rasa maklum tak mengalahkan rasa kecewa mereka.

Setelah viral-nya film AAC itu, saya memperhatikan bahwa kekecewaan pembaca novel terhadap film adaptasi di Indonesia terus saja terjadi. Hingga, dapat saya simpulkan bahwa pada setiap film adaptasi pasti akan ada pembaca novelnya yang dikecewakan. Kalau sudah pasti demikian, lantas mengapa masih ada pertanyaan pembandingan “Bagus mana, novel atau filmnya?”

IKLAN

Mari kita intip lagi perjalanan industri perfilman dunia yang tak pernah lepas dari pengaruh karya sastra, sebut saja karya-karya klasik, seperti novel Uncle Tom’s Cabin (1903) karya Harriet Beecher Stowe yang diadaptasi dalam film dengan judul yang sama, atau buku cerita anak-anak berjudul Alice’s Adventure in Wonderland (1865) karya Lewis Carroll yang diadaptasi dalam film film Alice in Wonderland, sampai karya-karya di era modern seperti novel A Song of Ice and Fire (mulai terbit 1996) karya George R.R. Martin yang diadaptasi dalam 8 sesi film dengan judul Game of Thrones. Di Indonesia sendiri, sebut saja film Loetoeng Kasaroeng (1926), film yang paling wahid diproduksi di Indonesia ini tak dapat dipungkiri juga merupakan hasil adaptasi. Beja dalam buku Film and Literature: An Introduction (1978) membuat kita lebih yakin bahwa karya sastra berpengaruh besar bagi dunia film dengan mengatakan bahwa sejak lahirnya Academy Awards tahun 1927 perfilman dunia telah dikuasai film adaptasi. Bahkan Hutcheon dalam buku The Theory of Adaptation (2006) memaparkan bahwa 85% peraih Oscar adalah film yang diadaptasi dari karya sastra berdasarkan data statistik tahun 1992. Lihatlah, betapa karya sastra merupakan bagian penting dari perjalanan industri perfilman.

Lalu, di antara judul-judul besar tadi, adakah perbedaan antara cerita dalam novel dan filmnya? Tentu saja. Mari kita ambil contoh film seri Game of Thrones (GOT) yang diadaptasi dari A Song of Ice and Fire karya George R.R. Martin. Film GOT tayang perdana pada 2011 dan telah usai pada bulan Mei 2019. Artinya, film tersebut telah tamat. Padahal, Martin masih menulis lima dari tujuh seri novel yang diadaptasi film itu. Bayangkan, yang diadaptasi belum selesai ditulis, hasil adaptasinya telah tamat. Jika para pembaca novel A Song of Ice and Fire membanding-bandingkan isi cerita novel dengan film adaptasinya, maka betapa stresnya mereka saat ini.

Memang perlu sebuah pemahaman mendalam agar pembaca novel tidak melulu resah saat bacaan favoritnya diadaptasi ke layar lebar. Kita harus menyadari, meskipun dapat saling mempengaruhi, novel dan film secara signifikan berada di ranah yang berbeda. Novel adalah karya berstruktur teks yang amat kompleks, sedangkan film adalah karya berstruktur audiovisual yang kompleksitasnya terbendung waktu penayangan yang tak lebih dari tiga jam. Novel sangat bergantung oleh kepentingan individual penulis, sedangkan film—apalagi film komersial—sangat bergantung pada kepentingan kolektif: pemilik modal/rumah produksi, sutradara, produser, aktor, pasar, dan sebagainya, ditambah lagi, jika film tersebut adalah film adaptasi, kepentingan penulis juga masuk di dalamnya.

Penulis novel best seller belum tentu mampu menulis skenario film dengan baik, pun sebaliknya, sutradara atau penulis skenario film pemegang rekor Muri belum tentu mampu menulis sebuah novel. Pram punya cara untuk menyampaikan pikirannya melalui novel, Hanung punya cara untuk menyampaikan pikirannya melalui film. Pram tahu cara agar tulisannya best seller, Hanung punya cara agar filmnya box office. Pram telah diakui dunia atas novel-novelnya, Hanung pun diakui dunia atas film-filmnya.

So? Mengharapkan sutradara film memvisualisaikan segalanya adalah kemustahilan. Malah, jika sutradara berusaha sekuat tenaga untuk menuangkan kompleksitas novel dalam film yang diadaptasinya, bukankah kreativitasnya sebagai seorang sutradara justru akan dipertanyakan.

Yang terpenting bagi pembaca novel sebenarnya adalah menggunakan kacamata apresiasi ketimbang menghakimi. Film pada kenyataannya juga membantu mereka yang tak sempat membaca, buta aksara, dan bahkan tunanetra—karena teknologi audionya. Pasti akan ada orang yang hanya sempat membaca novel dan tak sempat menonton filmnya, akan ada pula yang hanya sempat menonton film dan tak sempat membaca novelnya. Bagi mereka, pembandingan novel dengan filmnya yang kita lakukan sungguh tidak ada faedahnya. Justru, sikap kita yang dewasa dalam mengapresiasi akan memberi dampak positif pada mereka, yakni sebuah pemahaman: don’t judge a book by its movie atau don’t judge a movie by its book. Mereka yang hanya menonton film akan penasaran untuk membaca novelnya dan mereka yang hanya sempat membaca novelnya akan penasaran untuk menonton filmnya.

Mari jadikan momentum tayangnya film BM pada Agustus nanti sebagai awal dari kedewasaan kita dalam mengapresiasi. Mari kritisi pegiat film dalam kapasitasnya sebagai pegiat film: bukan sebagai novelis, bukan sebagai pembaca—apalagi yang satu persepsi dengan kita. Salam literasi!

*) Penulis adalah dosen Bahasa Indonesia di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Reporter :

Fotografer :

Editor :