Timbangan Meja Banyak Kecurangan

KALIBRASI: Penera UPT Metrologi Jember R Siget Pramudito mengecek tingkat presisi timbangan meja. Walau ada pedagang yang melakukan tera ulang, namun tetap ada yang bermain curang dengan menambah pemberat di timbangannya.

RADAR JEMBER.ID – Masyarakat harus jeli melihat timbangan yang dipakai oleh pedagang. Sebab, tak seluruh pedagang telah melakukan tera ulang timbangan atau kalibrasi. Bahkan, ada pula pedagang yang curang dengan memasang pemberat di timbangannya.

Penera Unit Pelaksana Teknis (UPT) Metrologi Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jember R Siget Pramudito mengatakan, tera ulang harus dilakukan oleh pelaku usaha perniagaan yang memakai alat ukur. “Tidak hanya timbangan yang ditera ulang, SPBU juga ditera ulang. Jadi, tidak hanya untuk pedagang sembako, tapi juga jasa logistik dan usaha lain yang memakai alat ukur sebagai aktivitas perniagaan,” katanya.

Siget mengaku, dari seluruh timbangan yang ditera ulang, paling banyak yang tidak presisi adalah timbangan meja. Selisih timbangan yang sering dipakai pedagang sembako di sejumlah pasar tradisional tersebut sampai 100 gram. 

Masyarakat juga harus jeli melihat timbangan meja yang dipakai pedagang. Selain itu, tidak semua pedagang melakukan tera ulang, ada pula pedagang yang sengaja memberi pemberat di timbangannya. Kecurangan tersebut pernah dijumpai Siget saat memantau aktivitas pedagang sore di Pasar Tanjung. “Paling banyak itu pedagang ayam di pasar sore Pasar Tanjung,” katanya.

IKLAN

Dia menambahkan, pedagang sore sebagian besar tidak melakukan tera ulang. Berbeda dengan pedagang resmi Pasar Tanjung yang memiliki lapak. Mereka banyak melakukan kalibrasi berat. Menurutnya, untuk mengetahui alat ukur timbangan bekerja dengan akurat adalah dengan melakukan pengecekan sebelum sembako diletakkan.

“Biarkan timbangan kosong, kemudian lihat alat pengukur bagian tengah. Jika seimbang, maka timbangan tersebut akurat. Sebaliknya, jika alat ukur berat ke kanan, maka timbangan harus ditera ulang,” kata Siget.

Tak hanya itu, Siget berkata, tanda timbangan sudah ditera ulang adalah timbangan diwarnai lagi dan tidak berkarat. “Cara paling mudah apakah timbangan itu telah ditera adalah bentuknya bagus. Seperti baru,” imbuhnya.

Dia juga menjelaskan, setiap timbangan yang telah ditera ulang pasti dicat ulang oleh pihak ketiga. Walau kondisi timbangan itu bagus, tambah Siget, juga bukan jaminan timbangan tersebut sesuai. Terkadang ada pedagang yang sengaja memberikan pemberat tambahan, magnet atau plat.

“Masyarakat tetap harus jeli. Sebelum menimbang itu harus tidak ada barang di atasnya. Biasanya mereka sengaja memberikan barang yang terlihat untuk mengelabui timbangan itu tidak presisi,” jelasnya.

Kecurangan timbangan pernah dirasakan oleh Kholik. Dia mengaku, pernah membeli ayam, tetapi setelah pulang, timbangannya selisih ¼ kilogram. Karena itu, pedagang nasi bungkus di Jalan Belitung itu memilih beli ayam potong di Pasar Semeru daripada beli di pasar sore Pasar Tanjung.

Walau harganya lebih mahal, namun di Pasar Tanjung ada pedagang yang curang. “Ada pedagang ayam di pasar sore Pasar Tanjung itu rame. Padahal harganya itu lebih mahal. Ternyata harga murah itu belum tentu ukuran timbangannya pas,” pungkasnya. (*)

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih