Peristiwa Gunung Piramid dalam Kacamata Pengembangan Wisata Daerah

Peristiwa hilangnya Thoriq Rizki Maulidan di Gunung Piramid, Puncak Gunung Saeng Argopuro, Bondowoso, membuat gunung ini ramai dibicarakan di media sosial. Banyak perspektif yang menjadi perbincangan hangat. Paling sering dan ramai dibicarakan adalah perspektif ilmu spiritual. Gunung yang sebelumnya tidak dikenal pun, akhirnya dikenal luas sebab menjadi tren pencarian daring (online) para warganet (netizen). Padahal, sebelumnya hanya ada satu sumber di media daring yang secara khusus bicara tentang destinasi wisata gunung ini. Tiba-tiba hari ini menjadi salah satu topik hangat nasional. Dinas pariwisata setempat sepertinya tidak membuat tren salah satu objek wisata ini tanpa adanya kasus ini. Pada isi inilah penulis ingin menawarkan perspektif lain terkait tersebut.

Ada satu perspektif yang belum tampak muncul ke permukaan dalam menanggapi peristiwa yang terjadi ini, yakni perspektif pembangunan daerah. Pada konteks kejadian ini–dimungkiri atau tidak–Gunung Piramid yang merupakan salah satu puncak Gunung Saeng ini adalah salah satu potensi wisata kabupaten Bondowoso. Beberapa sumber mengatakan, gunung ini memiliki pesona yang luar biasa. Terdapat pemandangan alam dari puncak yang eksotik, tracking jalannya yang menantang para survivor, dan sebagainya. Sebenarnya selain gunung ini, ada cukup banyak gunung lain yang menawarkan daya wisata luar biasa. Ada Gunung Suket, Gunung Raung, Gunung Malang, Gunung Salak dan sebagainya, yang merupakan deretan potensi alam yang dapat dijadikan objek wisata. Jika beberapa pihak serius mengembangkan potensi besar ini, bukan tidak mungkin akan banyak mendorong pengembangan ekonomi daerah.

Sayangnya, beberapa pihak mengatakan potensi alam yang ada belum secara optimal dapat dikembangkan. (Baca, Times Indonesia.co.id – Dinas Pariwisata Bondowoso Tak Mampu Kembangkan Potensi Wisata). Tentu yang demikian ini mengindikasikan dibutuhkannya rekonstruksi upaya pengembangan wisata yang komprehensif. Tulisan ini ingin merefleksikan peristiwa Gunung Piramid sebagai awal dilakukannya upaya tersebut.

Pada aspek pengembangan pariwisata yang menjadi kunci dasar adalah mengetahui hal-hal yang dapat menarik perhatian para wisatawan. Yoeti A Oka mengatakan bahwa beberapa wisatawan tertarik untuk datang ke Indonesia karena adanya tiga hal yang menurutnya sangat menarik. Adapun ketiganya yakni masyarakat (people), alam (nature heritage), dan budaya (cultural heritage). Dalam konteks peristiwa hilangnya Thoriq tentu yang berkaitan adalah nature heritage, berupa gunung tempat peristiwa itu terjadi. Pada sisi ini dapat ditebak, yang tergambarkan dalam benak pemikiran pembaca ialah tentang keindahan Gunung Piramid. Isu pengembangan wisata ini kemudian menjadi tanda tanya besar, bagaimana nature heritage yang berupa gunung tersebut dapat berkembang?

Hal di atas inilah yang kemudian seharusnya diperbincangkan. Tentu niat penulis bukan ingin menafikan kejadian tragis yang menimpa Thoriq, bukan hanya berbincang belasungkawa tanpa menjadikan kejadian itu sebagai sebuah pembelajaran yang bermanfaat. Peristiwa itu seharusnya menjadi pendorong beberapa pihak untuk melakukan pengembangan potensi nature heritage yang dimiliki.

Peristiwa Gunung Piramid dalam kacamata pengembangan wisata, ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama, peristiwa ini membentuk agen social trend yang dapat mempromosikan wisata. Yang demikian ini berkaitan dengan kuasa media. Sebagaimana dipahami bersama, lebih dua minggu berita peristiwa Gunung Piramid menjadi perbincangan hangat di sosial media.

Pada perspektif kuasa media, melalui fasilitas daring atau new media ini menempatkan posisi pengguna media bukan hanya viewer. Lebih dari itu, sebagaimana yang dikemukakan oleh para ahli, setiap pengguna dapat berposisi sebagai user (Pavlik, 1998:137 dan Lister, Dovey & Giddings, 2003: 21). Ditinjau dari hal yang demikian ini, tentu menjadi sangat jelas, hubungan pengembangan wisata dengan peristiwa Gunung Piramid. Jadi, adanya peristiwa tragis ini yang hangat di media, dengan serta merta mendorong adanya user promosi wisata yang ada.

Kedua, peristiwa Gunung Piramid merupakan potret kelemahan pengelolaan destinasi wisata gunung. Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah, bahwa setiap daerah memiliki kewenangan untuk mengembangkan wilayahnya. Dalam pengembangan ini dapat dilakukan oleh pemerintah, swasta maupun masyarakat. Artinya, pengembangan wisata dilakukan oleh masyarakat di daerah tersebut. Boleh dari unsur pemerintah maupun yang lainnya. Nah, persoalan peristiwa hilangnya Thoriq ini tentu berhubungan dengan potensi wisata alam yang seharusnya dikembangkan, namun tidak dikembangkan secara baik. Jadi, dapat saja disimpulkan bahwa baik pemerintah maupun lainnya tidak maksimal mengembang nature heritage (Gunung Piramid) yang sebenarnya merupakan kewenangannya secara institusional.

Kelemahan mengembangkan wisata gunung sebenarnya bukan hanya ada dalam isu lokal Bondowoso saja. Menurut Basarnas, sejak empat tahun terakhir, korban wisatawan survivor jumlahnya meningkat drastis. Ini artinya, destinasi wisata gunung belum dapat diurus secara optimal. Memang, selama ini belum pernah ada usaha serius dalam melakukannya. Sebab, ada anggapan bahwa gunung secara mutlak bukan tempat wisata. Melalui adanya peristiwa ini, tentu menjadi titik awal kesadaran bahwa pengembangan wisata yang berbentuk alam perlu dikembangkan khusus dan optimal.

Untuk menjadikan kasus ini sebagai awal rekonstruksi wisata daerah, tentu yang diperhatikan juga ada dua hal sebagaimana yang dibahas sebelumnya. Pertama, pada aspek hubunganya dengan kuasa media sebagai user agen promosi sosial wisata. Pada sisi ini, mari kita lihat dari sisi adanya trending media yang memublikasikan peristiwa ini sebagai peristiwa besar dan aneh. Sehingga, membuat konstruksi peristiwa cukup begitu menegangkan.

Hal tersebut tentu dipicu adanya kabar bahwa kehilangan Thoriq yang begitu mendadak dan tidak ditemukan jejaknya. Peristiwa tersebut tentu dianggap aneh dan di luar nalar kemampuan manusia. Sehingga, para user media menghubungkan kehilangannya dengan makhluk supranatural di gunung tersebut. Ini terbukti dari beredarnya video-video mistis terkait peristiwa tersebut (sebut saja para youtuber yang membuat video wawancara dengan tokoh spiritual). Ada juga beberapa user media sosial yang memberitakan bahwa hilangnya Thoriq diduga terpeleset dan jatuh ke jurang di gunung tersebut. Dugaan ini tentu karena memang jalan di Gunung Piramid sangat menanjak (sekitar 45-80 derajat) dan juga memang sangat sempit. Keadaan tanah dan kondisi jurang kanan-kiri gunung itu sangat menakutkan. Berita mistis dan kondisi gunung ini kemudian muncul ke permukaan membentuk pola pikir kesadaran publik yang masif. Keduanya menimbulkan gambaran tentang wisata Gunung Piramid sebagai tempat yang menyeramkan dan menantang.

Jika gambaran tersebut berlanjut, tidak menutup kemungkinan masyarakat akan menganggapnya sebagai wisata gunung yang angker dan menakutkan. Mungkin yang nanti akan berkunjung hanya orang yang senang tantangan. Artinya, wisata ini tidak akan berkembang secara layak dan banyak berguna bagi masyarakat luas. Pada sisi inilah, harus mulai diupayakan adalah mengubah konstruksi kesadaran masyarakat yang demikian di atas. Semua pihak, baik swasta maupun pemerintah, harus berupaya mengubah tren kesadaran mistis dan tidak aman yang hari ini masif menjadi gambaran tentang wisata gunung Bondowoso. Mungkin salah satunya bisa dengan cara melakukan upaya memublikasikan perbaikan kondisi alamnya dan rekrutmen beberapa ahli mistis dan survivor profesional sebagai guide wisata gunung. Selain dengan cara ini juga sebenarnya banyak cara lain. Apa pun caranya yang terpenting saat ini kuasa media harus membentuk kesan Gunung Piramid menjanjikan keindahan alam yang eksotis, bukan kecelakaan yang tragis.

Kedua, berhubungan dengan peristiwa sebagai potret kelemahan upaya pengembangan wisata. Pada aspek ini, pemerintah secara khusus harus berupaya membuat terobosan pengembangan wisata gunung yang aman. Yang perlu dipersiapkan dalam hal ini ada tiga. Menurut hemat penulis, yakni adanya perbaikan fasilitas, sistem wisata dan sumber daya manusia (SDM) pengelola wisatanya. Fasilitas dan sistem yang dimaksud tentu yang berhubungan dengan kesehatan dan keamanan wisatawan nantinya. Sedangkan yang dimaksud dengan perbaikan SDM adalah beberapa pengelola yang dianggap paham tentang masalah-masalah wisata gunung. Dalam hal ini bisa saja dengan merekrut para survivor berkualitas, dan ahli spiritual ataupun juru kunci dari masing-masing gunung yang memiliki potensi wisata.

Jika kedua cara di atas dilakukan secara profesional, tentu wisata-wisata pegunungan dapat secara maksimal dikembangkan. Tentu nanti yang untung, bukannya hanya pemerintah, tetapi juga masyarakatnya. Selain pemerintah akan mendapatkan sumber dana APBD-nya, masyarakatnya juga akan merasakan peningkatan ekonomi yang signifikan. Pada konteks inilah sebenarnya manfaat menjadikan peristiwa hilangnya Thoriq di Gunung Piramid sebagai wahana dan pembelajaran guna tercapainya kemakmuran bersama.

*) Peneliti merupakan anggota Tim Peneliti Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) pada Program Masjid Peduli Desa Bondowoso dan Ketua Rumah Kajian Filsafat Dar Al-Falasifah Jember.

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :