Pelajar SMA Nuris Juara Dua Lomba Esai Nasional

Ciptakan Biskuit Edamame, Cegah Gizi Buruk Balita

Dua siswi SMA Nuris ini berupaya memberikan kontribusi dengan cara yang berbeda. Yakni meneliti buah edamame untuk menjadi produk makanan yang semakin bernilai. Yakni dengan menjadikannya sebagai biskuit sehat.

BERPRESTASI LAGI: Alfin Selfiana dan Dini Humairoh yang meraih juara dua lomba esai nasional di Unmuh Malang.

RADAR JEMBER.ID – Alfin Selfiana dan Dini Humairoh sedang beraktivitas di SMA Nuris. Dua perempuan itu tampak lincah dan riang. Rupanya, mereka berdua baru saja meraih prestasi tingkat nasional. Yakni juara dua lomba esai nasional di Universitas Muhammadiyah Malang.

Keduanya merupakan siswi kelas XII IPA 2 SMA Nuris. Mereka belajar bereksperimen dengan meneliti potensi pangan di Jember. Selanjutnya, mereka menjadikannya sebagai produk pangan. “Yang kami teliti edamame, karena itu potensi yang ada di Jember,” kata Dini Humairoh ketika ditemui di sekolah.

Mereka sedang mencari makanan yang cocok untuk balita. Tujuannya untuk membantu mengatasi bayi yang kurang gizi. Edamame dipilih sebagai bahan penelitian karena mudah ditemukan makanan tersebut. “Awalnya ingin buat produk pangan untuk lansia,” akunya.

Karena kandungan yang ada pada edamame lebih tepat untuk balita, akhirnya diolah pada produk makanan bagi balita, yakni biskuit. Dua pelajar itu terus mencari referensi agar mampu menciptakan produk baru. Menurut dia, gizi buruk merupakan suatu keadaan kekurangan energi dan protein akibat kurangnya asupan yang masuk ke dalam tubuh.

IKLAN

Referensi yang mereka dapatkan dari Riskesdas 2018, ada 3,9 persen balita di Indonesia yang mengalami gizi buruk dan  13,8 persen menderita kurang gizi. Beberapa faktor yang memengaruhi gizi buruk pada balita meliputi pola asuh dan pola makan. Selain itu, penyakit infeksi. Kebutuhan gizi pada balita sering dianggap remeh, sehingga tidak dapat terpenuhi secara sempurna.

Kebanyakan orang tua tidak memperhatikan gizi yang harus terpenuhi bagi anaknya. Untuk itulah, pelajar SMA Nuris itu membantu mencarikan solusinya. Yakni dengan memanfaatkan kedelai edamame untuk menjadi kukis (cookies)  atau biskuit.

Kukis ini memiliki banyak nutrisi yang cocok dengan kebutuhan balita. Penambahan pada tepung kedelai edamame memberikan warna yang terbaik, yaitu hijau, cocok digunakan dalam pembuatan kukis dan banyak disukai oleh balita.

Inovasi baru berupa camilan sehat tanpa bahan pengawet ini membantu melengkapi kebutuhan gizi pada balita. Bisa memberi manfaat dan cocok untuk dikonsumsi oleh balita.

Sementara itu, Kepala SMA Nuris Gus Robith Qosidi menambahkan, sains yang dikembangkan oleh pesantren merupakan upaya untuk memberikan manfaat pada manusia. “Sains for all, sains untuk semua,” ujarnya.

Program sains itu, kata dia, juga untuk membekali generasi dengan kemampuan yang bisa memberikan kontribusi pada bangsa dan negara. Salah satu contohnya adalah dengan membuat produk yang bisa dipakai oleh warga.

Mereka lulus tak hanya mendapatkan ijazah, namun ilmu yang bermanfaat dan memiliki skill di bidang tertentu. Selain itu, lanjut lulusan Alazhar Mesir tersebut, juga mengajarkan para santri dan pelajar agar peka terhadap persoalan yang terjadi pada masyarakat.

Ketika mereka memahami masalah yang terjadi di lingkungannya, mereka bisa memiliki keinginan untuk memberikan kontribusi. “Mereka bisa memecahkan problem sosial, bisa memberikan solusi,” tegasnya.

Gus Robith menambahkan, para pelajar dilatih untuk mandiri. Mereka diajarkan agar memiliki karakteristik sebagai peneliti. Harapannya, ketika mereka lulus dan melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi, bisa menjadi ilmuwan dan intelektual. “Kami ingin mencetak manusia berkarakter, yakni cinta ilmu dan ber-akhlakul karimah,” terangnya.

Sampai sekarang, sudah ada sekitar 50 produk yang dihasilkan oleh para pelajar di Nuris. Mulai dari produk pangan sehat, teknologi, otomotif, aplikasi, hingga beberapa ide dan gagasan cemerlang yang bisa diterapkan. Seperti menciptakan game online yang edukatif, aplikasi untuk memantau penyakit, dan lainnya.

Sekolah mengajak para pelajar ke lapangan untuk melihat persoalan sosial. Kemudian, mereka diminta untuk merumuskan masalah tersebut agar ikut mencarikan solusi. “Kami kenalkan pada mereka metodologi penelitian,” pungkasnya. (*)

Reporter : Bagus Supriadi

Fotografer : Bagus Supriadi

Editor : Bagus Supriadi