Merembukkan Sastra di Bondowoso

BEBERAPA hari yang lalu, saya mendapatkan pesan dari salah satu teman penyair melalui facebook. Pesan tersebut berisi agenda kegiatan sastra. Sebagai orang yang menyukai sastra, saya tertarik untuk datang pada acara dimaksud. Tapi saya tidak langsung memastikan, apakah bisa atau tidak pada teman yang menggagas acara tersebut. Insya Allah! jawab saya singkat membalas kebaikannya melalui WA. Saya langsung menghubungi teman penyair lain yang pernah intens di dunia sastra minimal dia masih menulis puisi walaupun sebatas di medsos. Diapun merespon baik dan ternyata dia juga dapat undangan yang sama.

Saya memandang ada semangat keterpanggilan dalam diri teman yang bertanggung jawab pada acara sore hari itu untuk merebbukkan bagaimana keadaan dan keberadaan sastra khususnya di Kabupaten Bondowoso. Ada keinginan kuat darinya dan para penggiat sastra sedaerah untuk pulang pada Bondowoso sehingga bisa bersama-sama memulai langkah awal bagaimana menyatukan komitmen terhadap sastra.

Pada hari yang ditentukan, Alhamdulillah saya bisa merapat ke tempat acara yang bertempat di GOR Pelita Bondowoso. Sampai disana, saya terlebih dahulu menikmati pameran seni rupa tingkat nasional yang digelar Dewan Kesenian Bondowoso (DKB). Beberapa pengunjung terlihat sibuk mengambil gambar dengan pose berlatar belakang lukisan yang ada. Satu persatu tamu undangan Rembuk Sastra berdatangan termasuk perwakilan dari Dewan Kesenian Situbondo (DKS). Kami sempat duduk lesehan saling berbagi pengalaman termasuk membicarakan persoalan sastra yang ada di daerah masing-masing. Acara dimulai sehabis adan Ashar dengan terlebih dahulu pembacaan puisi dari beberapa penyair atau penggiat seni dan sastra baik dari berbagai daerah tetangga termasuk dari Dewan Kesenian Bondowoso.

Ketua Dewan Kesenian Bondowoso (DKB) yaitu Budi Amin mengapresiasi kegiatan dimaksud dan sangat mendukung. Dalam diskusi dengannya, ada beberapa hal yang disampaikan terkait keberadaan sastra. Di antaranya, bagaimana seseorang sastrawan mampu mempertanggungjawabkan karya yang ditulisnya. Fenomena ini menarik untuk dibicarakan. Terkadang kita menjumpai pada beberapa even sastra seperti contoh lomba cipta atau baca puisi, jurinya tidak punya kapasitas di sana. Itu terbukti misalnya, terkadang beberapa pendamping peserta komplain terhadap jurinya atau bahasa mudahnya tidak percaya pada kapasitas jurinya. Seharusnya pada setiap even perlombaan, juri diambilkan dari orang yang memang berkompeten.

Kalau tidak ada di daerah tersebut karena tidak terekspos atau memang tidak ada seperti yang diinginkan, maka solusinya adalah mendatangkan dari luar daerah. Hal itu merupakan sesuatu yang wajar dilakukan khususnya dalam lomba berkenaan dengan sastra. Saya pernah terlibat di kepanitiaan lomba cipta puisi dan jurinya mengambil orang dari luar kabupaten. Itu sangat saya rasa wajar dan banyak dilakukan di berbagai daerah. Bisa jadi mengambil juri dari luar karena menjaga kepercayaan agar sama-sama tidak saling curiga adanya keberpihakan pada kelompok atau orang tertentu. Walaupun dugaan itu tak selamanya benar sesuai apa yang menjadi kecurigaan. Tapi kita jangan sampai total menyalahlan panitia karena tidak sesuai dengan idealisme yang ada. Bisa jadi hal itu terpaksa dilakukan karena keterbatasan demi keterbatasan yang ada. Misalnya minimnya ketersedianya anggaran yang memungkinkan untuk melakukan langkah-langkah sesuai keinginan semua pihak. Darisinilah pentingnya duduk bersama dan mengatasi masalah sekaligus saling memahami posisi masing-masing. Itu contoh persoalan yang dialami di dunia sastra seperti di Bondowoso.

Di dunia pendidikan juga mengalami persoalan berkaitan dengan sastra. Ambil contoh kecil, beberapa guru yang membidangi Bahasa Indonesia belum mampu membuat siswa-siswinya berlomba-lomba menulis, memahami, dan mencintai karya sastra. Bahkan kita terkadang sebagai guru tidak sempat mengapresiasi dan membantu para siswa dan siswi bagaimana mengartikan karya sastra yang butuh interpretasi seperti puisi.

Ketika ada salah seorang teman dosen bercerita tentang salah satu lembaga pendidikan dimana guru Bahasa Indonesia mewajibkan para siswa-siswinya untuk membuat karya sastra yaitu cerpen dan memfasilitasi bagaimana karya para siswanya menjadi buku kumpulan antologi cerpen sebagai syarat kelulusan, saya termasuk orang yang bangga dan bahagia mendengarnya. Walaupun itu tidak seberapa dibandingkan jumlah lembaga pendidikan yang ada dan melakukan hal serupa untuk merawat tradisi dalam dunia sastra.

Dulu saya pernah mengusulkan kepada salah satu panitia lomba cipta puisi antar sekolah MA tingkat Kabupaten Bondowoso pada even Aksioma untuk membukukan karya siswa. Namun hal itu masih menjadi pertimbangan dan sampai saat ini belum ada solusi atau jalan yang menggembirakan. Tapi tidak masalah apalagi sifatnya cuma usulan. Belum menyentuh pada ranah kewajiban dan kebutuhan. Panitia hanya berkewajiban memfasilitasi pemenang lomba untuk diadu pada tingkat yang lebih tinggi dari kabupaten, provinsi sampai nasional. Mengenai pembinaan atau hal-hal lain, biasanya dipasrahkan kepada yang bersangkutan dan sekolah yang mengirimkan.

Kembali lagi pada persoalan Rembuk Sastra yang mengusung tema Menerka Perkembangan Sastra di Bondowoso setidaknya ada beberapa hal yang dihasilkan. Di antaranya mengeventarisir para penggiat sastra di Bondowoso serta karya-karyanya, dan duduk bersama untuk menciptakan penguatan forum-forum sastra sekedar ngopi dan berdiskusi. Rembuk Satra yang digelar setidaknya menjadi langkah awal bagaimana perjalanan dan pengembangan sastra di Bondowoso.

*) Penulis adalah guru Bahasa Indonesia MA Nurut Taqwa Grujugan Cermee Bondowoso.

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :