Membumikan Budaya Damai di Sekolah

Perkembangan teknologi dewasa ini secara tidak langsung mempengaruhi perilaku dan pandangan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Realitas demikian diperkeruh dengan fenomena post-truth (pasca kebenaran) yang berpotensi mempertajam polarisasi di masyarakat dengan ditandai semakin viralnya pemberitaan yang tendensius. Tentu hal ini menjadi tantangan sekaligus hambatan dalam memacu keberlanjutan pembangunan nasional.

Dalam konteks lainnya, fenomena ini turut serta memengaruhi perilaku masyarakat sekolah yang menjadi objek penerima informasi di era revolusi industri saat ini. Arus informasi yang berkembang pesat perlu disikapi oleh masyarakat sekolah, dalam hal ini kepala sekolah, guru, siswa, dan orang tua, untuk memilah informasi yang dibutuhkan. Harus kita akui bersama, sumber informasi yang juga diakses oleh masyarakat sekolah adalah media sosial. Para siswa sekolah saat ini dengan mudah mengakses dan memanfaatkan media sosial.

Survei yang dilakukan oleh Mastel.id menyebutkan bahwa 92.40% responden menyatakan bahwa media sosial (Facebook, Twitter, Instagram, dan Path) menjadi media tertinggi dalam penyebaran informasi khususnya berita hoaks, kemudian diikuti aplikasi chatting (Whatsapp, Line, dan Telegram) 62.80%, dan website 34.90% (data mastel.id). Sementara itu, para siswa sekolah sudah sangat familiar dengan media sosial sebagaimana disebut di atas.

Dalam konteks itu, siswa selaku generasi penerus bangsa perlu dibekali pemahaman tentang kebangsaan dan toleransi agar tidak mudah terpengaruh terhadap ajakan kekerasan, kebencian, dan paham radikal. Kehidupan yang tidak lepas dari gawai (gadget) saat ini tentu sangat rentan dengan informasi yang masuk dari berbagai media.

IKLAN

Konten Penyemaian Budaya Damai

Lembaga pendidikan sudah sepatutnya menyiapkan konten pembelajaran yang dengan mudah dapat diakses oleh siswa melalui gawai mereka. Penyiapan konten dalam upaya penyemaian isu-isu kedamaian dan toleransi pada beberapa mata pelajaran dan kegiatan sekolah harus ditangani secara serius. Dalam hal ini, pendidikan keagamaan menjadi salah satu mata pelajaran yang dapat diintegrasikan dengan materi Islam rahmatan lil’alamin, moderasi beragama, dan wawasan kebangsaan.

Proses penerapan nilai-nilai perdamaian pada sekolah dapat dilakukan dengan memberikan pemahaman kepada siswa tentang sikap humanis. Imam Machali mengartikan pendidikan perdamaian sebagai upaya pemberdayaan masyarakat dalam mengatasi konflik atau masalahnya sendiri dengan cara humanis tanpa kekerasan (Imam; 2013: 45).

Pendidikan perdamaian memiliki arti yang dapat dimaknai bersama seperti saling menghargai, mencintai, berlaku adil dan menghindari tindakan kekerasan. Nilai-nilai semacam itulah yang dapat disisipkan pada setiap aktivitas siswa di sekolah.

Terdapat salah satu model pendidikan yang seirama dengan pendidikan perdamaian yaitu pendidikan multikultural. Secara bahasa, multikultural terbagi atas dua kata, yaitu multi bermakna banyak, dan kultural yaitu budaya (Mahfud: 2011; 75). Secara hakikat, pendidikan multikultural adalah pendidikan yang mengenalkan keragaman budaya masyarakat yang majemuk. Mahfud menilai bahwa pendidikan multikultural ini tidak sekadar merayakan keberagaman dalam konteks masyarakat Indonesia yang masih terkesan diskriminatif dan rasis. Pendidikan multikultural lebih tepat sebagai advokasi untuk menciptakan masyarakat yang toleran (Mahfud; 2011:191).

Pendidikan perdamaian melalui pembelajaran adalah langkah strategis dalam upaya pencegahan paham radikalisme dan intoleran di sekolah. Penerapan nilai-nilai perdamaian dapat dikembangkan oleh guru melalui mata pelajaran keagamaan, ilmu pengetahuan sosial, dan kewarganegaraan.

Sekali lagi, nilai-nilai perdamaian dalam dunia pendidikan menjadi sangat penting dalam menghadapi era digital saat ini. Pembumian budaya damai di sekolah dapat diterapkan melalui pemahaman nilai-nilai demokrasi, pemahaman nilai-nilai multikultural, pemahaman nilai-nilai hak asasi manusia, dan pemahaman nilai-nilai moderasi beragama. Nilai-nilai tersebut harus dijadikan indikator dasar dalam memenuhi kriteria budaya damai untuk diimplementasikan di lingkungan sekolah.

*Dosen Luar Biasa Pascasarjana IAIN Jember dan Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kemenag Jember

Reporter :

Fotografer :

Editor :