Diduga untuk Bisnis Produksi Kopi

Gagalkan Penyelundupan Musang ke Bali

DISITA: Kepala BKSDA Jember Setyo Utomo memeriksa musang pandan dan monyet ekor panjang di samping kantornya di Jalan Jawa

RADAR JEMBER.ID – Upaya penyelundupan satwa liar dari Jember ke Bali berhasil digagalkan petugas gabungan dari kepolisian dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jember. Sedikitnya ada 47 satwa liar yang diamankan, kemarin (3/7). Itu terdiri atas 42 musang jenis musang pandan, serta lima monyet ekor panjang.

Pengamanan puluhan satwa liar tersebut bermula dari pengaduan warga. Disebutkan, ada sebuah mobil jenis minibus yang diduga membawa satwa dilindungi dari Jember menuju ke arah Bondowoso. Berdasar informasi itu, sejumlah anggota Polres Jember dan petugas BKSDA langsung berkoordinasi untuk menindaknya.

“Begitu ada informasi mobil membawa satwa dilindungi, kami bersama kepolisian langsung melakukan penghadangan di Jalan Bondowoso,” kata Kepala BKSDA Jember Setyo Utomo saat ditemui di ruang kerjanya.

Sopir mobil yang tak disebut namanya itu seketika diminta turun. Barang-barang di dalam mobil diperiksa. Saat itu ditemukan puluhan kotak keranjang plastik berisi puluhan hewan liar. “Semuanya dibungkus pakai sak. Kondisinya masih liar,” imbuhnya.

Setyo menjelaskan, musang-musang dan monyet ekor panjang tersebut memang bukan merupakan satwa yang dilindungi. Namun, kondisi seluruhnya liar, serta didapat dengan cara yang ilegal. Selain itu, hewan liar tersebut dibawa tanpa disertai surat jalan.

Musang dan monyet ini seluruhnya disita oleh BKSDA Jember. Sementara itu, warga yang membawanya dibawa ke kantor polisi untuk diperiksa. Dari keterangan yang disampaikan sopir, terungkap bahwa hewan akan dikirim ke Pulau Bali, melalui kabupaten tetangga Bondowoso-Situbondo dan Banyuwangi.

Meski sopir tak menyebut penjualan dan pengiriman musang ke Bali untuk diapakan, namun diduga musang tersebut diperdagangkan untuk bisnis produksi kopi luwak. “Untuk apa musangnya memang tidak jelas. Tapi dugaan ke sana bisa jadi,” ucap Setyo.

Setyo menegaskan, warga tidak boleh melakukan penangkapan terhadap satwa liar, sekali pun bukan jenis yang dilindungi. Sebab, hewan liar sangat erat kaitannya dengan konservasi alam. Selain itu, bisa membahayakan kepada siapa saja.

Disinggung terkait tindak lanjut setelah mengamankan puluhan hewan liar tersebut, Setyo menegaskan, pihaknya akan melepasliarkan hewan-hewan itu ke sejumlah tempat. Di antaranya di hutan sekitar Kawah Ijen dan Argopuro. “Untuk warga yang membawanya sudah diberi peringatan keras, serta membuat surat pernyataan,” pungkasnya.

Sementara itu, Warsono, pegawai BKSDA Jember, menyebutkan, khusus untuk penanganan lima monyet ekor panjang, akan direhabilitasi terlebih dahulu. Hewan tersebut masih kecil-kecil sehingga belum siap dilepas ke alam liar. “Monyet itu akan direhabilitasi terlebih dahulu. Begitu waktunya, baru dilepaskan,” jelas pria yang mendampingi kepala BKSDA Jember tersebut.

Keunggulan Musang Pandang dari Jenis Lain

Musang jenis musang atau dikenal musang pandan menjadi salah satu hewan yang paling diburu dari sejumlah jenis musang lainnya. Maklum, musang ini bisa dibuat bisnis untuk memproduksi kopi musang. Tak heran, dugaan penyelundupan yang berhasil digagalkan petugas gabungan terindikasi untuk bisnis tersebut.

Hewan yang satu ini memiliki ciri berbeda dengan jenis musang lain. Yang paling menonjol yaitu air seni musang musang beraroma pandan. Itu lah yang membuat warga local banyak menyebutkan musang pandan.

Habitat musang ini pada dasarnya lebih banyak hidup pada areal hutan dengan ketinggian 2.500 meter lebih. Namun, musang bisa sampai ke ke tengah kota, pasar, bahkan ada yang akan dikirim ke bali karena ada yang memburunya. Memburu hewan liar di hutan liar ini lah yang tak diizinkan alias dilarang.

Para pemburu musang pandan tentunya tidak akan terus mencari tanpa ada orang yang akan membeli. Nah, pembeli musang pandan memang bervariasi. Ada yang sekadar untuk merawatnya, tetapi tidak menutup kemungkinan ada yang akan memanfaatkannya untuk memproduksi kopi musang yang terkenal dengan harga mahal.

Data yang berhasil dikumpulkan, musang pandan paling cocok untuk memproduksi kopi luak. Sebab, selain memakan buah-buahan, musang ini juga suka mengonsumsi biji kopi. Dari kotoran musang itu lah, biji kopi yang tidak ikut hancur bisa diproduksi menjadi kopi musang.

Menurut Abdullah, salah seorang pedagang hewan menyebut, jenis musang pandang kadang-kadang meang di jual di pasar-pasar hewan. Harganya pun tergolong baik karena satu ekor musang pandan bisa dihargai antara Rp 75 ribu hingga Rp 750 ribu. “Tetapi kalau yang di pasar, biasanya jinak, tidak liar,” ungkapnya.

Musang pandang menurutnya memang menjadi salah satu yang diburu warga di banding jenis lain. Sebab, air seninya beraroma pandan. “Berbeda dengan musang lain seperti musang sulawesi, coklat, musang air, atau yang lain. Kalau yang pandan lebih mudah dirawat,” pungkasnya. (*)

IKLAN

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Nur Hariri

Editor : Mahrus Sholih