Korban Dikenal Dermawan dan Penyabar

Sosok Askin, Dosen Unej yang Tertabrak Kereta Tawang Alun

Mendiang Askin tak hanya dikenal sebagai pengusaha serta bendahara di Yayasan Ibnu Katsir. Dia juga tercatat menjadi dosen di Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Jember (Unej). Almarhum beserta istri juga dikenal berperangai baik oleh kerabat dan sejawat. Oleh kare3nanya, kepergiannya membuat mereka merasa kehilangan.

RUMAH DUKA: Beberapa karangan bunga terpasang di rumah duka almarhum yang berlokasi di Jalan Mangga, Patrang.

RADAR JEMBER.ID – Ratusan pelayat mulai berkumpul di rumah duka sejak satu jam setelah kejadian. Sekitar pukul 08.30, para petakziah itu mulai berdatangan. Baik di Pondok Pesantren Ibnu Katsir, maupun di rumah duka di Jalan Mangga, Kelurahan/Kecamatan Patrang, yang jaraknya hanya sekitar 100 meter dari ponpes.

Saat jenazah disalati, ratusan pelayat tampak khusyuk mendoakan almarhum. Jasad pasangan suami istri (pasutri) itu disalatkan di halaman Ponpes Ibnu Katsir. Ini karena Masjid tak bisa menampung banyaknya jamaah. Setelah itu, kedua jenazah korban dimakamkan di pemakaman umum, di kawasan Rembangan.

“Almarhum sudah lama di Ibnu Katsir. Beliau memeriksa laporan keuangan bulanan mulai PAUD, SD, SMP, SMA, hingga SMK,” ucap Syamsul Haidi, kepala sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Ibnu Katsir.

Semasa hidup, mendiang Askin dikenal sebagai orang yang dermawan, sabar, dan suka membantu mengisi kegiatan. Dia juga aktif sebagai pengurus di Yayasan Ibnu Katsir, sebuah pesantren bagi penghafal Alquran. Tak heran, ketika kabar kematian korban tersiar, rumah duka dipadati pelayat. “Beliau menjadi penasihat kami. Suka memberi ceramah,” imbuh Syamsul.

IKLAN

Selain aktif di Ibnu Katsir, di kalangan mahasiswa, almarhum juga meninggalkan kesan manis. Askin menjadi pembina Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) FTP Unej. Sifat kedermawanan itu dia tularkan kepada mahasiswanya. Bahkan, di bawah binaan Askin, UKKI sampai punya desa binaan, di Desa Darsono, Arjasa. Di desa binaannya, almarhum sering menyalurkan bantuan bahan pokok untuk warga sekitar.

Askin ini baik orangnya, penyabar, juga tidak mempersulit mahasiswanya. Salah seorang mahasiswa FTP Unej, Ihya Ulum, mengakui hal itu. Dia paham betul, karena Askin merupakan dosen pembimbing anggota (DPA) untuk skripsinya. “Memang orangnya baik sekali,” kenangnya.

Senada dengannya, Rahmat Taufik Hidayat, mahasiswa yang lain, juga menuturkan hal serupa. Menurutnya, gaya mengajar almarhum di kampus berbeda dengan dosen yang lain. Mendiang Askin dikenal nyaris tak pernah marah sewaktu memberikan kuliah.

Tasliman, rekan sesama dosen mengungkapkan, almarhum dikenal sebagai dosen yang bersahaja. Askin yang pernah menjadi mahasiswanya itu, sangat gampangan. “Kalau urusan sama dia gampang. Tidak mempersulit mahasiswa,” tutur Tasliman.

Kepergian almarhum mengagetkan rekan dan handai tolan. Ketika berboncengan bersama sang istri, mereka tersambar kereta di perlintasan swadaya di Jalan Mangga, Kecamatan Patrang. Keduanya hendak menuju ke rumah di Jalan Mastrip. Sekalian, Askin mau pergi ke kampus. Sebab, memang ada agenda ujian skripsi mahasiswanya. Korban meninggalkan tujuh anak. Paling kecil berusia delapan bulan. Sedangkan tertua, duduk di bangku SMA di Malang.

“Malah teman-teman dosen yang nguji itu, mendengar kabar duka langsung sedih di ruangan ujian. Jam 08.00 ujiannya mulai. Setengah jam kemudian langsung selesai. Karena sudah tidak konsentrasi mungkin. Saking sedihnya,” kata dia.

Almarhum Askin tercatat sebagai lulusan S-2 di Institut Teknologi Surabaya (ITS). Di Jember, selain dikenal menjadi dosen, dia juga dikenal sebagai pengusaha. Beberapa usahanya adalah toko elektronik dan laptop. Di kampus, almarhum mengajar beberapa mata kuliah. Salah satunya manajemen kewirausahaan, di Progam Studi (Prodi) Teknologi Pertanian (TEP).

Ada kisah lain sebelum kepergian Askin. Semalam sebelum kejadian, hampir semua keluarga besar yang ada di Jember berkumpul di rumah yang berada di Jalan Mangga, sebelah Ponpes Ibnu Katsir. Menurut mertua almarhum, keluarga besarnya berkumpul di rumah lantaran anak bungsunya, Mariam, menderita sakit demam. “Soalnya Mariam ini malamnya lagi sakit panas,” ujar mertua korban, sambil menggendong si kecil dengan selendang.

Sementara itu, rumah korban di Jalan Mastrip, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, tampak sepi. Rumah dan lokasi usahanya juga tutup. Pada pagar tempat usaha dan tempat tinggalnya terlihat tulisan yang menyebut sedang ziarah ke rumah duka yang ada di Jalan Mangga, Kecamatan Patrang.

Almarhum mempunyai dua rumah. Di Jalan Mangga dan Jalan Mastrip. Menurut Khoirul, salah seorang tetangga korban di Jalan Mastrip, semasa hidup, almarhum dikenal sebagai orang yang baik. Bila Askin keluar rumah, menurut Khoirul, selalu bertegur sapa dengan para tetangga. Tak hanya itu, warga sekitar juga mengenal dosen tersebut sebagai orang yang murah senyum. “Almarhum juga orang yang dermawan,” tuturnya. (*)

Reporter : Muchammad Ainul Budi, Dwi Siswanto, Nur Hariri

Fotografer : Nurul Azizah

Editor : Mahrus Sholih