Satu Palang Pintu Tak Berfungsi

GUGUP: Penjaga perlintasan sebidang rel kereta api di Patrang bernama Suparman masih bertugas menjaga setelah kecelakaan maut tersebut.

RADAR JEMBER.ID – Suparman, 57, pria yang bertugas menjaga perlintasan kereta api Jalan Mangga tak menyangka akan terjadi kecelakaan yang cukup mengerikan.  Wajahnya tegang dan gugup ketika berbicara. Dia masih merasa grogi dan trauma dengan kecelakaan yang terjadi.

Ketika diajak bicara Radarjember.id, jawabannya sering kali tak sesuai. Sepertinya pikirannya sedang tidak konsentrasi. Suparman bukan pegawai KAI yang paham betul mengenai perlintasan. Dia hanya warga biasa, yang mengais rezeki dengan menjaga perlintasan kereta api.

Gaji yang didapat juga bukan dari negara, melainkan iuran warga sebesar Rp 400 ribu per bulan. Pekerjaan dengan gaji sedikit tetap dia kerjakan karena tak ada pekerjaan lain. “Kerja apa lagi selain ini. Kerja jadi kuli bangunan ya tidak bisa, karena sudah tua,” ucapnya.

Dia mengaku, dirinya yang bertugas saat kejadian kecelakaan terjadi. Jam kerjanya mulai dari pukul 06.00 hingga pukul 22.00. Setelah itu, dilanjutkan oleh rekannya, yakni Toha. Ketika peristiwa itu terjadi, Suparman menitipkan palang perlintasan untuk dijaga oleh Toha.

Dia mengaku harus menagih uang iuran pada warga sekitar. Sementara, kendali palang pintu itu diserahkan kepada Toha, temannya sendiri. Ada dua palang pintu yang tersedia, namun palang pintu dari arah jalan Manggar tidak berfungsi. Akhirnya, pasutri yang nasibnya nahas itu menerobos.

Sementara itu, Suparto, warga sekitar, menambahkan, kecelakaan itu bukan karena korban  menerobos. Melainkan, sirene atau pengeras suara sebagai tanda kereta akan lewat telat dibunyikan. “Setelah kejadian tabrakan, baru sirene berbunyi. Penjaga juga tidak ada di pos, entah itu lari ke korban atau melarikan diri, saya gak tahu,” paparnya.

Menurut dia, ada tiga orang yang menjaga di pos perlintasan kereta api di Jalan Mangga itu. Namun, petugas bernama Pak Nur wafat sekitar tahun 2010, dan tidak ada penggantinya. “Sebetulnya yang jaga itu kerjanya setiap delapan jam sekali. Karena hanya dua orang, kerjanya 12 jam sekali. Pak Toha itu tugas malam dan Suparman tugas pagi hari,” imbuhnya.

Dia menambahkan, karena gaji petugas penjaga itu dari iuran warga pada awal bulan, Suparman selalu ke rumah warga untuk menarik iuran. Karena itu, Suparman menitipkan tugas menjaga palang pintu perlintasan kereta api kepada Toha. “Suparman belum berangkat, masih ada di pos, tapi di depan pintu. Toha yang mengendalikan kemudi palang pintu. Di ruang itu juga ada satu tukang becak yang duduk bersama Toha,” paparnya.

Kelalaian itu terjadi, kata Suparto, bisa saja karena Toha tidak terbiasa dan tidak hafal kapan kereta api di pagi hari itu lewat. “Pak Toha biasanya jaga malam. Mungkin gak hafal kapan kereta lewat pagi,” tuturnya.

Pantauan Radarjember.id ruangan pos penjaga palang pintu kereta api Jalan Mangga sangat minimalis. Di dindingnya hanya tertempel satu helm, jam dinding, dan kalender. Jadwal kereta lewat pun tidak ada. (*)

IKLAN

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Bagus Supriadi