Petaka di Rel Kereta

JEMBER KOTA – Fika terkejut ketika mendengar suara tabrakan di rel kereta, tak jauh dari rumahnya di bilangan Jalan Mangga, Kelurahan/Kecamatan Patrang. Ia berlari untuk memastikan siapa yang mengalami celaka. Rasa penasaran tiba-tiba berubah duka. Dia mengenal sesosok perempuan yang tergelatak tak bernyawa itu. Badannya lemas. Fika jatuh pingsan.

Beberapa meter dari posisi Fika, tergeletak sesosok tubuh lelaki yang tak lagi utuh. Keduanya sama-sama tewas. Kedua korban yang merupakan pasangan suami istri (pasutri) adalah keluarga Fika. Mereka baru saja keluar dari rumahnya, seusai memberi bubur kepada anaknya yang berusia delapan bulan.

Suasana menjadi riuh. Warga yang melihat segera menolong Fika dan membawa ke rumahnya yang berjarak sekitar 200 meter. Sementara itu warga yang lain menghubungi polisi. Warga melaporkan kejadian yang baru saja menimpa pasutri di perlintasan kereta yang berpalang pintu swadaya masyarakat tersebut.

Kedua korban bernama Askin, 49, dan istrinya, Inggar Nurcahyani, 45. Askin tercatat sebagai warga Jalan Mastrip, Sumbersari. Korban merupakan dosen di Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Jember.

IKLAN

Kecelakaan itu terjadi sekitar pukul 07.40. Saat itu, Askin dan Inggar juga baru saja dari pondok penghafal Alquran Ibnu Katsir di Jalan Mangga, 100 meter dari rumah Fika. Askin adalah pengurus Yayasan Ibnu Katsir dan menjabat sebagai bendahara.

Askin dan Inggar mengendarai motor Vario putih. Mereka akan kembali ke rumahnya di Jalan Mastrip, kemudian menuju ke kampus. Sebab, pagi itu Askin ada jadwal menguji skripsi mahasiswanya di FTP Universitas Jember. Namun nahas, saat melintasi rel kereta di KM 198+5 antara Stasiun Arjasa-Jember, keduanya tersambar kereta hingga tewas.

“Entah karena kurang konsentrasi, korban tidak menyadari dari arah utara ada KA Tawang Alun jurusan Banyuwangi-Malang. Kereta melaju dengan cepat,” ujar Agus Rohmawan, Humas Ibnu Katsir.

Sementara itu, Humas PT KAI Daop 9 Lukman Arief membenarkan peristiwa kecelakaan tersebut. Menurutnya, kereta yang terlibat kecelakaan adalah kereta Tawang Alun. Setelah pemeriksaan lokomotif dan rangkaian, pukul 07.50 KA Tawang Alun kembali melanjutkan perjalanan. “Sementara itu, jenazah Askin dan istrinya dibawa ke RSD dr Soebandi,” terangnya.

Akibat petaka ini, pasutri tersebut meninggal di tempat kejadian dengan kondisi mengenaskan. Askin terseret lokomotif sejauh 50 meter hingga membuat tubuhnya terpotong beberapa bagian. Sedangkan Inggar terseret lebih jauh lagi, sekitar 100 meter. Perempuan berjilbab itu meninggal dengan luka di kepala. Motor korban terbawa sejauh 1 km dari lokasi kejadian. (*)

Reporter : Dwi Siswanto, Jumai

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti