Potret Pendidikan di Jember

Pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Sebuah proses yang akan terlihat hasilnya dalam jangka waktu yang tidak sebentar. Di antara kabupaten sekelilingnya, Jember tergolong lebih ramai dengan adanya universitas negeri dan sederet perguruan tinggi lainnya. Namun demikian, proses pendidikan berawal dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Bertepatan dengan masa pendaftaran sekolah yang menerapkan sistem wilayah tempat tinggal, tentunya semua orang tua menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Lalu, bagaimanakah gambaran pendidikan di Jember?

Saat menyebut Kabupaten Jember, terbayang wilayah yang berbatasan dengan Banyuwangi, Bondowoso, Lumajang dan Probolinggo, tepatnya terletak di bagian timur provinsi Jawa Timur. Kabupaten Jember dikenal dengan banyaknya fasilitas pendidikan sampai tingkat perguruan tinggi.

Pendidikan menjadi salah satu modal pembangunan untuk meningkatkan kualitas manusia. Siklus pendidikan dapat dikelompokkan menjadi input, proses dan output. Membayangkan rangkaian ini seolah terbayang kegiatan memasak yang tentunya memerlukan bahan dan alat, cara memasak, serta hasil akhir berupa masakan. Input dalam pendidikan meliputi jumlah penduduk, murid, fasilitas pendidikan, dan tenaga pengajar. Sedangkan proses meliputi tingkat partisipasi sekolah mulai jenjang SD sampai perguruan tinggi. Output di antaranya dapat dilihat lewat tingkat pendidikan yang ditamatkan dan tingkat melek huruf.

Jember memiliki fasilitas pendidikan cukup banyak. Mengutip data Kabupaten Jember dalam Angka yang diterbitkan oleh BPS Kabupaten Jember menyebutkan bahwa jenjang TK/RA/PAUD tersedia lebih dari 1.800 fasilitas, jenjang SD/MI tersedia lebih dari 1.300, jenjang SMP/MTs tersedia lebih dari 500, jenjang SMA/MA/SMK tersedia lebih dari 300, dan perguruan tinggi tersedia sekitar sembilan. Kiranya fasilitas ini menjadi penunjang bagi 2,4 juta penduduk kabupaten ini. Demikian pula ketersediaan guru yang turut menunjang pendidikan, sebanyak 6,7 ribu guru TK/RA/PAUD; 13,5 ribu guru SD; 7,4 ribu guru SMP/MTs; dan 4,9 ribu guru SMA/MA/SMK.

Proses pendidikan yang tengah berlangsung dapat dilihat dari tingkat partisipasi sekolah. Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) merupakan survei berbasis rumah tangga yang dilakukan oleh BPS untuk memperoleh berbagai indikator pembangunan, termasuk indikator pendidikan. Penduduk kelompok usia sekolah atau yang biasa dikelompokkan pada rentang usia 7-24 tahun di kabupaten ini masih ada yang tidak ataupun belum pernah sekolah, yaitu sebanyak 0,70 persen. Walaupun persentasenya tergolong kecil, namun hal ini patut mendapat perhatian karena akan berdampak jangka panjang. Kelompok usia sekolah dapat dipecah lagi seiring jenjangnya, yaitu 7-12 tahun dengan nilai Angka Partisipasi Sekolah (APS) sebesar 100 persen; 13-15 tahun dengan APS sebesar 95,99 persen dan 16-18 tahun dengan APS sebesar 67,48 persen. Sehingga patut diduga bahwa mereka yang tidak/belum pernah sekolah berada pada kelompok usia di atas 12 tahun.

Indikator dasar untuk melihat kemampuan intelektual minimum di suatu wilayah adalah tingkat melek huruf atau lebih dikenal dengan kemampuan baca tulis. Karena informasi maupun ilmu pengetahuan dapat diperoleh dengan membaca. Melek huruf merupakan kondisi penduduk yang dapat membaca dan sekaligus dapat menulis kalimat sederhana, baik menggunakan huruf latin atau huruf lainnya. Kemampuan baca tulis penduduk usia 15 tahun keatas sebesar 84,78 persen atau dengan kata lain tingkat buta huruf mencapai 15,22 persen. Dari 2,4 juta penduduk Jember, sebanyak 1,87 juta diantaranya berusia 15 tahun ke atas. Sebuah PR bagi banyak pihak untuk berupaya meningkatkan kemampuan baca tulis di Jember.

Kualitas manusia di bidang pendidikan salah satunya dapat dilihat dari tingkat pendidikan yang ditamatkan, ditandai dengan ijazah tertinggi yang dimiliki. Sebanyak 35,45 persen penduduk usia 15 tahun ke atas tidak punya ijazah SD, hal ini tentunya mencakup penduduk yang tidak/belum pernah sekolah. Berikutnya penduduk yang tamat SD/sederajat sebanyak 28,27 persen; tamat SMP/sederajat sebanyak 17,24 persen, tamat SMA/sederajat sebanyak 14,40 persen, sisanya sebanyak 4,65 persen adalah tamat perguruan tinggi.

Sekali lagi, pendidikan merupakan proses panjang yang hasilnya akan terlihat kemudian. Butuh waktu untuk melihat perubahan hasil pendidikan, setidaknya dari tingkat melek huruf maupun pendidikan yang ditamatkan. Kalaupun ada proses yang terhambat, mengutip laman www.beritajatim.com tanggal 22 September 2018 yang menyebutkan bahwa penuntasan buta aksara di Jember mandek dua tahun, hendaklah menjadi bahan perbaikan. Struktur penduduk juga mencakup lansia yang dahulu mungkin tidak sempat mengenyam pendidikan sehingga dampak buta huruf akan terbawa. Skala prioritas pun perlu disusun dengan melihat sumber daya dan sarana prasarana yang terlibat.

Era digital hendaknya memudahkan manusia untuk belajar. Demikian pula jalur pendidikan tidak hanya jalur formal, masih ada pilihan jalur non formal untuk meningkatkan kualitas manusia. Di kota besar mulai marak adanya homeschooling sebagai wujud upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Perlu sinergi berbagai elemen pemerintah, masyarakat dan swasta untuk mendorong agar semangat belajar dan tentunya semangat bersekolah tidak kendor. Sistem wilayah tempat tinggal sebagai salah satu unsur dalam memilih sekolah, tentunya melalui pertimbangan panjang demi kualitas pendidikan yang lebih baik. Adapun hasilnya akan terlihat dalam beberapa waktu ke depan, semoga.

*) Penulis adalah Statistisi Muda BPS Kabupaten Jember.

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :