Riset Setahun, Selama Tiga Bulan Selalu Pulang Malam

Perjuangan Tim Robot Tanoker_IR 64 Meraih Juara Nasional

TIM ROBOT POLIJE: Dari kiri, Zainul Mustain, M Ridwan Hakim, Robby Ardiansyah, Miftahul Huda, dan Jazil Ramadhanty yang meraih juara dalam kejuaraan robot nasional.

RADAR JEMBER.ID – Robot seperti mobil remot kontrol tanpa bodi itu masuk sirkuit yang terbuat dari kayu. Di ruangan laboratorium teknik informatika Polije, robot dengan dimensi panjang 46 cm, lebar 30 cm, dan tinggi 20 cm itu dikendalikan dengan remot dari stik Playstasion. Melalui stik game itulah, robot yang bernama Tanoker_IR 64 tersebut mulai bergerak maju.

Tak hanya bisa maju mundur, namun juga bisa bermanuver ke kiri, kanan, dan mampu melewati jalan dari spons serta menaklukkan tanjakan.  Kehebatan robot besutan mahasiswa yang tergabung dalam UKM Robot Polije tersebut mulai menunjukkan kehebatannya. Dalam uji coba tersebut, robot mulai menurunkan alat penjepit seperti tangan, lalu menancapkan tanaman, mencabut tanaman, dan terakhir memotong padi sintestis yang terbuat dari sedotan.

Uji coba memotong tanaman padi sintetis tersebut menuai pujian dan tepuk tangan dari para dosen dan pegawai Polije yang menonton. Tim robot  yang terdiri atas lima mahasiswa, yakni Zainul Mustain, M Ridwan Hakim, Robby Ardiansyah, Miftahul Huda, dan Jazil Ramadhanty, itu menjadi buah bibir di kampusnya. Sebab, lewat ide dan perjuangannya, Tanoker_IR 64 membawa kado istimewa dengan meraih juara satu dalam KRTMI Pertanian Nasional di Universitas Dian Nuswantoro, Semarang, 22 hingga 23 Juni 2019 lalu.

Ketua tim robot, Zainul Mustain mengatakan, lomba robot tersebut bukan pertama kali diikuti oleh UKM Robot Polije. Sebelumnya juga pernah mengikuti lomba robotika lainnya. Namun, robot bertema pertanian merupakan yang pertama. “Jadi, KRTMI ini ada pada tahun ini, tema pertama kebetulan pertanian,” katanya.

Ide membuat robot pertanian itu didapat melalui pengamatan terhadap aktivitas petani. Inspirasi  datang ketika mereka pembibitan dengan menanam, menghilangkan gulma lewat mencabut, sampai panen dengan memotong. Mereka melihat dari buruh tani yang bekerja setiap pagi sampai siang di lahan pertanian.

Gagasan cemerlang tersebut kemudian disampaikan dalam ruang diskusi, hingga eksekusi. Dalam eksekusinya, kata dia, tidak secepat munculnya ide. Berbagai kendala hingga frustrasi dialami lima mahasiswa Polije itu. Sebab, robot pertama yang dibuat dengan memakai mesin bekas fotokopi gagal.

Diakuinya, kegagalan bukan pada mekanisme gerakan robot menanam, mencabut, dan panen. Namun, empat rodanya tidak bisa menerjang lahan lumpur yang divisualkan dengan spons. “Karena proses pertanian itu lahannya berlumpur dan panen mengering, kami membuat robot yang bisa di segala medan,” terangnya.

Kekuatan mesin tapi tidak diimbangi dengan bobot, membuat robot Tanoker_IR 64 melempem di lumpur. “Ya kami bongkar lagi. Cari mesin yang berbeda yang enteng, tapi torsinya besar,” imbuhnya. Mampu membuat torsi yang pas dengan bobot, nyatanya belum sampai disitu saja. Permasalahan lain yaitu muncul, yakni dimensi yang terlalu besar untuk merintangi sela-sela tanaman padi.

Sementara itu, waktu perlombaan semakin mepet. Hal itu membuat Zainul dan empat kawannya lembur sampai malam. “Mulai Februari sampai mendekati pelaksanaan Mei, kami pulang malam terus. Siang kuliah, pulang kuliah ke laboratorium,” imbuhnya.

Proses pembuatan robot tak kenal waktu, bahkan ada yang sampai sakit karena kelelahan. Beruntung, sebelum berangkat lomba, Tanoker_IR 64 sudah diuji coba. “Waktu uji coba kami dan dosen pendamping yakin menang. Karena robot ini bisa menyelesaikan semua proses pertanian sampai panen dengan memotong,” tambahnya.

Beni Widyaman, pendamping tim robot Tanoker_IR 64 mengatakan, untuk membuat robot atau karya butuh riset. Riset dalam pembuatan Tanoker_IR 64 tersebut setidaknya satu tahun. Oleh karenanya, wajar saja ketika riset telah lama dilakukan, saat pembuatannya membuat mahasiswa bersemangat merealisasikan ide-ide mereka.

Dia menjelaskan, robot Polije tersebut bisa unggul karena tidak semua robot pertanian yang dilombakan bisa menyelesaikan tugas petani. “Kalau robot yang bisa menanam ini semuanya bisa. Tapi untuk menyelesaikan hingga panen tidak semua robot. Bahkan, ada robot yang melakukan proses panen dengan menubruk begitu saja,” pungkasnya. (*)

IKLAN

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih