Babak Baru Sengketa Lahan SMPN 3 Tanggul

Kalah di PN, Pemkab Ajukan Banding

RADAR JEMBER.ID – Kasus sengketa kepemilikan lahan SMPN 3 Tanggul belum berujung. Setelah kalah di pengadilan tingkat pertama di Pengadilan Negeri (PN) Jember, Pemkab Jember mengajukan banding. Hingga kini, pemerintah daerah masih menunggu hasil putusan itu sampai memiliki kekuatan hukum tetap (inkracht).

Perebutan hak milik lahan ini kembali mencuat ke publik setelah penggugat yang mengklaim sebagai ahli waris menyegel sekolah yang berada di bilangan Jl. PB Sudirman No 30, Tanggul Wetan, Kecamatan Tanggul. Akibat penyegelan itu, pihak sekolah tak bisa menempati gedung untuk Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini. Mereka memanfaatkan bangunan eks UPTD Pendidikan Tanggul sebagai kantor sementara.

Melalui kuasa hukum penggugat, Anjas WS Pamungkas, disebutkan bahwa sekolah tersebut dibangun setelah mendapat hibah tanah pada 1963 silam dari almarhum Harsono, lelulur Yoyok, sang penggugat. Namun sejak saat itu, tanah tersebut belum pernah disertifikasi menjadi aset Pemkab Jember.

“Para ahli waris almarhum Harsono memiliki sertifikat hak milik. Dan selama 30 tahun lebih, mereka bayar pajak. Padahal, itu seharusnya ditanggung pemerintah daerah,” kata Pamungkas, kuasa hukum penggugat.

IKLAN

Menurut dia, semula kliennya itu meminta ganti rugi pembayaran objek pajak kepada Pemkab Jember. Namun, pihak pemkab tak ada yang menggubris. Ini sempat membuat ahli waris menyegel sekolah beberapa kali. Terbaru, penggugat juga kembali menyegel lembaga pendidikan itu dengan memasang seng dan banner yang berisi tulisan. Kendati demikian, pihaknya tetap mencantumkan permohonan maaf karena telah menutup paksa sekolah tersebut.

Langkah ini, diakui Pamungkas, karena pihaknya memiliki dasar hukum setelah gugatannya dimenangkan oleh Pengadilan Negeri (PN) Jember. Dalam putusan Nomor 118/Pdt.G/2018/PN Jember tanggal 29 Mei 2019 itu, gugatan kliennya dikabulkan oleh majelis hakim. “Dalam putusan hukum itu, jelas kita sudah menang. Tinggal iktikad baik dari bupati dan kawan-kawan saja,” jelasnya.

Akhir-akhir ini, dia menambahkan, juga telah dilakukan diskusi antara kedua belah pihak. Tapi belum ada kesepakatan. Dia pun menuding, pihak pemkab sengaja mengulur-ulur waktu dengan mengajukan banding. Sedangkan pada proses peradilan pertama, pemkab selaku tergugat, sudah dinyatakan kalah.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Jember Edy Budi Susilo menuturkan, persoalan SMPN 3 Tanggul yang disegel sampai hari ini masih berada di ranah hukum. Sampai hari ini, pemkab telah mengajukan banding. “Maka harus sama-sama dipahami bahwa proses itu masih terus berjalan. Artinya belum inkracht,” ungkap Edi, saat ditemui Radarjember.id, kemarin (1/7).

Menurutnya, kedua belah pihak harus sama-sama menghormati proses hukum tersebut. Salah satunya dengan tidak mengambil langkah-langkah di luar jalur hukum. Sebab, Edi menegaskan, ketika posisi SMPN 3 Tanggul itu masih belum berkekuatan hukum tetap (inkracht), maka secara administratif, sekolah itu masih masuk catatan neraca aset Pemkab Jember.

Saat ini, pihaknya juga masih menanti keluarnya putusan pengadilan atas memori banding yang telah diajukan. Karena itu, Edi meyakini, secara de facto sekolah tersebut adalah milik pemda yang digunakan untuk fasilitas sekolah. “Seharusnya para pihak menghormati proses belajar mengajar yang ada,” ucapnya.

Selama sekolah disegel, pihaknya telah melakukan upaya agar proses administrasi dan PPDB kemarin terus berjalan. Bahkan, agar proses penerimaan siswa baru tetap berlangsung, pihaknya memindahkan sementara Kantor SMPN 3 Tanggul ke eks Kantor UPTD Kecamatan Tanggul.

Sejauh ini, dirinya masih berharap pada putusan pengadilan tingkat banding. Harapannya, mampu menenteramkan kedua belah pihak. Dia juga meminta agar lembaga pendidikan itu tetap bisa digunakan saat tahun ajaran baru nanti dimulai. “Dengan sama-sama menghormati, siapa pun nanti yang ditetapkan sebagai pemilik yang sah, maka itulah putusan yang inkracht,” pungkasnya. (*)

Reporter : mg2

Fotografer : Maulana

Editor : Mahrus Sholih