Sudah Ditempati, Pedagang Semakin Semangat

AKTIVITAS EKONOMI: Beginilah aktivitas Pasar Kreongan. Pedagang dan pembeli senang karena pasar lebih bersih.

RADAR JEMBER.ID – Suka cita ditunjukkan baik pedagang dan pembeli di Pasar Kreongan. Sebab, pasar itu yang sudah direnovasi itu sudah ditempati. Sepertinya, masih banyak pedagang yang belum tertampung. Akhirnya, berjualan di pinggir pasar.

Dibanding sebelumnya, pasar tersebut tampak lebih bersih. Lantainya berkeramik, toiletnya juga bekeramik, tidak becek, dan tak kepanasan lagi. Walaupun kondisinya sudah lebih baik, namun para pedagang yang tidak tertampung tetap berjualan di luar pasar.

Hal itu membuat pasar semakin kurang menarik. Rupanya, pasar tersebut tidak bisa menampung semua pedagang. Ada sekitar tidak pedagang yang berjualan di luar pasar. Padahal, sudah ada tulisan bahwa dilarang berjualan di dekat pintu dan keluar pasar tersebut

Pantauan Radarjember.id, kondisi Pasar Kreongan lebih kondusif dan tertata di dalamnya.  Pedagang punya lapak sendiri-sendiri dan ditata dengan baik. Pedagang pisang dikumpulkan dengan pedagang pisang, pedagang daging juga dikumpulkan, begitu seterusnya.

IKLAN

Pasar itu kini bersih dan cukup menyenangkan. Hal itu diakui oleh Runi, salah satu pedagang pisang. “Enak, lebih bersih,” katanya. Tak heran, dia semakin memiliki semangat untuk berjualan.

Amelinda, salah satu pembeli asal Slawu , mengaku, ia mengajak anak pergi ke Pasar Kreongan tak khawatir lagi. “Dulu kan kotor, kalau ajak anak ya kasihan. Belum lagi kalau minta ke toilet. Sekarang enak, toiletnya juga lebih bersih,” tuturnya.

Bila memasuki pasar ini, di belakang pasar juga ada yang berjualan, namun lebih sepi. Mereka merupakan pedagang lama Pasar Kreongan yang dulu tidak punya lapak dan tidak mengantongi izin berjualan. “Saya sudah 9 tahun jualan, semua yang jualan di belakang itu pedagang lama,” kata Arifin, salah satu pedagang yang menjual tahu.

Dari sekian banyak pedagang yang berjualan di bagian belakang bangunan, ada satu pedagang paling merana. Dia adalah Yuli, pedagang kecambah, dia mengaku, dulu memiliki lapak. Namun, hanya berjualan di belakang.  “Saya dulu punya dua lapak. Satu punya saudara dan satu punya saya. Tapi dua lapak itu surat izin menempatinya (SIM) hanya satu. Sekarang malah jualan di luar, orang baru yang dulu menampung di depan toko justru berjualan di dalam,” pungkasnya. (*)

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Bagus Supriadi