Pedagang Gerah, Ingin Segera Pindah

Potret Pembangunan Pasar Tradisional

RADAR JEMBER.ID – Niat baik untuk membangun pasar tradisional menjadi pasar yang lebih baik, bersih, dan modern patut diapresiasi. Sebab, kondisi pasar tradisional itu memang sudah kurang layak. Sayangnya, beberapa pembangunan pasar tersebut masih terbengkalai dan tidak bisa ditempati.

Padahal, pasar merupakan sumber ekonomi masyarakat. Ada pedagang yang penghasilannya menurun karena harus pindah tempat sementara. Sedangkan pasar yang direnovasi tak kunjung diresmikan. Tak hanya itu, keluhan juga datang di tempat relokasi, mereka sudah gerah dan ingin segera pindah.

Pedagang banyak yang mengurangi barang jualannya karena lapak yang terbatas. Tak cukup mampu menampung barang dagangan. Tak hanya itu, konsumen juga terkena dampak, mereka tidak nyaman ketika berbelanja.

Mangkraknya pembangunan pasar di Kabupaten Jember kontan membuat tempat tersebut tak bisa dimanfaatkan. Sebut saja Pasar Manggisan, Kecamatan Tanggul. Pasar yang dibangun menggunakan uang miliaran rupiah itu kini tak bisa di tempati pedagang akibat pengerjaan yang tidak selesai.

IKLAN

Hal itu membuat para pedagang yang sebelumnya berjualan harus berjualan di tempat relokasi yang kurang layak, panas, dan kotor. Namun demikian, tidak semua pedagang memanfaatkan lokasi yang disediakan untuk sementara tersebut.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Jember (LP2M Unej) Prof Achmad Subagio mengatakan, pasar yang belum bisa ditempati karena pembangunan belum selesai jelas berdampak pada perputaran ekonomi. Sebab, kata dia, pasar tersebut merupakan sentral perekonomian bagi warga yang selama ini memanfaatkannya. “Pasar itu sentral ekonomi bagi daerah sekitar,” ucapnya.

Menurutnya, keberadaan pasar sangat penting bagi pedagang dan konsumen. Selain itu, pasar menjadi jembatan bagi para petani yang akan menjual hasil panennya, baik melalui tengkulak maupun secara langsung. “Kalau pasar tidak dapat digunakan, dampaknya pada perputaran ekonomi,” tegasnya.

Pedagang yang dulu sudah memiliki langganan konsumen tetap, karena direlokasi, konsumen bisa hilang karena tidak tahu tempatnya. Kemudian, lanjut dia, petani dan tengkulak tentu juga bingung. Pedagangnya juga tidak nyaman berjualan. Hal ini berdampak pada penghasilan dan semangat mereka untuk berjualan.

Dengan lokasi yang tidak nyaman, lanjut dia, tak hanya pedagang yang dirugikan. Namun juga konsumen yang sudah menjadi pelanggan setiap hari. Mereka belanja untuk kebutuhan dapur tidak setiap bulan. Namun, setiap pagi atau sore.

Hal ini akan membuat konsumen lari dan mencari pedagang atau pasar yang lebih cocok dengan dirinya. “Kalau pedagangnya tidak semua berjualan di satu lokasi lagi, maka membuat konsumen tambah bingung,” imbuhnya.

Untuk itu, agar perputaran ekonomi yang selama ini terbangun dengan baik tidak terganggu, Prof Bagio menyarankan agar pasar yang belum selesai pembangunannya segera diselesaikan. “Karena pasar merupakan sentral ekonomi, maka pembangunannya harus diselesaikan agar perputaran ekonomi kembali normal lagi,” pungkasnya.

Sementara itu, Danang Andriasmara, Plt Disperindag Jember, masih belum bisa dikonfirmasi terkait  kapan pasar tersebut akan ditempati. Radarjember.id yang menghubunginya melalui telepon belum mendapat respons. (*)

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Nur Hariri

Editor : Bagus Supriadi