Pedagang Kepanasan dan Kehujanan

BERALIH FUNGSI: Aktivitas para pedagang di sebuah tempat yang dulunya sebagai pasar sapi, kini menjadi pasar penampungan sementara bagi warga Tanggul dan sekitarnya.

RADAR JEMBER.ID – Pedagang di Pasar Manggisan Tanggul, tampaknya harus bersabar agar bisa berjualan dengan nyaman. Sebab, setelah Kejaksaan Negeri Jember menyatakan pembangunan pasar tersebut terindikasi ada penyelewengan, para pedagang direlokasi ke sebuah pasar penampungan sementara yang berada di Jalan Urip Sumoharjo.

Rupanya, kondisi di pasar penampungan itu kurang layak. Selain karena bekas pasar hewan, lokasi yang persis di pinggir jalan nasional itu juga merupakan kawasan sub terminal yang menjadi tempat mengangkut dan menurunkan penumpang. Sehingga keadaan yang seperti itu dinilai tak menguntungkan para pedagang.

Belum lagi, lokasi yang terlihat kumuh, membuat masyarakat enggan berbelanja di pasar sementara tersebut. Kesan kumuh itu juga terlihat dari kondisi bangunannya yang semi permanen. Hanya beratapkan terpal yang bolong-bolong. Kondisi ini membuat nestapa pedagang. Mereka harus menahan panasnya matahari. Bahkan saat hujan, dagangan mereka basah terkena air.

“Sejak pindah ke sini, banyak pelanggan saya kabur. Karena memang lebih ramai di Manggisan,” kata Sufatmi, pedagang sayur asal Dusun Jetis, Desa Tisnogambar, Bangsalsari. Untungnya, kata dia, para pedagang sapi yang biasanya melapak tiap Senin, telah dipindahkan ke Pasar Hewan Bangsalsari, sehingga tak menambah kekumuhan kawasan tersebut.

Kondisi ini berdampak lesunya aktivitas perdagangan. Perempuan yang mengaku telah belasan tahun melapak di Pasar Manggisan itu menuturkan, saat mereka dipindah, pedagang harus mencari pelanggan baru dan berebut lapak. “Seharusnya pedagang kecil lebih diperhatikan oleh pemerintah. Mau jualan saja dipindah-pindah,” keluh ibu lima anak itu.

Sejak para pedagang direlokasi, lanjutnya, beberapa pedagang ada yang berpindah-pindah tempat. Sebab, lokasinya cukup sempit dan kurang memadai. Sebagian ada yang bertahan di sekitar Pasar Manggisan dengan mendirikan bangunan semi permanen.

Seperti pengakuan Samah, pedagang yang bertahan di sekitar Pasar Manggisan. Dia menyesalkan kondisi pasar yang saat ini mangkrak, karena berdampak terhadap usahanya. Kini, jualannya sepi setelah para pedagang direlokasi dari pasar tersebut. “Sejak pasar dipindah, saya sudah mengurangi jualan nasi saya. Itu pun setiap harinya kadang jarang habis,” keluh lansia itu.

Kondisi ini tak hanya dialami Samah, sejumlah pedagang lain menurutnya juga mengalami nasib serupa. Dia berharap, usaha jualan nasinya itu bisa ramai kembali selayaknya dulu saat sebelum pasar direnovasi. “Ingin seperti dulu saja. Tidak perlu pasar baru. Yang penting bisa berdagang dan orang-orang yang jualan itu dijamin keamanannya. Itu wis cukup,” harapnya. (*)

IKLAN

Reporter : mg2, Mahrus Sholih

Fotografer : Mahrus Sholih

Editor : Bagus Supriadi