Istiqamah Menjaga Kebangsaan Setelah Keputusan MK

Hari raya Idul Fitri adalah hari raya kemenangan bagi umat Islam di seluruh dunia. Momen hari raya kemenangan digunakan dengan sebaik-baiknya untuk saling memaafkan, sebuah tradisi yang sangat baik dalam menjaga persaudaraan dan kebangsaan bagi bangsa. Acara silaturahmi ke sanak famili menjadi agenda yang rutin dilaksanakan demi selalu istiqamah menjalin persaudaraan dengan sesama. Halalbihalal dilakukan mulai dari presiden sampai rakyat jelata, semua bersinergi menjaga kebangsaan NKRI.

Hari raya kemenangan akan segera berlalu, sebuah kenangan indah saat hari raya kemenangan akan menjadi sebuah narasi belaka jika anak bangsa tidak istiqamah menjaga nilai-nilai hikmah yang terkandung di hari raya kemenangan. Rasa saling sebangsa dan bernegara menjadi rapuh karena ujaran kebencian dan berita hoaks, begitu kuatnya intoleransi yang terjadi di medsos bisa membuat bangsa ini terpecah belah karena perbedaan pilihan.

Problematika di tahun politik saat ini masih sangat terasa banyaknya drama politik masih menghiasi media massa. Sidang MK ditayangkan secara live bisa ditonton seluruh rakyat Indonesia bahkan dunia. Sandiwara sidang MK menjadi tontonan yang bisa menimbulkan persepsi berbeda rakyat Indonesia, begitu serunya sampai menyedot perhatian publik tanah air ditambah lagi berbagai postingan di Medsos yang berisi ujaran kebencian dan berita hoaks menambah drama sidang MK semakin memanas.

Narasi yang dibuat eliteE politik salah satu pendukung paslon menambah suasana tidak kondusif bagi perkembangan kebangsaan. Sikap intoleransi yang ditunjukkan bisa membawa efek tidak baik bagi pendukung masyarakat awam yang tidak melek politik, mereka terprovokasi dengan narasi yang dibuat tokoh politik. Narasi negatif bisa memecah nilai-nilai kebangsaan yang ditanamkan pejuang kemerdekaan, belum dewasanya dalam menerima keputusan MK menjadi pemicu perpecahan bangsa, dengan melakukan pengerahan massa di MK menjadi senjata andalan elitee politik.

IKLAN

Di tahun politik ini memobilisasi massa menjadi senjata bagi elite politik untuk menjatuhkan lawannya, dengan berbagai narasi yang dibuat untuk memprovokasi massa elite politik membuat intoleransi aktik bangsa ini. Hal yang paling mengkhawatirkan adalah jika kedua massa pendukung saling bentrok karena narasi yang berbau provokatif. Massa pendukung merasa yang paling benar dan apa yang mereka lakukan sebuah kebenaran. Padahal ini hanya sebuah narasi politik adu domba yang dilakukan oknum yang tidak bertanggung jawab terhadap nilai-nilai kebangsaan negara Indonesia, hanya karena sebuah ambisi politik anak bangsa dijadikan tumbal politik hitam.

Professor Abdullah Muhammad Baharun Yaman dalam seminar internasional di INAIFAS Kencong Jember bertema Peran Perguruan Tinggi Islam dalam Menangkal Paham Radikalisme berpesan, jangan pakai agama dalam politik. Pesan beliau sangatlah tepat dengan kondisi tahun politik saat ini, karena masih banyaknya massa pendukung salah satu paslon menggunakan agama dalam menarik simpati massa. Masalah politik SARA memang sangat berbahaya bagi persatuan bangsa. Banyak orang yang lebih condong pada irasional dari pada rasional dalam bertindak. Mereka langsung saja terbawa emosi jika politik SARA digunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab demi sebuah ambisi politik.

Demi menjaga terciptanya sebuah kondisi yang kondusif hendaklah semua elemen bangsa bersatu padu dalam menjaga kebangsaan pasca keputusan MK, yang menang janganlah mem-bully yang kalah karena kemenangan adalah kemenangan seluruh bangsa bukan hanya milik pribadi. Dan yang kalah hendaklah belajar dewasa dalam berdemokrasi siap menerima kekalahan dengan lapang dada, menjaga kesatuan bangsa lebih utama dari pada sekadar membuat narasi politik, keputusan MK seharusnya diterima oleh semua pihak dengan berbaik sangka. Janganlah pasca keputusan MK ini rakyat Indonesia terpecah belah.

Istiqamah menjaga kebangsaan pasca keputusan MK adalah awal langkah yang baik bagi pembangunan bangsa, karena setiap elemen anak bangsa pastinya mempunyai kelemahan dan kelebihan masing-masing. Kelemahan yang satu bisa ditutupi oleh kelebihan orang lain. Bangsa ini akan kuat jika setiap anak bangsa bersatu padu dalam menjaga kesatuan bangsa, saling hormat menghormati pasca keputusan MK menjadi karakter positif.

Saling maaf memaafkan ketika hari raya kemenangan janganlah dinodai dengan permusuhan. Hikmah yang luar biasa dalam membangun kebangsaan di mulai dengan saling maaf memaafkan. Karakter mau minta maaf adalah sikap rendah hati yang positif begitupun memaafkan kesalahan orang lain dengan lapang dada dan ikhlas termasuk akhlak yang terpuji. Energi yang baik bisa membangkitkan rasa persaudaraan dengan sesama.

Ketika hari raya Idul Fitri tiba maka sebuah hari raya kemenangan bersama bagi bangsa ini, kemenangan itu harus dijaga dengan baik, sikap permusuhan berarti merusak sebuah kemenangan, karena inti dari kemenangan adalah dengan belajar menghilangkan sikap permusuhan dengan sesama. Jika pasca keputusan MK masih banyak permusuhan berarti hikmah sebuah hari kemenangan akan sirna. Pasca keputusan MK semua harus kembali bersatu dalam membangun bangsa.

*) Penulis adalah mahasiswa Inaifas Kencong Jember dan anggota Forum Silaturahmi Warga Desa Perbatasan Kasiyan Timur dan Grenden Puger Jember

Reporter :

Fotografer :

Editor :