Kegigihan M Fieqih Hidayatullah Kembangkan  Hidroponik

Diragukan Ortu, Kini Jadi Penyuplai Sayur ke Surabaya

PETANI MODERN: Muh Fieqih bersama tanaman selada yang dikembangkan melalui media hidroponik di kawasan Petemon, Pakusari. Dia adalah sarjana sistem informasi yang justru sukses di bidang pertanian.

RADARJEMBER.ID – Pemuda asal Pakusari ini begitu giat menekuni tanaman hidroponik di rumahnya. Kegigihannya membuatnya sukses di usia yang masih muda. Sebab, sudah bisa menjadi penyuplai sayur hingga ke Surabaya.

Greenhouse berwarna hijau itu ada di tengah lahan tembakau Desa Petemon, Kecamatan Pakusari. Tempat itu bukan untuk tanaman tembakau, tapi  justru sayuran. Yakni tanaman hidroponik yang memanfaatkan pipa paralon sebagai wadah beraneka ragam sayuran.

Tak mudah untuk masuk ke greenhouse ini. Sebab, ada beberapa peraturan yang harus diikuti. Seperti tidak boleh merokok. Sebab, asap rokok dapat memicu hama serangga masuk ke greenhouse. Ketika  sudah masuk, pintunya harus segera ditutup. “Ini ditutup oleh waring untuk mencegah hama seperti kupu-kupu dan serangga masuk,” ucap Muhammad Fieqih Hidayatullah, pemilik greenhouse tersebut.

Saat dilihat lebih detail, ternyata hidroponik yang ditanam hanya satu macam, yakni  sayur selada. Namun berbagai jenis, mulai dari selada lollobionda, lollorosa, romaine, dan red oak leaf.  Dia tidak memilih sawi dan sayuran lainnya karena selada lebih menguntungkan daripada sawi. Selain itu, perawatannya lebih gampang, sedangkan sawi daunnya rentan terkena hama.

IKLAN

Dia hanya menanam jenis selada karena permintaan dari supermarket dan mal di Surabaya hanya selada hidroponik yang sehat dan higienis. Akhirnya, melalui pengembangan hidroponik, pemuda 25 tahun ini menjadi pemuda Jember pemasok sayuran di supermarket dan mal-mal (mall) di Surabaya.

Baginya, petani tidak harus orang tua. Pemuda pun bisa jadi petani, tapi petani yang modern. Yaitu efisien, efektif, terakhir menghasilkan. Dia sering menjadi tutor hidroponik Jember dan penasihat pengembangan hidroponik skala besar di Jember, padahal bukan lulusan pertanian. “Keilmuan saya bukan pertanian, saya itu sarjana sistem informasi di Unej,” imbuhnya.

Fieqih muda pun tak pernah belajar tanaman. Namun, hanya autodidak belajar di komputer dan internet. Awal karirnya, dia adalah programer di salah satu rumah sakit di Probolinggo. Bekerja di ruangan, Fieqih mulai bosan hingga menemukan hal yang menarik perhatiannya, yaitu hidroponik.

Seminggu sekali dia pulang ke Jember, menyempatkan diri untuk mencoba menanam sayuran dengan media hidroponik melalui botol air mineral bekas hingga memakai bambu. Keyakinan  jadi petani hidproponik karena hidup sehat menjadi gaya hidup masyarakat. “Tidak hanya hidup sehat dengan olahraga, tapi juga konsumsi sayuran yang sehat,” ujarnya.

Saat panen pertama dan kedua, hasilnya tidak laku. “Sayuran separuh untuk dibagi, separuhnya saja jual dengan door to door,” akunya. Dia tidak menjual ke pasar, karena harganya akan mengikuti pasar yang murah. Kala panen ketiga, Fieqih bisa tersenyum. Sebab, ada pembeli khusus yang datang ke kediamannya untuk membeli semua sayuran hidroponik.

Dari sanalah, Fieqih ada keinginan berhenti bekerja dan meminta petak lahan sawah ke orang tuanya untuk dijadikan greenhouse. Rayuan demi rayuan tidak membuat orang tuanya percaya bahwa putranya bisa jadi petani dengan hidroponik. “Orang tua tidak percaya, terutama ibu,” ingatnya.

Tiga bulan proses membujuk orang tua, akhirnya pada 2017 Fiqieh konsentrasi ke hidroponik dan lepas pekerjaan sebagai programer rumah sakit. Dengan modal Rp 200 juta yang separuhnya dipinjam dari bank, Fiqieh semakin terpacu cara menjual tanaman hidroponik yang harganya lebih mahal tersebut. “Saya berangkat ke Surabaya, karena di sana ada pasar tradisional yang konsepnya seperti supermarket. Sering ditolak karena tidak percaya, akhirnya ada satu yang percaya,” ujarnya.

Permintaan yang terus meningkat menjadikannya semakin bersemangat. “Saya punya teman pemasok ikan di Superindo. Mengirimkan sampel, akhirnya ingin bertemu membicarakan kontrak,” ujarnya.

Hubungan kerja sama pun sampai sekarang. Dia  kirim ke Surabaya dengan jumlah yang cukup banyak.

Walau terbilang sukses, Fiqieh pernah gagal  soal menanam. Belajar autodidak melalui internet, kata dia, tidak semua benar seratus persen. “Ada yang bohong juga internet itu. Tidak ada tutorial hidroponik seratus persen benar,” tuturnya.

Fiqieh secara sederhana juga mulai menyatukan keilmuannya sebagai sarjana sistem informasi dengan pertanian hidroponik. Salah satunya adalah mengukur suhu greenhouse lewat alat yang selanjutnya dikirim ke ponsel. “Tapi ini tidak real time. Kalau real time butuh robot yang setiap waktu keliling untuk menurunkan atau menaikkan suhu,” pungkasnya.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Bagus Supriadi