Bangunan Sudah Mewah, Tetap Tak Ditempati

MEGAH TAK TERPAKAI: Kondisi Pasar Tegalboto yang sudah bagus, namun sudah ditumbuhi rumput di depannya.

RADAR JEMBER.ID – Sebelum direnovasi, Pasar Tegalboto memang tidak ditempati. Kondisinya sudah harus direnovasi karena mulai rusak. Pasar ini menjadi pasar mati yang, tak ada aktivitas. Padahal, letaknya berada di tengah kota.

Lalu, pasar tradisional ini direhabilitasi agar menjadi lebih baik. Sebab, bila dimanfaatkan, pasar yang berada di kawasan kampus ini bisa menjadi sumber ekonomi baru.

Lokasi pasar ini cukup strategis, bersebelahan dengan Perumahan Sumber Alam, juga dikelilingi bangunan kos mahasiswa Jl. Nias dan Jl. Jawa. Sayangnya, meskipun sudah dibangun dengan megah, sampai sekarang masih belum ditempati.

Beberapa rumput sudah mulai tumbuh di halaman bangunan pasar ini. Seperti tak ada yang merawat kondisinya. “Pasar ini sepi. Orang-orang perumahan mana mau sekarang belanja ke pasar. Apalagi, sudah banyak pedagang yang keliling,” kata Untung, satu-satunya pedagang rokok di seputar pasar tersebut.

Perempuan tua yang sudah tinggal di pasar itu selama 25 tahun sendirian. Tak ada pedagang lain yang menemaninya. Lapak kecil tempat menjual rokok sangat sederhana. Sementara itu, Pasar Tegalboto sudah begitu megah.

Wujudnya bukan lagi seperti bangunan pasar tradisional, namun pasar modern. Ada beberapa ruko tingkat dua, serta dipasang kaca di luarnya seperti di  Pasar Tanjung.

Tak ada bangunan kios-kios kecil di dalamnya. Lantai keramik dan anak tangganya pun masih bagus. Nomor-nomor di kiosnya pun masih terpasang semua. Tulisan Pasar Tegalboto  belum dipasang di sana, hanya bertuliskan tanah milik Pemerintah Kabupaten Jember.

Orang baru yang lewat di depan pasar itu bakal tak mengira jika gedung itu merupakan pasar tradisional. “Bangunan ini katanya belum diresmikan. Baru beberapa bulan lagi. Tapi kondisinya ya sepi seperti ini,” imbuhnya.

Diakuinya, pasar itu sudah terlalu lama tidak dipakai. Tak ada aktivitas jual beli di dalamnya. Padahal, bila dimanfaatkan dengan baik, bisa menyejahterakan warga.

Pasar ini juga sempat menjadi wacana untuk tempat para pedagang kaki lima (PKL). Namun, hanya sebatas wacana, tanpa pernah dilakukan. “Dulunya sempat ramai pasar ini. Namun, lama-kelamaan satu per satu pedagangnya memilih meninggalkan pasar,” pungkasnya. (*)

IKLAN

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Muchammad Ainul Budi

Editor : Bagus Supriadi