SMPN 5 Silo Hanya Satu Pendaftar

Malah Pilih SMPN Kalibaru

RADAR JEMBER.ID – Nasib SMPN 5 Silo, Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, PPDB tahun ini cukup mengenaskan. Sebab, sekolah tersebut tak lagi diminati oleh warga sekitar. Siswa yang mendaftar di sekolah tersebut hanya satu orang. Sementara itu, banyak pelajar yang memilih sekolah ke SMPN 1 dan SMPN 2 Kalibaru, Banyuwangi.

Padahal, gedung SMPN 5 Silo baru saja diperbaiki 2018 lalu. Gedungnya masih kuat, ruang kelasnya bersih. Mampu menampung satu rombongan belajar. Lokasinya berada di kawasan permukiman warga. Sekolah ini seharusnya tak kekurangan pelajar. Sebab, lokasinya berada satu  kompleks dengan SDN Sidomulyo 02, Silo.

Seharusnya, 24 siswa yang lulus dari SDN Sidomulyo 02 tahun ini mendaftar ke SMPN 5 Silo. Sebab, tinggal pindah ruang kelas, dari SDN Sidomulyo 02 ke SMPN 5 Silo yang berhadap-hadapan. Sayangnya, kondisi itu tidak terjadi.

Ironisnya, tak ada satu lulusan SDN Sidomulyo 02 yang mendaftar ke SMPN 5 Silo. Mereka justru lebih tertarik sekolah ke luar kabupaten, yakni SMPN 1 dan SMPN 2 Kalibaru, Banyuwangi. “Dari 24 lulusan itu, mereka sekolah ke SMPN 1 dan 2 Kalibaru,” kata Jumadin, penjaga SMPN 5 Silo yang juga merangkap penjaga SDN Sidomulyo.

IKLAN

SMPN 5 Silo itu merupakan sekolah satu atap sejak tahun 2007 lalu. Bahkan, sudah ada pergantian kepala sekolah selama empat kali. Kini, kepala sekolah dijabat oleh Andre Kus Iriyanto. Namun, kondisinya sudah sering sakit sehingga kurang aktif. “Kepala sekolahnya sedang sakit,” tambah Jumadin.

Beberapa tahun sebelumnya, sekolah ini tidak kekurangan pelajar. Sebab, beberapa guru SDN Sidomulyo juga ikut mencarikan lulusan pelajar SD agar sekolah di sana. Namun, keberadaan guru terus berkurang hingga berdampak pada jumlah siswa yang belajar di sana. “Awalnya ada tujuh guru, namun sekarang tinggal empat guru,” paparnya. Sedangkan guru yang lain sudah berhenti. Dua guru PNS dan dua guru GTT.

Jumadin memperlihatkan ruang kelas yang baru saja diperbaiki. Ada tiga ruang kelas yang masih bagus. Semua masih sangat nyaman untuk aktivitas pembelajaran. Ruang kelas ini awalnya bangunan milik SDN Sidomulyo 02. Namun, sekarang dipakai untuk SMPN 5 Silo. “Satu ruang kelas yang masih bagus  kosong,” ucapnya.

Jumlah pelajar kelas VII satu orang, VIII 9 orang, dan kelas IX 6 orang. Para pelajar di sekolah ini merupakan anak pekerja kebun di afdeling Kampung Anyar, PTPN XII Kebun Gunung Gumitir. “Banyak yang tidak mau sekolah di sini karena gurunya hanya tiga,” ucapnya.

Bahkan, ada anggota komite sekolah yang enggan untuk menyekolahkan anaknya di SMPN 5 Silo. Sebab, khawatir tidak mendapatkan pembelajaran yang layak karena minimnya guru. Tak heran, orang tua siswa memilih menyekolahkan anaknya ke Banyuwangi karena jaraknya hanya tujuh kilometer.

Salah satu warga yang enggan disebutkan namanya mengaku, anaknya lebih baik sekolah ke tempat itu dari pada di SMPN 5 Silo. “Meskipun hanya sebagai buruh kebun, saya ingin anak menjadi pintar,” akunya.

Sementara itu, Kepala SMPN 5 Silo Andre Kus Iriyanto mengatakan, sekolah yang dipimpinnya memang sudah mau tutup. Hal itu juga sudah menjadi pembicaraan warga. Akibatnya, mereka enggan untuk mendaftarkan anaknya di sekolah tersebut.

Selain itu, pihak kebun memberi fasilitas dengan menyiapkan truk untuk mengangkut siswa yang akan berangkat sekolah ke SMPN 1 dan 2 Kalibaru. ”Saya juga sudah putus asa dan tidak mungkin bisa merayu orang tua siswa yang anaknya baru lulus di SDN Sidomulyo 02 untuk masuk ke SMPN 5 Silo,“ ujarnya.

“Saya mendengar kabar dari orang-orang kalau sekolah mau ditutup,” akunya. Bahkan, kabar itu juga dari ketua komite sekolah dan dari guru. Di SMPN 5 ada dua guru yang sudah PNS dan dua guru lagi GTT.

Menurut Andre, awalnya jumlah siswa mulai kelas 1, 2, dan 3 ada 29 siswa. Pelajar yang lulus tahun ini ada 14 siswa, sehingga total siswa dengan ditambah siswa baru jumlahnya ada 16 siswa. “Untuk PPDB tahun ini hanya ada satu siswa yang mendaftar,” pungkasnya. (*)

Reporter : Jumai

Fotografer :

Editor : Bagus Supriadi