Orang Tua Masih Anggap Olahraga Menakutkan

Cabor Tinju Minim Atlet

TETAP KIRIMKAN ATLET: Di Jember, cabang olahraga bela diri semacam tinju, muay thai ataupun wushu sanda, minim atlet. Namun, mereka masih eksis dalam Porprov tahun ini.

RADAR JEMBER.ID – Sasana Tinju Rambipuji seakan tak mau berhenti bernapas. Bahkan, sasana ini mengirimkan atletnya dalam ajang bergengsi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur. Ajang olahraga tingkat regional keenam tersebut bakal diselenggarakan awal Juli tahun ini di empat kabupaten/kota yang berbeda.

Oki Wijaya, pelatih sasana tinju tersebut mengaku, dirinya masih ingin mengembangkan olahraga adu pukul itu di Jember. Oleh karena itu, di Porprov, sasana multifungsi ini mengirimkan lima atlet. Namun, empat di antaranya turun di cabang olahraga (cabor) berbeda.

Mereka adalah Iqbal Dwi Pamungkas yang bermain di cabor tinju. Reza Arianto bertanding cabor muay thai, Febriyanto dan Muhammad Mukhlasin turun di wushu kategori sanda. “Sebenarnya ada satu atlet atas nama Dehan. Rencananya dia mau saya mainkan di tinju. Tapi batas usianya belum nutut. Tapi dia sudah bergabung bersama tim Jatim untuk Popnas,” jelas Oki, sapaannya.

Oki menyebut, atlet tinju Jember selalu ada yang masuk di tim Jawa Timur. Biasanya bermain di Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas). Kendati begitu, pembinaan untuk cabor tinju, muay thai ataupun wushu sanda tidaklah mudah. Sebab, olahraga ekstrem ini mengandalkan kontak fisik.

IKLAN

Wushu sanda merupakan kategori wushu yang bertarung dengan kontak fisik, menyerupai tinju. Ini berbeda dengan wushu taolu yang menampilkan jurus tanpa kontak fisik. Wushu taolu juga masih banyak stok atlet junior. Sedangkan wushu sanda minim atlet.

Sama halnya dengan wushu sanda, cabor tinju juga tak sepopuler olahraga lainnya di Jember. “Mulai pembinaan tahun 2016 lalu sampai sekarang, anggarannya juga minim. Jadi, kami melakukan pembinaan semampu dan sekuat kami,” tuturnya.

Oki menjelaskan sebab di Porprov kali ini dia hanya satu atlet saja yang bermain di cabor tinju. Menurutnya, saat ini cari atlet tinju susahnya minta ampun. Itu karena tinju masih dianggap olahraga yang menakutkan bagi orang tua atlet. “Karena berbahaya,” celetuk Oki.

Di sisi lain, kata dia, faktor pelatih juga menentukan. Selama ini ada yang melatih, tapi tidak ada dukungan dan perhatian. Sebab, tinju dinilai sebagai olahraga kelas menengah ke bawah. Ke depan, dia berharap, ada dukungan dari pihak-pihak terkait sehingga dapat membangkitkan kembali semangat tinju yang sempat booming di Jember beberapa tahun lalu. Bahkan, kala itu, Jember sempat mengadakan beberapa kali turnamen tinju yang mendatangkan petinju kelas nasional. (*)

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Muchammad Ainul Budi

Editor : Mahrus Sholih