Bupati Faida Terima Penghargaan Pejuang Kesehatan

BERGENGSI: Bupati Faida menerima penghargaan sebagai tokoh nasional yang berdedikasi di bidang kesehatan dalam ajang Health Warrior Award 2019, di Kampus Kedokteran Trisakti Jakarta

JAKARTA RADAR JEMBER.ID – Realisasi 22 Janji Kerja Bupati dan Wakil Bupati Jember dr Hj Faida MMR – KH Abdul Muqit Arief tak hanya mendapat apresiasi dari masyarakat Jember. Di tingkat nasional, program kerja yang dijalankan juga mendapat sambutan hangat. Terbaru, adalah penghargaan sebagai tokoh nasional berdedikasi di bidang kesehatan. Penganugerahan Health Warrior Award 2019 itu diterima langsung oleh Bupati Faida di Kampus Kedokteran Trisakti Jakarta, kemarin (28/6).

Penghargaan tersebut diberikan tiga lembaga kredibel. Yakni Dompet Dhuafa, sebuah NGO di Indonesia yang bergerak di bidang kemanusiaan, PTT Exploration and Production Public Company Limited (PTTEP), perusahaan minyak asal Thailand, dan Forum Ikatan Alumni Kedokteran Seluruh Indonesia.

“Pemberian penghargaan ini merupakan upaya untuk memberikan apresiasi kepada tokoh nasional, atas dasar penilaian terhadap dampak, komitmen, prestasi, keberlanjutan, dan penggerak pada diri tokoh nasional yang dipilih,” tulis Teguh Raharjo, Manajer Program Dompet Dhuafa.

Bupati Faida menerima penghargaan bersama sejumlah publik figur nasional lain yang dinilai berdedikasi. Seperti Titiek Puspa, Dewi Yul, dr Lula Kamal, hingga mantan Wakil Menteri Kesehatan Prof dr Ali Ghufron. Ada tokoh muda dr Gamal Albinsaid, wirausahawan sosial sekaligus CEO Indonesia Medika. Juga dua dokter perempuan, dr Damayanti, pakar penyakit nutrisi metabolis anak, dan Prof dr Sri Suparyati, peneliti ahli penyakit diare dan anak.

Seusai menerima penghargaan tersebut, Bupati Faida mengatakan, dirinya merasa mendapat kehormatan karena dimasukkan dalam deretan pejuang kesehatan dan mendapat apresiasi. Tentu saja, kata dia, ini menjadikan semangat bagi dirinya dan masyarakat Jember untuk berbuat lebih baik lagi. “Karena kegiatan dan kepedulian kita diapresiasi Dompet Dhuafa dan Kampus Trisakti,” ucapnya.

Penghargaan yang menggunakan istilah pejuang-pejuang kesehatan di Indonesia itu sepertinya tak salah alamat. Sebab, sebelum dinobatkan sebagai kepala daerah di Jember, Faida memang sudah dikenal luas oleh masyarakat sebagai penggiat sosial. Salah satunya adalah operasi gratis bagi masyarakat miskin. Program itu sudah berjalan bertahun-tahun bersama masyarakat dan relawan, serta tenaga medis.

“Mungkin ini salah satu hal yang menjadikan panitia mengundang. Sehingga kebijakan-kebijakan di bidang kesehatan yang telah dijalankan dianggap dan dinilai sebagai program positif dan layak mendapat apresiasi,” ujarnya.

Di sisi lain, Faida juga menegaskan, kunci sebuah kebijakan itu harus untuk semua. Termasuk juga di bidang kesehatan. Agar seluruh masyarakat, baik kaya maupun yang miskin, bisa mengakses fasilitas dan layanan kesehatan yang disediakan pemerintah. Dengan demikian, tak ada lagi kasus warga miskin yang tak mampu berobat lantaran tak memiliki biaya.

Komitmen itu diwujudkan dalam program kerja Jember Sehat, yang merupakan satu dari 22 Janji Kerja Bupati. Program yang menyediakan 248 ambulans gratis di seluruh desa dan kelurahan, serta peningkatan fasilitas kesehatan seperti puskesmas pembantu (pustu) dan puskesmas tersebut, dinilai berhasil meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Jember.

Selain itu, penyediaan akses layanan kesehatan bagi pasien miskin melalui pengobatan gratis, juga dianggap prestasi tersendiri. Terlebih, di masa kepemimpinan Bupati Faida, warga miskin di Jember tak ada alasan tak bisa berobat. Sebab, mereka ditanggung asuransi BPJS Kesehatan yang preminya dibayarkan pemerintah. Bagi yang belum terkaver, mereka dijamin oleh program SPM yang semua pembiayaan perawatan dan pengobatan ditanggung pemerintah daerah.

Kebijakan pro rakyat di bidang kesehatan ini, Faida menambahkan, sejatinya juga tak lepas dari program pemerintah pusat. Sebab, secara nasional, Indonesia sedang mengalami transisi pola pembiayaan kesehatan. Dari semula mandiri, menjadi konsep gotong royong melalui BPJS Kesehatan. Sementara itu, bagi warga miskin dibiayai oleh APBN dalam program BPJS Kesehatan PBI. “Pola ini sudah dijalankan lebih dulu di negara-negara lain. Karena beban biaya kesehatan semakin tahun kian memberatkan masyarakat,” jelasnya.

Menurut dia, tanpa jaminan asuransi kesehatan, meningkatnya biaya pengobatan bakal menyulitkan masyarakat membiayai kesehatannya sendiri. Oleh karenanya, selain ada jaminan melalui asuransi, pemerintah bersama masyarakat juga harus bersama-sama melakukan gerakan yang lebih mendasar dalam upaya menjaga hidup sehat. Caranya dengan mengubah pola dan perilaku yang lebih sehat. “Karena sejatinya, pengetahuan hidup sehat adalah kunci peningkatan taraf kesehatan,” paparnya.

Kendati begitu, Bupati Faida merasa, apa yang dilakukannya di bidang kesehatan selama ini masih menyisakan pekerjaan rumah. Semisal tentang kekurangan tenaga kerja di bidang kesehatan, utamanya dokter spesialis. Sebab, jumlah dokter spesialis dengan jumlah penduduk yang ada masih jomplang, belum berimbang.

Terlepas dari hal itu, Bupati Faida mengaku senang atas penghargaan yang diterima tersebut. Bukan hanya karena upayanya mendapat apresiasi, tapi dengan diterimanya anugerah tersebut, dirinya bisa bertemu dengan banyak orang yang memang aktif berjuang mengubah taraf kesehatan masyarakat di tempat mereka masing-masing. Hal itu yang menurutnya bisa menginspirasi agar berbuat lebih baik lagi. “Sehingga bisa membangun sinergisitas dengan pengalamannya masing-masing,” tandasnya. (*)

IKLAN

Reporter : Mahrus Sholih

Fotografer : Istimewa

Editor : Mahrus Sholih