Catatan Miring Mantan Peternak Ayam Pedaging

Merugi karena Tergiur Panen 35 Hari

JAGONYA AYAM: Ayam broiler yang menunggu panen di kandang peternakan daerah Antirogo. Sepekan terakhir ini harga komoditas daging unggas tersebut turun drastis.

RADAR JEMBER.ID – Sempat mengalami kenaikan saat Lebaran dan penyumbang inflasi terbesar pada Mei kemarin, harga daging ayam broiler terus merosot. Lagi-lagi, turunnya harga daging unggas itu selalu mengorbankan peternak. Mereka jadi sasaran kerugian. Peternak selalu buntung menghadapi anjloknya harga.

Yusman Arif, mantan peternak ayam asal Tanggul mengaku, setahun terakhir ini dirinya tak lagi meneruskan usaha ternak ayam yang telah dilakoninya sejak 2010 lalu. Kala itu, dia ingin beternak ayam karena tergiur masa panen yang hanya 35 hari. Di awal, modalnya juga tidak gede, hanya perlu punya kandang ayam. Sebab, kata dia, perusahaan kemitraan ayam itu banyak. Oleh karenanya, untuk bibit dan pakan bisa dibayar setelah panen.

Sayangnya, delapan sampai 10 kali panen, dia menghitung sering rugi daripada untung. Permasalahannya, menurut pria 32 tahun ini, peternak itu banyak rugi karena pihak mitra tidak turut andil dalam perniagaan. “Untungnya dikit. Kalau pakai tenaga kerja sendiri mungkin enak, tapi itu tidak mungkin,” imbuhnya.

Bahkan, kata dia, pada 2016 lalu ada berita Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) memutus bersalah 12 perusahaan dalam praktik kartel ayam atau perusahaan yang memonopoli pasar. “Ada istilah peternak itu jadi budak di kandangnya sendiri,” imbuhnya.

Melorotnya harga ayam di kalangan peternak, kata dia, lagi-lagi yang diuntungkan adalah perusahaan besar pengolah daging ayam seperti sosis. “Perusahaan pengolah daging nggak masalah. Mereka dapat untung lebih, harga sosis ayam juga mereka sendiri yang menentukan. Bukan pasar,” paparnya.

Buntungnya peternak ayam juga diakui oleh Jumantoro. Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember itu juga pernah beternak ayam mulai 2006 hingga berhenti 2012 lalu. “Saya itu punya empat kandang. Akhirnya saya putuskan berhenti saja. Tidak sebanding dengan pekerjaannya,” jelasnya.

Jumantoro tertarik beternak ayam broiler karena masa panennya 30-35 hari saja. Menurut dia, hitungan satu bulan panen itu enak. Meski nyatanya tidak semanis perkiraannya. Sebab, selama beternak, peternak ayam sejatinya bukan peternak mandiri. Mulai dari bibit, pakan, hingga panen masih bergantung pada perusahaan. “Bibit atau anakan ayam saja dari pabrik. Pakan juga beli di pabrik,” katanya.

Kata dia, kondisi itu berbeda dengan peternak kambing dan sapi. Walau panennya lama, tapi mulai bibit sampai pakan tidak bergantung perusahaan atau pabrik. “Peternak kambing dan sapi bisa buat pakan sendiri. Kalau ayam tidak bisa, harus beli di pabrik. Kalau begini terus, kapan untungnya,” ujarnya.

Jika harga ayam jatuh seperti ini, kata Jumantoro, menjalin kemitraan juga belum jaminan seratus persen. Sebab, banyak peternak belum tahu detail perjanjian kemitraan. Semisal, di tengah perjalanan pakan ternak dinaikkan dan saat harga jatuh seperti ini, harganya lebih murah dari perjanjian. Itulah yang membuat peternak makin buntung. “Semisal dari bibit, harga pakan, hingga per kilogram ayam dibeli berapa dan tidak berubah sedikit pun, itu masih enak,” katanya.

Sementara itu, Kasi Ketersediaan Pangan dan Peternakan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jember Muhamad Mui mengaku, anjloknya harga ayam tidak berpengaruh pada peternak. Sebab, sebagian besar peternak Jember ini bermitra. Dia menjelaskan, kebutuhan daging ayam potong untuk Jember selama tiga bulan yang dihitung mulai April sampai Juni itu 4.032 ton. Sementara itu, ketersediaan selama tiga bulan 4.732 ton. “Kalau di Jember jumlah mitra peternakan ayam itu ada 13 perusahaan,” pungkasnya. (*)

IKLAN

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih