Harga Daging Ayam Terus Merosot

RADAR JEMBER.ID – Harga daging ayam potong di Kabupaten Jember anjlok hingga 50 persen, seperti di banyak kabupaten-kota lain. Hal itu bukan saja terjadi di kalangan pedagang atau pengecer, tetapi juga di kalangan peternak.

Penelusuran wartawan Radarjember.id, turunnya harga ayam di Jember terjadi sejak awal Juni 2019. Pada 1 Juni 2019 lalu, harga daging ayam eceran per kilogram sebesar Rp 34.500. Harga tersebut terus merosot hingga beberapa hari kemudian. Tanggal 10 misalnya, harga daging ayam turun menjadi Rp 31 ribu.

Anjloknya harga daging ayam di pasaran masih terus terjadi. Pada 15 Juni, harga per kilogram ayam potong Rp 21 ribu. Selanjutnya di tanggal 24 harganya terus turun menjadi Rp 17 ribu dan harga terendah terjadi pada 25 Juni lalu yang hanya Rp 16.500 saja. Sementara itu, untuk dua hari kemarin, di tanggal 26 dan 27, harganya naik sedikit menjadi Rp 17 ribu.

Sugeng, pedagang ayam potong di Pasar Gebang, Kecamatan Patrang, mengatakan, anjloknya harga eceran tersebut mengikuti harga pengambilan pada peternak. Menurutnya, apabila harga dari peternak turun, maka harga eceran ikut turun. Sebaliknya, jika harganya naik, maka pedagang juga menyesuaikan penjualannya. “Mahal murahnya harga itu kami ikut peternak,” ucapnya.

Sugeng mengungkapkan, selama tiga hari terakhir, dirinya mengambil daging ayam potong per kilogram dari peternak seharga Rp 11 ribu. Dengan harga itu, maka harga penjualan eceran pun ikut turun. “Kemarin harganya Rp 11 ribu per kilonya,” ucap Sugeng.

Dikatakannya, harga Rp 11 ribu dari peternak, membuat sejumlah peternak mengeluh. Sebab, harga tersebut dinilai rendah dan membuat peternak rugi. “Katanya tidak sesuai dengan modal atau biaya produksi,” jelas Sugeng.

Sebagai seorang pedagang, dirinya berharap agar harga-harga bisa normal. Jika terlalu murah seperti sekarang, maka akan merugikan peternak. Sebaliknya, jika harganya mahal, bisa membuat konsumen mengeluh.

Tak hanya pedagang, peternak ayam juga mengeluhkan kondisi ini. “Ini hampir terjadi setiap tahun. Hanya saja tahun ini viral karena tersebar luas melalui medsos,” kata Huri, salah seorang peternak sekaligus pengepul ayam asal desa Dukuh Dempok Kecamatan Wuluhan.

Pria yang mengaku telah berternak selama belasan tahun itu sudah memprediksi jika harga daging akan anjlok. Hal itu karena produksi ayam dari sejumlah peternak sangat banyak dan jarak pembibitan ayam yang terlalu cepat.

Dia menuturkan yang paling merugi dari anjloknya harga itu adalah peternak ayam. “Pengepul otomatis tambah suka, ayam murah, karena daya belinya tambah tinggi,” imbuhnya.

Dia meyakini berapapun harga yang dipatok pasar, pengepul tidak akan berpengaruh apapun. Saat ini, dia mulai mengurangi ternak ayam dan lebih sering menjadi pengepul. Hal itu dilakukan agar mampu memasok permintaan konsumen ke beberapa pasar di sekitar Jember.

“Kalau anak buah saya, ada di Tanggul, Rambipuji, Pasar Tanjung, Jenggawah, dan Ambulu. Kadang saya kirim barang ke sejumlah wilayah luar Jember,” tambahnya. Hal itu sengaja dilakukan untuk menyetabilkan harga.

Jagal-jagal ayam yang ada di pasar itu, lanjut Huri, perlahan mulai menaikkan harga. Karena harga yang bervariasi di tiap pasar. Jika permintaan masih tinggi, bisa menimbulkan persaingan yang tidak sehat antar jagal di pasar. “Yang saya tahu akhir-akhir ini harga daging ayam sekitar Rp 18 ribu perkilogram. Itu harga ke konsumen,” tambahnya.

Harga itu, aku dia, sangat berbeda dengan selisih harga di pengepul yang berasal dari peternak. “Pengepul ambil dari peternak itu selisih harga seribu hingga dua ribu. Misal saya jual Rp 12 ribu ke jagal, berarti ngambil di peternak kisaran 7-9 ribu perkilogram,” jelasnya.

Dia memperkirakan, harga ayam akan kembali stabil setelah beberapa minggu ke depan. “Kalau di pasar sudah permintaan banyak, dan itu sesuai dengan pasokan ayam dari peternak, itu bisa menyetabilkan harga lagi,” tuturnya.

Sementara itu, ketika dikonfirmasi terkait penyebab anjloknya harga daging ayam di kalangan peternak dan pasar, Plt Kepala Disperindag Jember Danang Andriasmara sedang berada di luar kantor. Dihubungi melalui telepon seluler, juga tak direspons. (*)

IKLAN

Reporter : Nur Hariri, Maulana, Mahrus Sholih

Fotografer : Nur Hariri

Editor : Bagus Supriadi