Watak Moderasi Beragama

Oleh: Dr. H. Hefni Zain, S. Ag, MM

Keragaman dan perbedaan merupakan sunatullah yang tidak dapat dielakkan dari panggung kehidupan (conditio sine quo non), karena itu salah satu tantangan serius dalam kehidupan beragama dewasa ini adalah bagaimana seorang penganut agama dapat mendefinisikan dan memposisikan dirinya secara tepat di tengah-tengah agama orang lain yang berbeda dan beragam. Lebih-lebih,  ditengah pusaran kencangnya arus global dimana persentuhan dan pergaulan antar umat beragama semakin dekat dan intens.

Watak semua agama adalah mencita-citakan kehidupan yang aman, tentram, harmoni, dan damai. Tidak ada satu agamapun yang secara teologis membenarkan pemeluknya memusuhi pemeluk agama lain. Doktrin teologis semua agama menganjurkan pemeluknya mengembangkan sikap akseptasi (kesediaan menerima keanekaragaman), apresiasi (menghargai keyakinan yang dianut kelompok lain) dan ko-eksistensi (kesediaan untuk hidup berdampingan secara rukun dan damai dengan membiarkan kelompok lain ada).

Namun demikian, kendati di kalangan umat beragama meyakini bahwa doktrin agama mereka dipenuhi pesan-pesan  persaudaraan dan kasih sayang antara sesama manusia, tetapi tidak dengan sendirinya agama menjadi garansi bagi terciptanya perdamaian. Bahkan dalam perspektif tertentu, agama seringkali mewujudkan dirinya sebagai pisau bermata dua; ia mendukung perdamaian, namun ia juga menyediakan bahan bakar untuk membrangus perdamaian manusia. atas nama agama, manusia memupuk persaudaraan dan persahabatan. Tapi atas nama agama pula manusia saling bermusuhan bahkan saling membunuh satu sama lain.

Dalam banyak kasus, umat beragama masih sulit membedakan mana doktrin agama yang bersifat normatif (dilandasi teks-teks suci) dan mana pula yang tafsir terhadap teks-teks suci (yang sarat bias kepentingan politis, sosiologis, pragmatis). Tumpang tindih antara yang konsepsional normatif dengan yang operasional interpretatif  pada wilayah keagamaan pada gilirannya menjadi embrio konflik.

Nah, untuk  menyudahi terjadinya konflik dikalangan umat beragama, sekaligus mengembalikan agama pada fungsi dasarnya sebagai payung harmoni, ketentraman dan kedamaian, maka sikap moderat dan dialog antar umat beragama menjadi urgen dikembangkan sebagai instrumen guna membuka kerangka hubungan dan kerjasama yang saling menentramkan, sekaligus sebagai upaya memperluas inklusifitas visi religiusitas kaum beragama.

Keberagamaan moderat merupakan sebuah cara beragama yang lapang dan terbuka. Sikap terbuka ini akan berdampak pada relasi sosial yang sejuk, sehat dan harmonis antar sesama penganut agama.  Hal ini  berlandaskan toleransi dan penghormatan akan kebebasan setiap orang untuk meyakini, menjalani dan mengekspresikan agama yang dianutnya, perbedaan cara beragama ini tidak boleh menjadi penghalang bagi upaya saling menghormati, menghargai, dan bekerjasama.

Keberagamaan  moderat merupakan proses transformasi dan internalisasi nilai-nilai dasar dan ideal ajaran agama yang berusaha mengaksentuasikan aspek-aspek perbedaan dan disparitas kemanusiaan dalam konteksnya yang luas sebagai suatu sunnatulloh yang mesti diterima dengan penuh kearifan  dan lapang dada di tengah kenyataan kemanusiaan yang plural dalam segala dimensinya guna mewujudkan tatanan kehidupan yang berkeadilan. Hal ini merupakan usaha komprehensif dalam mencegah terjadinya konflik antar agama, mencegah terjadinya radikalisme agama, sekaligus pada saat yang sama memupuk terwujudnya sikap yang apresiatif terhadap pluralitas dalam dimensi dan perspektif apapun, karena Islam moderat memiliki visi dan misi untuk mewujudkan agama pada sisi yang lebih santun, dialogis, apresiatif dan peduli terhadap persoalan hidup umat manusia yang komunal transformatif.

Moderasi agama merupakan salah satu pengejawantahan rahmatan lil alamin dan telah dicontohkan secara memukau oleh Rasululloh dan sahabatnya di Madinah. Itulah wajah Islam yang orisinil yakni Islam yang moderat, toleran, ramah dan akomodatif.  Model beragama seperti ini, selain secara internal dapat melahirkan konfigurasi keberagamaan yang bijak, menentramkan dan hanif sesuai fitrah asasi manusia, juga secara eksternal dapat mengkonstruk cara beragama yang lapang dan terbuka serta mengutamakan titik temu dan harmonisasi dalam membangun kehidupan majemuk sehingga keberagamaan betul-betul berfungsi secara efektif sebagai rahmat bagi seluruh mahluk Tuhan.

Sementara itu, dialog umat beragama dinilai penting untuk menyingkap ketertutupan yang selama ini menyelimuti hubungan antar umat agama. Ketertutupan hubungan antar umat beragama ditengarai mudah menimbulkan kesalah fahaman dan prasangka yang memicu hubungan tidak perfeks antar penganut agama. Untuk meminimalisir impac negatif dari ketertutupan itu, maka mentradisikan dialog dinilai strategis sebagai wahana bagi kerinduan antar umat beragama untuk bertemu secara sejati dan tidak sekedar bersifat  verbalis formalistik.

Dialog bisa diartikan sebagai pertemuan hati dan pikiran antar pemeluk agama. Dialog adalah jalan bersama untuk mencapai kebenaran dan kerjasama dalam proyek-proyek yang menyangkut kepentingan bersama. Ia merupakan perjumpaan antar pemeluk agama, tanpa merasa rendah dan tanpa merasa tinggi, dan tanpa agenda atau tujuan yang dirahasiakan. Dialog keagamaan muncul, ketika hubungan antar umat beragama mengalami keretakan dan ketegangan. Mungkin saja, ketegangan itu bukan didasarkan atas perbedaan keyakinan, karena, jika dasar teologis dan doktrinal dari agama-agama mengajarkan sikap toleransi, saling menghormati dan mencintai, maka penyebab gesekan-gesekan dan keretakan itu bisa saja terjadi sebagai akibat bias dari kepentingan politik, ekonomi, sosiologis, dan pragmatis lainnya

Konflik berlatar agama seringkali bersumber dari saling “ketidaktahuan” diantara penganut agama. Saling ketidaktahuan ini, menjadi rintangan di tengah jalan untuk mencapai saling pengertian di antara penganut agama yang berbeda. Akibat ketidaktahuan itu, maka setiap agama menerapkan standar atau kriteria untuk keyakinannya sendiri dan serangkaian standar yang berbeda untuk kepercayaan orang lain. Terjadinya dialog ada hubungannya dengan pemahaman agama orang lain yang bukan hanya memahami agama kita sendiri.

Oleh karena itu, memahami agama orang lain adalah penting bagi para pelaku dialog, sehingga tidak terjadi salah pengertian dan dialog berjalan secara harmonis, dan saling menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan nilai-nilai universal yang ada pada masing-masing agama. Sebab, kedua nilai itu merupakan ‘esensi kemanusiaan’ yang diajarkan semua agama. Untuk memahami agama orang lain itu harus bertolak dari pemahaman yang bersipat integral bukan parsial. Disini diperlukan minimal dua persiapan dialog, yakni kesiapan intelektual dan kedewasaan emosional #

*) Dr. H. Hefni Zain, S. Ag, MM, Dosen Pascasarjana IAIN Jember, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaa dan Kerjasama IAIN Jember.

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :