Hafal Setiap Rumput, Gelombang, dan Lubang di Lapangan

Kejayaan Stadion Notohadinegoro di Mata Dedi Pranata

KEMBALI KE NOTOHADINEGORO: Dedi Pranata, gelandang Persid Jember musim ini, kembali merumput di lapangan Stadion Notohadinegoro. Stadion ini sempat menjadi saksi bisu bagi dirinya kala menyabet gelar jawara bersama Jember United, 2014 silam.

RADAR JEMBER.ID – Stadion Notohadinegoro yang berada di Kreongan, Patrang, itu tak bisa dipisahkan dengan dunia si kulit bundar Jember. Dahulu, sepak bola Jember selalu identik dengan Stadion Notohadinegoro. Tapi itu dulu, kala Persid Jember masih berlaga di kompetisi Divisi Utama atau kasta kedua tahun 2013-2014 lalu ataupun Divisi Satu periode 1990 sampai 2000-an.

Kini, Jember sudah punya stadion Jember Sports Garden (JSG). Lebih megah, lebih memenuhi syarat stadion dalam laga resmi. Sejak tahun 2017 lalu, saat Persid pertama kali berkompetisi di Liga 3 setelah degradasi dari Divisi Utama tahun 2014 silam, Persid menggelar laga kandangnya di JSG.

Meski Persid Jember belum pernah mencicipi pertandingan kasta tertinggi Liga Indonesia, namun Stadion Noto, begitu tempat ini kerap disebut, menjadi saksi bisu riuh rendah antusiasme suporter dan penonton yang memadatinya. Selain tim senior Persid, beberapa klub lainnya seperti Persid Junior maupun Jember United (JU) junior dan senior pernah menggelar laga kandangnya di Stadion Noto. Salah satu kenangan paling fenomenal dari stadion yang hingga sekarang ini tak memiliki penerangan lampu itu adalah menjadi saksi bisu perjuangan skuad Jember United Junior saat memulai perjalanan awalnya dalam turnamen Piala Soeratin U-17 tahun 2014 silam.

Meski kualitas rumput lapangan dari dulu hingga sekarang masih saja keras dan bergelombang, namun bagi Dedi Pranata, salah satu pilar JU U-17 saat itu, Stadion Noto menjadi stadion keberuntungan. Apalagi, Dedi satu-satunya pemain dari skuad juara JU 2014 lalu yang bergabung dengan Persid Jember. Kini, dia sudah kembali bersama Persid Jember, yang akan berjuang di kompetisi amatir Liga 3.

IKLAN

“Dulu kalau main di sini (Notohadinegoro, Red) tim kami selalu menang. Uniknya, di babak pertama kami selalu kebobolan dulu. Tapi semangat kawan-kawan bisa come back di babak kedua,” kenang Dedi, saat ditemui Radarjember.id seusai latihan rutin Persid.

Pemuda asli Probolinggo ini bergabung bersama JU pada awal 2014. Kala itu, dia menjadi gelandang inti dari JU. Di lini tengah, Dedi bahu-membahu bersama Krisna, Achmad Kurniawan, maupun Rizki Dwi Febrianto. “Pastinya ada rasa bangga bisa bermain di stadion ini lagi, meskipun saya bukan putra daerah. Apalagi sekarang saya tak masuk tim junior lagi. Jadi, harus lebih termotivasi dan semangat ke depannya,” tegasnya.

Tahun lalu, Dedi berjersey Jember United di kompetisi Liga 3. Namun, saat bersama JU musim lalu, tim besutan Sirajuddin ini tak menggunakan laga kandangnya di Stadion Noto. Bahkan, JU menjadi tim musafir, yang home base-nya berada di Malang. Tahun 2017, Dedi bergabung dengan tim ASIFA Malang yang juga berlaga di kompetisi amatir Liga 3, sebelum akhirnya tahun ini dia kembali ke Jember bersama Persid.

Meskipun, dalam kompetisi resmi tahun ini Persid tak memakai Noto sebagai home base resminya, namun masih menggunakan Noto sebagai tempat latihan rutin. Sebab, Stadion Jember Sports Garden (JSG) lebih layak melaksanakan pertandingan resmi. “Stadion Notohadinegoro ini satu-satunya stadion yang bisa buat JU juara. Perjuangan awal kami di sini, sebelum juara tingkat nasional Piala Soeratin U-17,” papar pemuda yang mengidolakan pemain nasional, Budi Sudarsono, ini.

Sampai-sampai, pemuda berusia 21 tahun ini sangat hafal dengan kondisi lapangan Noto. Bagian mana saja yang bergelombang sampai berlubang, dia hafal betul. Bahkan, menurutnya, saat 2014 lalu, kondisi lapangannya lebih parah. “Hampir seluruh lapangan tidak ada rumputnya, cuma abu dan kerikil saja. Rumputnya botak,” tuturnya, kemudian tertawa kecil.

Sembari menunjuk ke arah bagian lapangan yang tak rata, Dedi mengaku harus berhati-hati kala bermain di kondisi lapangan seperti ini. Sebab, bagi yang tak terbiasa dan tidak tahu celanya, bisa-bisa cedera. “Alhamdulilah, saya sudah tahu kondisi lapangan di sini. Bagian pojok timur itu yang paling parah,” celetuk Dedi.

Gelandang yang memfavoritkan nomor punggung 13 ini juga belum pernah bermain dalam satu laga resmi di JSG. Sebab, semasa bersama JU junior 2014 itu, JSG belum bisa digunakan karena masih dalam tahap pengerjaan. “Kalau sebatas uji coba saja pernah main di JSG. Kalau laga resmi belum,” imbuhnya.

Disinggung mengenai siap atau tidaknya bergabung bersama Persid, dirinya menuturkan dengan dukungan ataupun tekanan dari suporter, semua itu menjadi konsekuensinya setiap pemain. Apabila pemain itu bergabung bersama klub yang memiliki basis suporter cukup besar. “Kalau soal itu kembali lagi ke diri kita sendiri. Harus percaya diri yang utama. Malah kalau ditonton banyak suporter, kita semakin semangat mainnya,” paparnya. (*)

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Muchammad Ainul Budi

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti