Efek PPDB Zonasi bagi Sekolah Swasta

Jadi Tujuan atau Sekolah Buangan?

SEPI PENDAFTAR: Suasana pendaftaran siswa baru di SMP 07 Ma’arif Perintis Tempurejo

RADAR JEMBER.ID – Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) sistem zonasi telah usai digelar. Ada pro dan kontra yang mengiringi kebijakan tersebut. Namun di Jember, sejumlah kalangan menilai sistem penerimaan berbasis jarak perlu dikaji ulang. Sebab, target pemerataan kualitas pendidikan belum dirasakan. Khususnya bagi mereka yang berada di lembaga swasta atau sekolah di daerah pinggiran.

Muhammad Museki, salah seorang guru di SMP 07 Ma’arif Perintis Tempurejo menuturkan, minat calon siswa yang mendaftar di sekolahnya tahun ini menurun dibanding periode sebelumnya. Meski jumlahnya tak terpaut jauh. Guru yang bertugas menjaga pendaftaran siswa baru itu menyebut, tahun kemarin ada sekitar 37 siswa yang mendaftar. “Sedangkan tahun ini, data terakhir jumlah pendaftar masih sekitar 20-an siswa,” tuturnya.

Dia menilai, sistem zonasi yang diterapkan pemerintah di SMP negeri belum menyentuh target utama. Yaitu pemerataan siswa yang muaranya adalah pemerataan kualitas pendidikan. Meski semula kebijakan itu membuat lembaganya optimistis, namun seiring berjalannya waktu, ternyata tak sesuai harapan. Di sekolahnya yang berada jauh dari perkotaan, siswa yang mendaftar justru menurun.

Bahkan, lanjutnya, minat anak-anak yang ingin masuk ke sekolah negeri justru semakin membeludak dengan adanya sistem zonasi itu. Para siswa dianggapnya semakin gencar memburu sekolah milik pemerintah. “Ketika banyak tidak lulus, barulah banyak yang daftar. Kadang seminggu sebelum hari masuk,” jelasnya.

Hal yang sama juga diutarakan oleh SMP swasta di kawasan perkotaan. Sistem PPDB zonasi dianggapnya menambah minat wali murid menyekolahkan anak mereka ke lembaga pendidikan negeri. Sedangkan SMP swasta masih sepi peminat. Kondisi ini yang dialami SMP Al-Aziz Kelurahan Slawu, Patrang.

Sekolah yang baru berumur 12 tahun itu mengaku kesulitan menjaring peserta didik baru. Ini karena kuatnya persaingan antarsekolah yang saat ini mulai menjamur. “Kita sudah kalah saing. Ditambah ada sistem zonasi. Jadi, sama sekali tidak berpengaruh untuk pemerataan. Justru memperparah,” ujar Hayyus Shomad Aziz Ubaidillah, Kepala SMP Al-Aziz.

Menurutnya, sekolahnya itu banyak diapit oleh beberapa lembaga yang sejenis. Semuanya bisa di tempuh dalam jarak tidak lebih dari lima menit. Seperti MTs Negeri II Jember dan SMP Negeri 7 Jember. Selain itu, ada beberapa SMP maupun MTs swasta di kawasan setempat. (*)

IKLAN

Reporter : Maulana

Fotografer : Istimewa

Editor : Mahrus Sholih