Selama 22 Tahun Membonceng Suami yang Buta ke Tempat Kerja

Endang Wijiastutik, Pensiunan Guru Selama 41 Tahun

TETAP SEMANGAT: Endang Wijiastutik saat menerima SK pensiun. Dia merasa ada keajaiban dalam mengabdi menjadi guru hingga pensiun.

RADAR JEMBER.ID – Endang Wijiastutik baru saja mendapatkan SK pensiun. Ada banyak kisah yang dialaminya.  Guru aparatur sipil negara (ASN) itu begitu gembira karena akan menikmati masa pensiun.

Pengabdian selama menjadi guru itu berakhir hingga kemarin. Dalam hati kecilnya, dia ingin penerimaan SK tersebut disaksikan suaminya, Muallim. Namun, sang suami yang menemaninya selama berjuang tak bisa ikut.

Perjalanan Endang menjadi ASN berbeda dengan para guru yang lain. Sebab, dirinya memiliki seorang suami yang juga pensiunan  guru. Bedanya, sang suami mendapat ujian, yaitu mengalami kebutaan sejak sekitar 25 tahun lalu. Tak heran, selain mengabdi pada dunia pendidikan, Endang juga harus secara total mengabdi pada suaminya yang  sedang sakit itu.

Perempuan berkerudung ini awalnya menjadi ASN pada usia 19 tahun. Yakni pada 1978 lalu. Saat itu, dia menjadi guru SDN Kesilir 2, Kecamatan Wuluhan. Tak lama kemudian, ia menikah dengan Muallim yang juga guru PNS di SMPN 2 Tempurejo.

Endang dan Muallim menjalani hidup sebagai pasangan suami istri yang berprofesi sebagai guru. Mereka hidup bahagia di Ambulu. Pagi, sama-sama berangkat ke sekolah yang berbeda untuk mengajar.

Sayangnya, tahun 1992 silam, Muallim  sakit dan mengakibatkan matanya buta. Kondisi Muallim ini membuat Endang harus bekerja keras. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Endang yang duduk sempat menghela napas panjang ketika mengingat masa-masa sulit tersebut. Sejak 1992, tugasnya dilimpahkan ke SMP Tempurejo 2 untuk mendampingi suaminya yang buta. “Suami saya tetap menjadi guru walaupun buta,” ingatnya.

Pelimpahan tugas Endang ke sekolah SMP tempat suaminya mengajar diperbolehkan. Dia menjadi guru bimbingan konseling. Sejak tahun itu, dia harus mengurus dan mendampingi Muallim yang buta ke sekolah.

Tak hanya itu, setiap pagi Endang juga harus membonceng suaminya untuk tetap bekerja dari rumahnya ke Tempurejo, tempatnya mengajar. Perjuangan tersebut terus dia lakukan dengan penuh kesabaran. “Suami saya tetap mengajar. Jadi, ke kelas diantarkan. Saya terus mendampinginya,” jelasnya.

Proses pengabdian pada dunia pendidikan dan pendampingan pada suami dilakukan selama 22 tahun dengan menjadi guru di SMPN 2 Tempurejo. Hingga akhirnya pada tahun 2013 suaminya pensiun.

Begitu suaminya pensiun, Endang dipindahkan ke SMPN 2 Ambulu. Dia mengaku bebannya menjadi guru dan menjadi ibu rumah tangga tak seberat saat 22 tahun lalu, ketika harus mengantar suaminya. “Suami saya sekarang ada di rumah. Dia sehat, tetapi matanya tak bisa melihat,” ungkapnya.

Perempuan dua anak dan dua cucu tersebut merasa, apa yang dijalaninya sebagai sebuah keajaiban yang diberikan Tuhan. Dia tak menyangka bisa menjalani cobaan itu selama 22 tahun. Endang menjadi salah satu guru ASN dengan pengabdian terlama, yaitu 41 tahun lebih. “Pesan saya, kalau jadi guru jadilah yang guru baik. Mengajar ikhlas dan jangan pernah mengambil yang bukan haknya,” pungkasnya. (*)

IKLAN

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Nur Hariri

Editor : Bagus Supriadi