Mahasiswa Polije Raih Juara Satu Nasional

Ciptakan Robot Pembantu Petani

TEKNOLOGI PERTANIAN: Tanoker_IR 64, robot yang diciptakan oleh mahasiswa Polije, menjadi solusi untuk membantu pekerjaan petani.

RADAR JEMBER.ID – Robot ini diberi nama Tanoker_IR 64. Karya mahasiswa Politeknik Negeri Jember (Polije) yang aktif dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) robot. Robot ini begitu istimewa, sebab mampu meraih juara satu pada kompetisi Kontes Robot Tematik Indonesia (KRTMI) nasional di Universitas Dian Nuswantoro, Semarang, 22 hingga 23 Juni 2019 lalu.

Robot dengan berat 1,5 kilogram ini memiliki empat roda. Ia bisa berjalan lurus, berbelok dengan cepat. Sesuai kehendak pengendalinya, melalui stik playstation robot. Menariknya, robot ini bisa  menggantikan peran petani, yakni bercocok tanam.

Bahkan, robot Tanoker_IR 64 ini juga bisa  mencabut tanaman yang dihinggapi hama. Selain itu, juga bisa memotong tanaman padi sintetis. “Kinerja robot ini seperti kegiatan petani. Mulai dari menanam, mencabuti gulma atau tanaman yang dianggap hama, serta panen dengan memotong padi,” kata Zainul Mustain, ketua tim robot Tanoker_IR 64 di KRTMI.

Kemampuan robot ini mulai dari menanam hingga panen padi ini menjadikan mahasiswa Polije sebagai tim terbaik dalam kompetisi ini. “Skor kami mutlak, karena semua proses tahapan pertanian bisa dilakukan,” tambahnya.

IKLAN

Berbeda dengan karya robot peserta lain, yang hanya bisa menanam saja. Proses panennya hanya ditabrak. Sedangkan robot Tanoker_IR 64 bisa memotong layaknya petani memanen padi.

Beni Widyawan, pendamping mahasiswa dalam pembuatan robot itu, menambahkan, Polije meraih juara pertama karena mampu menyajikan hal yang berbeda dengan peserta lainnya. Sementara itu, juara dua diraih oleh mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta. Sedangkan juara tiga diraih oleh mahasiswa Politeknik Ujung Pandang.   

Wakil Direktur III Polije Wahyu Kurnia Dewanto menambahkan, Kontes Robot Indonesia (KRI) ini terdiri atas beberapa kategori. Mulai dari Kontes Robot Abu Indonesia (KRAI), Kontes Robot Pemadam Api (KRRPAI), Kontes Robot Seni Indonesia (KRSTI), Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI), hingga Kontes Robot Tematik Indonesia (KRTMI). “KRTMI ini baru ada tahun ini dan temanya adalah pertanian. Polije mencoba membuat robot pertanian dan berhasil juara,” jelasnya.

Pria yang akrab disapa Wahyu itu mengatakan, mahasiswanya harus menggali ide yang kreatif untuk menciptakan robot di bidang pertanian. Apalagi, berkaitan dengan teknologi pertanian yang dibutuhkan Indonesia. Harapannya, bisa menjadi solusi, sebab Indonesia merupakan negara agraris.

Salah satu wadah untuk mengasah kemampuan robotika para mahasiswa adalah melalui kegiatan rutin di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) robot. “Anggota UMKM robot tidak hanya dari mahasiswa Teknologi Informasi (TI), tapi semua mahasiswa Polije,” akunya.

Dalam kontes robot di Semarang tersebut, Polije juga mengeluarkan robot pemadam api. Meskipun belum juara, namun sempat menjadi finalis. Polije juga mengirim robot Abu, masuk dalam per delapan final.  Robot sepak bola juga keluar sebagai finalis.

Wahyu mengaku, dalam pengembangan robot, ada biaya mahal. Terutama sensornya. Tak heran, beberapa robot yang sebelumnya pernah juara diutak-atik untuk memakai sensornya pada robot lainnya.

Prestasi Tanoker_IR 64 ini menjadi kebanggaan Polije, karena bisa memberikan solusi bagi sektor  pertanian. “Sejak berdiri, Polije hanya jurusan pertanian saja, tapi kini banyak jurusan. Program TI tidak mengarah ke teknologi manufaktur, tapi ke agriculture,” paparnya.

Pria asal Banyuwangi ini berharap agar robot yang meraih juara itu bisa diikutkan dalam pekan ilmiah nasional. “Harapannya tidak hanya sebagai prototipe saja. Namun dikembangkan lagi sebagai robot pertanian Indonesia,” pungkasnya. (*)

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Bagus Supriadi